Kemenkes: Skrining Adiksi Pornografi Untuk Cegah Kekerasan Seksual

Oleh: Alfian Putra Abdi - 22 Februari 2019
Kemenkes memiliki program pencegahan dan pemulihan yang diberi nama skrining adiksi pornografi.
tirto.id - Kementerian Kesehatan menilai salah satu munculnya kekerasan seksual disebabkan karena pelakunya memiliki kecanduan pornografi. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Eni Gustina, ketika menghadiri diskusi "Merespons Dinamika Masyarakat Terhadap RUU PKS" di kantor Kementerian PPPA, Jakarta Pusat, Jumat (22/2/2019).

Oleh karena itu, Eni mengatakan Kemenkes memiliki program pencegahan dan pemulihan yang diberi nama skrining adiksi pornografi. Program ini bisa dilakukan melalui online atau mendatangi rumah sakit.

"Kalian bisa cek kalau ingin tahu apakah sudah adiksi pornografi atau belum. Ada pertanyaan-pertanyaan yang sudah diuji. Tools ini diisi oleh tim ahli yang terdiri dari ahli kesehatan jiwa, psikolog, dokter umum, dan satu lagi lupa saya," ujarnya pada Tirto di Jakarta Pusat, Jumat sore.

Dari pertanyaan yang terjawab akan muncul poin-poin yang menurutnya mengacu pada nilai tertentu. Hal tersebut akan menentukan seberapa parah level kecanduan yang bersangkutan. Apakah berada pada grade 1, 2, atau 3.

"Jika sudah mengetahui adiksi atau tidak, kami akan rekomendasikan untuk terapi atau rehabilitasi. Supaya ia tidak adiksi, karena kalau dibiarkan maka akan berpotensi "mengejar" orang," ujarnya.

Proses rehabilitasi tergantung yang bersangkutan sejauh mana level kecanduannya. Skrining adiksi pornografi menjadi penting. Sebab seseorang yang dibiarkan kecanduan pornografi akan menjurus ke tindakan selanjutnya.

Ia memberi contoh, semisal pecandu itu memiliki cukup uang maka ia akan memilih ke tempat prostitusi, jika tidak maka ia akan memperdaya pihak yang lemah demi memuaskan berahinya dan yang terparah, akan bermuara pada tindak pemerkosaan.

"Itu yang mendasari kami mengapa skrining ini menjadi penting untuk menghindari kekerasan seksual," ujarnya.

Sayangnya, sejauh ini rumah sakit yang melayani program tersebut hanya sedikit. Sedangkan untuk biayanya sendiri, ia tidak mengetahuinya.

"Yang saya tahu persis yang bisa skrining itu di Rumah Sakit Cibubur karena direkturnya sendiri yang mengajak kami melakukan skrining bersama-sama," tandasnya.


Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Alexander Haryanto