Kenapa 10 November Disebut Hari Pahlawan? Ini Fakta-faktanya

Penulis: Alexander Haryanto - 10 Nov 2021 09:53 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Kenapa 10 November disebut Hari Pahlawan? Berikut penjelasan dan fakta sejarahnya.
tirto.id - Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November. Lantas, kenapa tanggal itu dipilih sebagai hari yang tepat untuk mengenang para pahlawan? Barangkali ada yang bertanya demikian. Berikut fakta-fakta sejarahnya.

Hari Pahlawan Nasional ditetapkan oleh Presiden Sukarno melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional. Kebijakan itu beranjak dari peristiwa sejarah pertempuran pada 10 November 1945 di Surabaya.

Kala itu, arek-arek Surabaya berperang melawan pasukan NICA dan sekutu yang memiliki persenjataan lengkap sehingga banyak menelan korban jiwa, terutama dari kalangan rakyat biasa.

Selang setahun usai perang tersebut, Presiden Sukarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional yang dipakai untuk mengenang dan menghormati para pahlawan yang gugur di medan pertempuran.

Kendati demikian, gelar pahlawan tidak hanya ditujukan kepada mereka yang gugur dalam balutan seragam prajurit saja, tetapi juga bagi seluruh warga yang jadi korban serangan Inggris.


Sejarah Hari Pahlawan 10 November

Sekitar 3 bulan setelah Indonesia merdeka, tepatnya pukul 06.00 pagi 10 November 1945, Inggris ingin menghancurkan Surabaya melalui darat, laut dan udara. Serangan itu mengakibatkan banyak korban jiwa, terlebih dari kalangan biasa.

Pemicu dari peristiwa itu adalah tewasnya perwira kerajaan Inggris Jenderal Mallaby. Kala itu, tepatnya di bulan Oktober 1945, ia memimpin tentara sekutu ke Surabaya untuk melakukan aksi seremonial dengan berjalan ke berbagai sudut kota guna melihat situasi.

Tapi tepat pada 30 Oktober 1945, mobil yang dia pakai hangus terbakar. Penyebab meninggalnya perwira Inggris itu masih jadi perdebatan. Ada yang menyebut ia meninggal usai aksi tembak terhadap warga Surabaya.

Selain itu, sumber lain mengatakan bahwa Jenderal Mallaby meninggal akibat granat dari anak buahnya yang berusaha melindungiya. Akan tetapi, granat itu malah terkena mobil Mallaby. Akibatnya, kematian Mallaby itu pun memicu kemarahan dari tentara Sekutu.

Inggris pun mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan Surabaya. Serangan itu direspons oleh berbagai lapisan masyarakat, bukan hanya kalangan militer, tetapi dari masyarakat sipil.

Salah satunya K.H. Hasyim Asy'ari, menggelorakan perlawanan rakyat untuk menghadapi kekejaman Inggris. Para pemuda, pedagang, petani, santri, serta berbagai kalangan lainnya menyatukan nyali demi mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Infografik Fakta-fakta Sejarah hari Pahlawan
Infografik Fakta-fakta Sejarah hari Pahlawan. tirto.id/Fuad


Menurut penelitian Lorenzo Yauwerissa yang dibukukan dalam 65 Tahun Kepahlawanan Surabaya (2011), perang itu setidaknya melibatkan 20 ribu tentara dari Indonesia, sementara unsur warga sipil yang terlibat mencapai 100 ribu orang.

Hario Kecik, perwira TNI sekaligus pelaku sejarah dalam pertempuran 10 November 1945, bahkan menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan perang antara rakyat Surabaya dengan militer Inggris.

Dalam buku Pemikiran Militer 5: Gerak Maju Jalur Pemikiran Abad ke 21 Homo Sapiens Modern Kembali ke Benua Afrika (2009), Hario Kecik menulis: “Rakyat kampung-kampung Surabaya, telah mengorbankan 20.000 jiwa penduduknya dan Inggris kehilangan serdadunya dalam pertempuran dengan senjata modern pada waktu itu.”

Jumlah serdadu Inggris-India mencapai 30 ribu orang dan mereka sangat terlatih, bahkan punya persenjataan lengkap,sehingga banyak membunuh pejuang Surabaya. Ditambah lagi dengan Batalyon Infanteri Maratha yang terlatih dalam perang kota.

Sedangkan Batalyon Rajputna punya senapan mesin yang bisa memberondong banyak orang Indonesia. Sementara jumlah militer Indonesia di Surabaya secara pasti sulit ditemukan di buku-buku sejarah maupun biografi para pelakunya.

Ada pihak yang menaksir terdapat sekitar 20 ribu anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR). Meski demikian, anggota BKR biasanya bekas PETA, Heiho, KNIL dan pemuda yang tak pernah mendapat latihan militer sama sekali.

Di sisi lain, jumlah pemuda pejuang di luar BKR diperkirakan mencapai 100 ribu orang. Jadi diperkirakan kekuatan pihak Indonesia mencapai 120 ribu dengan persenjataan tak lebih 50 ribu.

“Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap. Pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang,” tulis David Wehl dalam Birth of Indonesia (1949) seperti di kutip Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda.

Dalam sejarah itu, nama Bung Tomo begitu legendaris karena dikenal sebagai pengobar semangat tempur yang bersenjatakan mikrofon.

Kala itu, ia berperan sebagai pembakar semangat lewat mikrofon dan pancaran Radio Pemberontakan milik Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) tersiar pidato-pidatonya yang menjaga moral arek-arek Suroboyo.

Selain itu, dia juga salah satu pemimpin laskar yang kemudian ditarik ke Kementerian Pertahanan.


Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN 2021 atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight