Menuju konten utama

Kenali Beda Vaginosis dan Vaginitis Serta Penyebabnya

Vaginosis menyebabkan seseorang mengalami infeksi vagina sedangkan vaginitis adalah peradangan pada vagina yang mungkin disebabkan oleh vaginosis bakterial atau faktor lain seperti alergi, iritasi, atau penurunan hormon estrogen perempuan.

Kenali Beda Vaginosis dan Vaginitis Serta Penyebabnya
Ilustrasi Vagina. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Keputihan menjadi masalah yang sering dihadapi oleh sebagian perempuan. Keputihan bisa terjadi karena berbagai faktor, di antaranya vaginosis dan vaginitis.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan terdapat 21,2 juta kasus gangguan vagina pada perempuan berusia 14 hingga 49 tahun di Amerika Serikat, yang disebabkan oleh vaginosis bakterial.

Mengenal vaginosis

Vaginosis adalah penyebab utama dari bau dan keputihan yang terjadi pada vagina.

Vaginosis menyebabkan seseorang mengalami infeksi vagina. Dilansir dari Harvard Health, infeksi ini disebabkan oleh perubahan jenis bakteri yang ada di vagina, seperti bakteri lactobacillus.

Bakteri ini merupakan bakteri baik yang dapat menghasilkan bahan kimia untuk mempertahankan tingkat keasaman pada vagina.

Namun,pada kondisi vaginosis, bakteri lactobacillus digantikan oleh jenis bakteri lain yang biasanya hadir dalam konsentrasi yang lebih kecil di vagina.

Vaginosis bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti sering berganti-ganti pasangan seks, hingga penggunaan alat kontrasepsi IUD.

Meskipun sebagian besar faktor risiko ini terkait dengan aktivitas seksual, perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual juga dapat terjangkit bakteri vaginosis.

Vaginosis sering terjadi selama masa kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan persalinan prematur, pecah ketuban dini, dan infeksi rahim postpartum.

Seringkali perempuan yang mengidap vaginosis tidak memiliki gejala. Menurut Harvard, 50 persen perempuan yang didiagnosis dengan kondisi ini tidak merasakan gejala tertentu.

Namun, di beberapa kasus, kondisi ini menyebabkan bau vagina yang tidak enak dan keluarnya cairan dari vagina yang berwarna kuning atau putih.

Keputihan yang terlihat pada vaginosis bakteri cenderung lebih tipis daripada keputihan pada infeksi ragi vagina (candida).

Selain itu beberapa perempuan mengaku ada gejala-gejala yang mengganggu selama atau setelah hubungan seksual.

Meskipun begitu vaginosis bakterial biasanya tidak menyebabkan iritasi signifikan pada vulva atau rasa sakit selama hubungan seksual.

Mengenal vaginitis

Meski terjadi di organ yang sama, vaginosis berbeda dengan vaginitis. Menurut American Association for Clinical Chemistry (AACC) vaginitis adalah peradangan pada vagina yang mungkin disebabkan oleh vaginosis bakterial atau faktor lain seperti alergi, iritasi, atau penurunan hormon estrogen perempuan.

Seorang yang mengalami vaginistis biasanya akan mengalami beberapa gejala seperti penambahan jumlah cairan di vagina, keputihan, bau, gatal, nyeri ketika berhubungan intim atau buang air kecil, hingga bercak darah dan pendarahan ringan di vagina.

Para ahli masih belum menemukan bagaimana cara untuk mencegah seseorang terkena vaginosis maupun vaginitis.

Namun, setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko terserang penyakit ini, seperti:

    • Tidak mandi secara berlebihan
    • Menghindari produk-produk higienis feminin, sabun wangi, dan bahan iritasi kimia potensial lainnya
    • Menghindari pakaian terlalu ketat dan pakaian dalam sintetis yang dapat menyebabkan vagina lembab
    • Tidak melakukan hubungan seks yang berisiko, seperti berganti-ganti pasangan serta tidak menggunakan kondom
    • Selalu menjaga kebersihan

Baca juga artikel terkait VAGINA atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Nur Hidayah Perwitasari