Kemenhub Wacanakan O-Bahn, Memang Bisa Atasi Kemacetan?

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 25 Juni 2019
Dibaca Normal 1 menit
Pengadaan moda transportasi baru di kota-kota besar dinilai belum tentu dapat mengatasi kemacetan jika tak disertai kebijakan pendukung.
tirto.id - Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mewacanakan sistem transportasi publik bernama O-Bahn sebagai solusi mengatasi kemacetan di sejumlah kota di Indonesia. Wacana ini sekaligus menjadi jawaban Budi Karya terhadap permintaan Presiden Joko Widodo untuk mencari solusi mengatasi kemacetan.

Konsep O-Bahn merupakan perpaduan Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rail Transit (LRT), bus memiliki jalur khusus sehingga terhindar dari arus kemacetan jalan biasa. Konsep ini nantinya diterapkan di sejumlah kota besar seperti Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Palembang, Yogyakarta, dan sejumlah kota lainnya.

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri menjelaskan nantinya ada lajur khusus seperti rel atau terowongan sehingga bus tersebut terhindar dari kemacetan. Zulfikri juga menyebut O-Bahn dapat mengangkut penumpang lebih banyak dari BRT dengan daya tampung yang sama.

"Bus TransJakarta, kan, di beberapa tempat ikut arus macet bisa 30 km per jam. Ini O-Bahn kecepatan rata-rata 60 km per jam," ucap Zulfikri, Ahad (24/6/2019) seperti diberitakan Antara.


Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi yakin O-Bahn dapat menggaet masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi. Ia beralasan O-Bahn memiliki jalur khusus yang lalu lintasnya lebih minim terganggu kemacetan. Alhasil waktu tempuh O-Bahn bisa lebih cepat dan bisa melayani penumpang lebih banyak dari BRT.

"Ini kami baru wacana belum dihitung pastinya, tapi teoritisnya begitu," ucap Budi kepada reporter Tirto saat ditemui di kantornya, Senin (24/6/2019).

Untuk tiket, Budi berkata pemerintah bisa mensubsidi tiket agar lebih menarik minat masyarakat, bahkan bisa dibuat semurah mungkin seperti Transjakarta. "Supaya meringankan ongkos transportasi masyarakat," ujarnya.

Tak Jamin Atasi Kemacetan


Namun, Pengamat Tata Kota dan Dosen Planologi Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna menilai O-Bahn belum tentu menjadi jaminan mengatasi kemacetan di sebuah kota. Menurut Yayat, terlepas apa pun bentuk transportasi yang akan diterapkan, kemacetan tidak akan usai bila pemerintah tak mampu menekan kendaraan pribadi melalui peralihan ke angkutan publik.

Yayat mencontohkan transportasi publik di Singapura seperti Mass Rapid Transit (MRT) yang dibuat senyaman dan semurah mungkin. Ia mengatakan hal itu membuat hampir seluruh masyarakat beralih ke transportasi publik.

"Jadi mampu tidak dia jadi daya tarik orang tinggalkan kendaraan pribadi. Bukan ada atau tidak ada O-Bahn," ucap Yayat saat dihubungi reporter Tirto, Senin (24/6/2019).

Yayat juga mengingatkan kosep O-Bahn justru berpotensi memberi efek macet lantaran mengambil jalur kendaraan pribadi. Meskipun dalam konsepnya diklaim akan menggunakan jalur khusus, ia mengatakan tak menutup kemungkinan ada jalan raya yang turut digunakan untuk lalu lalang O-Bahn.

"Lalu apakah [O-Bahn] ini menggunakan jalan [biasa] juga? Mungkin saja ini tergantung pada jalan-jalan di tiap kota,” ujarnya.


Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas juga sependapat pembuatan moda transportasi baru di kota-kota besar belum tentu bisa mengatasi kemacetan jika tak disertai kebijakan pendukung semisal penerapan pembatasan kendaraan pribadi hingga tarif parkir mahal.

"Kalau enggak begini, sepeda motor dan mobil masih bebas, ya, orang akan tetap milih itu [menggunakan kendaraan pribadi]," ucap Darmaningtyas saat dihubungi reporter Tirto.

Meski begitu, Darmaningtyas mendukung bilamana rencana ini dapat diterapkan di daerah-daerah yang belum memiliki transportasi umum. Ia mengatakan O-Bahn menguntungkan lantaran kapasitasnya lebih besar dari BRT dan inventasinya lebih murah dari LRT.

Hanya saja, Darmaningtyas memberi catatan terkait ketertiban pengemudi O-Bahn. Ia mengatakan pengemudi mesti berhati-hati bila jalur khusus O-Bahn saat bersimpangan dengan jalan biasa.

"Ya, pengguna jalan lainnya harus tertib karena kalau tidak akan banyak kecelakaan mengingat di setiap persimpangan daerah seringkali tidak ada palang pintunya," ucap Darmaningtyas.

Baca juga artikel terkait TRANSPORTASI UMUM atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Gilang Ramadhan