Menuju konten utama

Kemenkes Antisipasi Lonjakan Kasus BA.4 & BA.5 pada Juli 2022

Kemenkes akan menggalakkan tindakan melakukan tes COVID-19 (testing) dan penelusuran kontak erat (tracing) dan kesiapan faskes.

Kemenkes Antisipasi Lonjakan Kasus BA.4 & BA.5 pada Juli 2022
Petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan melakukan tes antigen kepada Warga Negara Indonesia (WNI) yang pulang dari Sarawak, Malaysia di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Senin (25/4/2022). ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/YU

tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengatakan bahwa mereka memiliki sejumlah langkah untuk mengantisipasi lonjakan kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di bulan Juli 2022. Salah satunya yaitu dengan menggalakkan tindakan melakukan tes COVID-19 (testing) dan penelusuran kontak erat (tracing).

“Kementerian Kesehatan telah membuat surat edaran kepada seluruh pemerintah daerah [pemda], dinas kesehatan, serta rumah sakit yang berisikan perintah serta panduan bagi pemda, dinas kesehatan, dan rumah sakit agar mempersiapkan sarana dan prasarana layanan kesehatan menghadapi potensi lonjakan kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5,” jelas Juru Bicara atau Jubir Kemenkes, Mohammad Syahril kepada Tirto, Senin (4/7/2022) siang.

Lanjut dia, Kemenkes juga terus memonitor perkembangannya, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dan rumah sakit (RS). Mulai dari tenaga kesehatan, tempat tidur isolasi, obat-obatan, hingga alat pelindung diri (APD).

“Testing dan tracing juga terus digalakkan Kementerian Kesehatan,” kata Syahril.

Selain itu, dia menyebut bahwa vaksinasi COVID-19 dosis lengkap atau dosis kedua dan dosis ketiga (booster) juga dikejar cakupannya oleh pemerintah. Terutama untuk mengejar cakupan booster sampai minimal 50 persen dari target populasi umum dan 70 persen di populasi rawan atau berisiko.

“Masyarakat juga diminta untuk tetap meningkatkan kewaspadaannya melalui disiplin protokol kesehatan, melakukan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujar Syahril.

Adapun kata dia, masyarakat diimbau agar menghidupkan kembali telemedisin (telemedicine) bagi pasien COVID-19 yang sedang isolasi mandiri (isoman). “Karena memudahkan masyarakat, jadi enggak harus datang ke RS untuk mendapatkan layanan dokter dan obat,” terang Syahril.

Baca juga artikel terkait LONJAKAN KASUS COVID-19 atau tulisan lainnya dari Farid Nurhakim

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Restu Diantina Putri