Menuju konten utama

Kenaikan Harga BBM dan Suku Bunga BI jadi Musuh Sektor Properti

Adri Istambul Lingga Gayo mengungkapkan, sektor properti masih akan menghadapi sejumlah tantangan berat di masa depan.

Kenaikan Harga BBM dan Suku Bunga BI jadi Musuh Sektor Properti
Pekerja berjalan di proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (10/2/2022). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

tirto.id - Komite Perizinan Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) DPP Real Estate Indonesia (REI), Adri Istambul Lingga Gayo mengungkapkan, sektor properti masih akan menghadapi sejumlah tantangan berat di masa depan.

Pemicu utama adalah saat pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM dan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan ke level 3,75 persen. Kedua hal ini akan menjadi musuh sektor properti karena dapat menggerus daya beli masyarakat.

“Untuk KPR komersil sekarang ini, untuk 3 bulan pertama ini memang suku bunga kan belum terasa impactnya terhadap suku bunga KPR ya, tapi dengan adanya inflasi ataupun stagflasi yang terjadi di AS ini kan mungkin akan berimbas ke Indonesia," ujar dia kepada Tirto, Senin (19/9/2022).

"Kenaikan suku bunga The Fed di AS sekarang sudah menjurus ke stagflasi tentunya akan merembet ke Asia dan Indonesia tentunya. Bagaimana BI sekarang juga otomatis akan menaikkan suku bunga, bank-bank sekarang kan sudah mulai menaikkan suku bunga minimumnya. Ini tentu akan ber-impact terhadap suku bunga KPR,” sambungnya.

Adri menjelaskan, permasalahan lain timbul imbas dari naiknya harga komoditas yang dipicu kenaikan harga BBM. Kondisi ini akan memicu inflasi yang akan mempengaruhi purchasing power.

“Nah, sehingga akan jadi satu titik kurva yang dimana ketersediaan KPR dengan bunganya naik, kemudian daya beli masyarakatnya semakin lemah sehingga praktis tentu daya serap ini akan berkurang,” kata dia.

Ia menjelaskan, saat ini akhirnya masyarakat akan fokus untuk memenuhi konsumsi, baru akan akan berpikir pada investasi. Meskipun rumah termasuk kategori kredit consumer, masyarakat perlu diedukasi agar bisa lebih efisien menyimpan dan membelanjakan uangnya.

“Gini daripada dia mendepositokan uangnya, mending diinvestasikan ke rumah saja. Jadi dengan inflasi yang sekarang ada, kemudian dengan suku bunga deposito itu masih menguntungkan untuk berinvestasi di emas dan rumah. Karena kenaikannya pasti 10 kali daripada deposito untuk durasi waku 10 tahun, jadi kita sarankan masyarakat agar lebih produktif dan memang kalau dari sisi sektor masyarakat menengah sampai atas impactnya mungkin baru bisa terasa di Desember, “ kata dia.

Tekanan Akan Terasa pada Desember 2022

Adri mengatakan, masyarakat kelas menengah ke bawah perlu berhati-hati menjelang akhir tahun. Pasalnya, bantalan sosial tidak lagi bisa diharapkan. Sementara bagi kelas menengah ke atas perlu berhati-hati agar tabungan tidak tergerus.

"Kalau menengah ke bawah, ini langsung terdampak meskipun ada bantalan sosial itu, itu dikonsumsi kan, Kalau menengah ke atas, meskipun tidak ada bantalan kan masih ada savings, tapi ini akan berbahaya ketika nanti makin banyak pengangguran,” kata dia.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka sektor industri properti harus menghadapi kenaikan kredit macet. Ia meminta pemerintah bisa mengatur bank yang saat ini mengatur bunga KPR agar tidak agresif untuk menaikkan bunga KPR.

“Kalau kita tak berhati hati maka, dengan kenaikan suku bunga yang tidak bisa diredam oleh BI ini misalnya, ini akan terjadi pada sektor properti, ini namanya crash property. Tapi gini, kebutuhan rumah ini jadi kebutuhan yang utama, makanya harapannya, pemerintah bisa meng-hedging untuk spread-nya ditahan lah, agar bank bank yang menyalurkan KPR harus lebih efisien jangan langsung menaikkan suku bunganya,” tandas dia.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI PROPERTI atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Anggun P Situmorang