Kemenkeu Sebut Defisit Anggaran 2019 akan Melebar ke 2-2,2 Persen

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 25 Oktober 2019
Kemenkeu memproyeksikan defisit anggaran tahun ini melebar hingga 2-2,2 persen dari PDB atau lebih tinggi dari posisi defisit tahun sebelumnya 1,87 persen dan meleset dari outlook APBN 2019 sebesar 1,93 persen.
tirto.id - Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit anggaran tahun ini akan melebar hingga 2-2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau lebih tinggi dari posisi defisit tahun sebelumnya 1,87 persen dan meleset dari outlook APBN 2019 sebesar 1,93 persen.

“Ini perkiraan defisit 2-2,2 persen dari PDB sampai akhir tahun. Ini karena ketidakpastian tinggi,” ucap Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Luky Affirman dalam konferensi pers di Kemenkeu Jumat (25/10/2019).

Luky menjelaskan proyeksi defisit anggaran yang melebar disebabkan adanya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut, lanjutnya, bisa berdampak terhadap penerimaan negara, terutama dari sektor industri dan ekspor.

Meski begitu, pemerintah tidak berdiam diri. Menurut Luky, pemerintah tengah berupaya memberi stimulus agar ekonomi tetap menggeliat. Stimulus-stimulus ini cukup beragam, mulai dari yang berkaitan dengan riset sampai pelatihan tenaga kerja dan vokasi.

“Bentuknya ini intervensi, kami berikan stimulus dengan cara implikasi defisit agar ekonomi tetap bergerak,” tuturnya.

Dalam keadaan defisit yang melebar, Luky juga memastikan pemerintah tidak akan melakukan pemotongan anggaran. Alasannya selama ini belanja kementerian lembaga (K/L) jarang ada yang menyentuh realisasi 100 persen.

Dia menilai selama ini pemerintah menerapkan prinsip belanja untuk keperluan produktif. Artinya, selama dapat memberikan manfaat buat ekonomi, pemotongan anggaran tidak diperlukan.

“Yang quality spending enggak diganggu tapi kami dorong. Kami dorongnya belanja produktif,” ucap Luky.

Untuk menutup defisit anggaran yang melebar, Kemenkeu akan terus menerbitkan surat utang negara (SUN). Langkah ini diambil untuk untuk menjaga penerimaan dan belanja negara dan diberi istilah counter-cyclical.

Belum lama ini ada dua SUN yang diterbitkan dalam dua valuta asing (dual-currency) berdenominasi US Dollar dan Euro, masing-masing sebesar 1 miliar dolar AS untuk tenor 30 tahun dan 1 miliar euro untuk tenor 12 tahun.


Baca juga artikel terkait DEFISIT ANGGARAN INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Ringkang Gumiwang
DarkLight