Kenali Crab Mentality: Rasa Iri Terhadap Kesuksesan Orang Lain

Oleh: Ahmad Efendi - 15 Mei 2020
Dibaca Normal 1 menit
Crab Mentality dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti cemburu, malu, dendam, harga diri yang rendah, hingga sifat kompetitif.
tirto.id - Pernahkah Anda mengamati kepiting-kepiting dalam sebuah ember? Kaki dan tangan mereka saling menarik satu sama lain apabila salah satu kepiting hampir mencapai ujung ember.

Mungkin mereka punya tujuan baik, karena tidak ingin ada satu kepiting yang keluar kemudian menjadi santapan hewan lain. Dibanding bertahan hidup atau melarikan diri dari kelompoknya, kepiting memilih untuk mati bersama.

Namun, sikap kepiting yang saling menarik satu sama lain juga sering dianalogikan sebagai
pola pikir egois dan iri terhadap kesuksesan orang lain. Dalam istilah psikologi disebut sebagai crab mentality atau mentalitas kepiting.

Dilansir dari Psychology Today, crab mentality adalah analogi dari perilaku egois dan iri terhadap kesuksesan orang lain. Maka dari itu, ketika salah satu di antara kepiting itu berusaha keluar, kepiting lainnya berusaha menahan kepiting tersebut.

Perilaku ini mungkin kerap Anda lihat di dunia nyata ketika beberapa orang dalam suatu kelompok mencoba menjatuhkan orang (yang juga satu kelompok dengan mereka) mengalami kemajuan. Beberapa contoh perilakunya adalah mengkritik, meremehkan, hingga memanipulasi orang.

Mentalitas kepiting mungkin dapat diartikan sebagai: “Jika saya tidak dapat memilikinya, Anda pun tidak bisa.” Contoh lain dari crab mentality mungkin dapat dilihat saat Anda bersekolah dan teman mengajak untuk tidak ikut kelas tertentu agar mereka tidak membolos sendirian.

Situasi ini tidak jarang membuat Anda kesulitan untuk merasa tulus menghargai pencapaian teman sendiri. Maka itu, crab mentality menimbulkan perasaan iri melihat kesuksesan orang lain, sehingga mencoba membuat orang tersebut berada di level yang sama.

Faktor penyebab munculnya crab mentality

Ada beberapa hal yang menyebabkan fenomena crab mentality ini terjadi. Salah satunya, seperti dikutip dari Develop Good Habits, adalah ketergantungan manusia dalam hidup berkelompok.

Umumnya, manusia bergabung satu sama lain untuk memudahkan mereka mencapai tujuan bersama. Sementara itu, hidup berkelompok juga berarti akan ada persaingan dalam hal makanan dan pasangan.

Sementara melansir Psychology Today, mentalitas kepiting dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti cemburu, malu, dendam, harga diri yang rendah, hingga sifat kompetitif.

Crab mentality menghasilkan hubungan yang tidak sehat dalam sebuah kelompok karena tidak akan menguntungkan siapa pun. Kritik terhadap kesuksesan dan kebahagiaan orang lain tidak akan benar-benar mengangkat Anda ke level yang sama meskipun terasa seperti itu.

Walaupun sindrom ini menghasilkan perasaan positif terhadap orang yang melakukannya, tidak menutup kemungkinan efeknya tidak berlangsung lama. Pasalnya, akan selalu ada orang yang lebih kaya, pintar, dan beruntung dari orang lain.

Lantas bagaimana kita menanganinya?

Berdasarkan paparan dari Develop Good Habits, sindrom ini bisa terjadi kepada siapa saja, dan dari kelompok sosial mana saja. Maka, untuk mengatasinya, paling tidak seseorang harus bisa “menahan diri” dan lapang dada serta ikut bergembira dengan kesuksesan yang orang lain raih.


Baca juga artikel terkait CRAB MENTALITY atau tulisan menarik lainnya Ahmad Efendi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight