Menuju konten utama

Kenali Gejala Kanker Usus Sejak Dini

Ada beberapa gejala dari kanker ini seperti diare, tinja berlendir, nyeri rektal.

Kenali Gejala Kanker Usus Sejak Dini
Ilustrasi masalah pencernaan. Getty Image/iStockphoto

tirto.id - Senin, 27 Agustus 2018 lalu, KH Ahmad Ihsan atau yang terkenal dengan sebutan Ustaz Cepot meninggal dunia. Ia meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pukul 11.00 akibat menderita kanker usus. Kanker usus tak hanya merenggut nyawa Ustaz Cepot saja. Pada 2013 lalu, desainer Ramli Sarwi Gozali Kartiwidjojo juga meninggal setelah mengidap kanker usus stadium empat sejak tahun 2009.

Apa itu Kanker Usus?

Menurut laman Centers for Disease Control and Prevention kanker usus atau yang biasa disebut kanker kolorektal merupakan kanker yang dimulai di usus besar (kolon) atau rektum (ujung usus besar). Kanker ini banyak menyerang mereka yang berusia lebih dari 50 tahun.

Mulanya, kanker kolorektal ini bermula pada lapisan kolon atau rektum, pertumbuhan ini disebut sebagai polip. Dari berbagai jenis polip, ada beberapa tipe yang bisa berpotensi menjadi kanker, tergantung dari jenis polipnya. Di usus besar, ada polip jenis hiperplastik inflamasi. Polip jenis ini umum ditemui, dan biasanya bukan merupakan polip pra-kanker. Ia berbeda dengan adenomatous (adenoma), polip yang berpeluang menjadi kanker sehingga disebut kondisi pra-kanker.

Ada berbagai macam faktor lain yang bisa meningkatkan risiko polip menjadi kanker, misalnya ketika besar polip lebih dari 1 cm, jika terdapat dua atau lebih polip, atau jika terlihat adanya displasia pada polip setelah polip dihilangkan.

Displasia merupakan sebuah kondisi pra kanker, yang menunjukkan adanya area pada polip atau pada lapisan kolon atau rektum dimana sel terlihat tidak normal, namun tak terlihat seperti sel kanker.

Pada studi yang dilakukan oleh Barbara-Ann Adelstein, dkk (PDF) berjudul “Most bowel cancer symptoms do not indicate colorectal cancer and polyps: a systemic review”, ditemukan bahwa gejala gangguan usus yang paling umum dilaporkan adalah penurunan berat badan. Penurunan berat badan ini terjadi pada 20% pasien kanker.

“Secara keseluruhan, hanya [gejala] pendarahan dan penurunan berat badan yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kanker,” tulis Barbara-Ann, dkk.

Senada dengan Barbara-Ann, dkk, Sumit R. Majumdar pernah melakukan penelitian berjudul “How Does Colorectal Cancer Present? Symptoms, Duration, and Clues to Location” (PDF) yang dilakukan bersama 2 orang rekannya. Saat itu, mereka meneliti 204 pasien kanker kolorektal, dengan mendata 15 gejala dan karakteristik dari tumor. Hasilnya, mereka menyebutkan gejala pendarahan pada rektum (58 persen), nyeri perut (52 persen), dan perubahan kebiasaan buang air besar (51 persen), sebagai gejala yang paling sering dialami.

Majumdar mengatakan, kanker kolorektal dianggap sebagai akibat dari adenomakarsinoma, yang membutuhkan waktu 10 tahun sejak awal munculnya polip hingga terjadinya kanker simptomatik.

“Hasil dari analisis faktor yang menunjukkan gejala dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama meliputi anorexia, mual, muntah, sakit perut, atau kelelahan; yang kedua meliputi konstipasi atau obstructive symptoms, dan ketiga meliputi diare, tinja berlendir, nyeri rektal, atau tenesmus,” tulis Sumit R. Majumdar, dkk.

Dalam penelitian tersebut mereka menemukan median durasi tiap gejala berbeda-beda. Misalnya pada pendarahan rektal, rata-rata waktu responden mengalami gejala pendarahan rektal adalah dua bulan. Namun, seperempat pasien didiagnosis menderita kanker pada satu bulan sejak awal kanker, sedangkan seperempat pasien lainnya mengalami pendarahan rektal hingga 5 bulan sebelum terdiagnosis.

Infografik Kanker Usus Besar

Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Menilik situs American Cancer Society (PDF), ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat terkena penyakit kanker kolorektal. Ada 2 kelompok besar dari faktor risiko kanker kolorektal, yakni faktor gaya hidup dan genetik.

Dalam artikel di American Cancer Society tersebut, mereka menyebutkan bahwa orang yang memiliki kelebihan berat badan (obesitas) lebih berisiko terkena kanker kolorektal. Selain itu, kanker kolorektal juga lebih rentan terjadi pada orang yang jarang beraktivitas.

Kita pun hendaknya memperhatikan makanan yang kita konsumsi. Ada beberapa jenis makanan dapat meningkatkan risiko penyakit ini, seperti daging merah (daging sapi, babi, domba) atau jeroan. Tak hanya itu, makanan dengan daging olahan seperti hot dog rupanya juga bisa meningkatkan faktor risiko kanker kolorektal. Perhatikan pula saat memasak daging. Memasak daging pada suhu tinggi seperti menggoreng dan memanggang, dapat pula meningkatkan risiko kanker kolorektal.

Selain itu, kebiasaan merokok dan minum alkohol juga merupakan faktor risiko kanker usus. Oleh karena itu, jika Anda punya kebiasaan meminum alkohol, janganlah berlebihan.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan lainnya dari Widia Primastika

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani