Kenapa Bisa Terjadi KLB Polio di Pidie Aceh, Gejala & Penyebab?

Penulis: Yonada Nancy, tirto.id - 21 Nov 2022 11:35 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Kemenkes mengonfirmasi adanya KLB polio di Aceh menyusul temuan kasus polio yang menyerang anak usia 7 tahun di Desa Mane, Pidie, Aceh.
tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi adanya kejadian luar biasa (KLB) polio di Provinsi Aceh. Hal ini menyusul temuan kasus polio yang menyerang anak usia 7 tahun di Desa Mane, Kabupaten Pidie, Aceh.

Penyebab dan dari mana infeksi polio pada anak tersebut masih ditelusuri, namun menurut Kemenkes penderita tidak memiliki riwayat imunisasi. Penderita kini mengalami gejala polio berupa pengecilan otot paha dan betis.

"Anak itu mengecil pada bagian otot paha dan betis dan memang tidak ada riwayat imunisasi, tidak memiliki riwayat perjalanan kontak dan tidak ada perjalanan ke luar," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Maxi Rein Rondonuwu yang dikutip dari Antara, Sabtu (19/11/2022).

Penderita dikonfirmasi mengalami polio paa 7 November di setelah dirawat di RSUD TCD Sigil pada Oktober lalu. Menurut spesimen yang dikirm ke provinsi, anak itu terinfeksi polio tipe 2.


Kenapa Bisa Terjadi KLB Polio di Pidie Aceh?


Kasus polio yang baru terjadi di Pidie Aceh merupakan kasus polio pertama di Indonesia setelah delapan tahun dinyatakan bebas polio.

Menurut Maxi risiko outbreak memang bisa terjadi mengingat rendahnya cakupan imunisasi polio di dalam negeri khususnya sejak pandemi COVID-19.

"Kalau lihat cakupan oral polio virus OPV (Oral Polio Vaccine) dan IPV (Inactivated Polio Vaccine) memang seluruh Indonesia rendah terutama saat pandemi COVID-19," jelasnya.

Menurut data dari Kemenkes ada sebanyak 415 kabupaten/kota di 30 provinsi di Indonesia dengan angka imunisasi yang rendah, termasuk Aceh. Akibatnya, wilayah-wilayah tersebut masuk sebagai kriteria tinggi polio.

Selain itu, pemerintah juga mencurigai adanya cemaran virus polio di lingkungan setempat. Saat ini tim Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie tengah melacak kasus lumpuh layu lain di lingkungan sekitar.

Upaya ini termasuk pengambilan sampel tinja di wilayah terdampak, memeriksa sampel air di tempat pembuangan, dan survei cepat cakupan imunisasi.


Penyebab Penyakit Polio


Penyakit polio adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus polio yang termasuk dalam golongan Human Enterovirus. Virus polio bisa menginfeksi anak-anak maupun dewasa yang belum menerima vaksinasi.

Kebanyakan infeksi polio yang dilaporkan menyerang anak-anak balita hingga di bawah usia 13 tahun. Oleh karena itu, vaksin polio sebisa mungkin diterima sejak dini atau sebelum melakukan perjalanan di daerah risiko polio.

Penularan virus polio bisa terjadi akibat kontak dari orang ke orang. Virus ini diketahui dapat bereplikasi di dalam usus kemudian dikeluarkan melalui tinja.

Anak-anak yang terinfeksi polio liar akan mengembangkan virus tersebut di dalam ususnya kemudian dibuang sebagai tinja.

Jika tinja tersebut mencemari sumber air atau lingkungan dengan sanitasi yang buruk, maka virus akan menyebar dengan cepat ke seluruh lingkungan.

Selain itu, virus polio juga bisa menular lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi feses. Selain itu, menurut Kemenkes lalat juga bisa menjadi penular pasif yang bisa memindahkan virus polio dari feses ke makanan.


Gejala Penyakit Polio


Penyakit polio sendiri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan kelumpuhan permanen hingga kematian. Melansir Mayo Clinic penyakit polio memicu gangguan saraf di sistem motorik hingga pernapasan.

Umumnya, penderita yang terinfeksi virus polio akan mengalami gejala yang mirip dengan flu dalam setidaknya selama 2 sampai 10 hari, seperti:

  • demam;
  • sakit tenggorokan;
  • sakit kepala;
  • muntah;
  • kelelahan;
  • sakit punggung atau kaku;
  • nyeri atau kekakuan leher;
  • nyeri atau kaku pada lengan atau kaki;
  • kelemahan atau kelembutan otot.

Gejala kemudian dapat memburuk seiring berjalannya waktu ditandai dengan gangguan saraf yang memicu gejala berikut:

  • kehilangan refleks;
  • kelemahan dan nyeri otot atau sendi yang progresif;
  • lemas;
  • pengecilan otot (atrofi);
  • masalah pernapasan atau menelan;
  • gangguan pernapasan terkait tidur, seperti sleep apnea;
  • penurunan toleransi suhu dingin.


Baca juga artikel terkait KLB POLIO atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yantina Debora

DarkLight