Kenapa Bantalan Rel Kereta Api Dipenuhi Batu Kerikil?

Oleh: Adrian Samudro - 12 November 2019
Bantalan kerikil di sepanjang rel memiliki berbagai fungsi; menjaga kestabilan rel, mencegah tanaman liar, dan erosi tanah.
tirto.id - Kereta api adalah salah satu moda transportasi massal yang kian berkembang ini. Sejak pertama kali ditemukan pada 1800-an, awalnya kereta api hanya berbentuk lokomotif sederhana hingga kini sampai fase modern. Tetapi apakah para pengguna tahu fungsi bantalan bebatuan kerikil di lintasan rel kereta api?

Bantalan Kerikil Berfungsi Menjaga Rel Stabil

Dilansir dari situs Forbes, bebatuan kerikil di sekitar bantalan rel kereta api itu memiliki fungsi utama sebagai pemberat. Tujuannya agar posisi rel tetap stabil saat kereta api melintas dalam kondisi cuaca apapun.

Selain itu, kumpulan batu kerikil tersebut juga memiliki fungsi untuk menahan getaran dan mengurangi goncangan yang terjadi saat kereta api melintas di atas rel.

Jika lintasan kereta api hanya disangga oleh sepasang baja, pastinya, gaya yang dihasilkan dari kereta api takbisa diredam secara oleh rel tersebut. Dengan begitu, gaya yang ditimbulkan kemungkinan berdampak pada terjadinya pergeseran dan perubahan bentuk rel.

Bantalan Rel Kereta Api Mencegah Tumbuhnya Tanaman Liar dan Erosi


Fungsi bantalan kerikil ini tak hanya untuk menjaga kestabilan rel dan kereta api. Tapi ternyata, batu kerikil memiliki fungsi untuk menghambat pertumbuhan tanaman liar di dasar rel kereta api. Dengan tumpukan kerikil cahaya matahari terhalang untuk menyinari secara langsung tanah di bawah rel, sehingga dapat mencegah terjadinya pertumbuhan tanaman liar tersebut, sebagaimana ditulis Gizmodo.

Mengapa tanaman liar tidak dibiarkan tumbuh di bawah rel? Alasannya tanaman liar yang dibiarkan tumbuh di perlintasan itu akan menimbulkan bahaya dan menghambat laju kereta api saat berjalan.

Hal terpenting lain, bebatuan kerikil tersebut berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi tanah akibat hujan dan banjir yang dapat menyebabkan rel ambles atau anjlok, demikian ditulis Guff.


Baca juga artikel terkait KERETA API atau tulisan menarik lainnya Adrian Samudro
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Adrian Samudro
Penulis: Adrian Samudro
Editor: Agung DH
DarkLight