Menuju konten utama

Kemendag Klaim Stok Kedelai Cukup, Harganya Naik Jadi Rp9.500/kg

Kemendag menjamin stok kedelai masih cukup untuk produsen tahu tempe selama dua-tiga bulan ke depan.

Kemendag Klaim Stok Kedelai Cukup, Harganya Naik Jadi Rp9.500/kg
Pekerja memasukan kedelai ke dalam mesin penggiling saat proses pembuatan tahu di pabrik tahu di kawasan Utan kayu, Jakarta Timur, Jumat (7/9/2018). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Kementerian Perdagangan mengkaim stok kedelai cukup untuk kebutuhan industri tahu dan tempe nasional. Maka dari itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto meminta kepada para produsen tetap produksi agar tahu dan tempe tetap tersedia untuk masyarakat.

“Kementerian Perdagangan terus mendukung industri tahu tempe Indonesia,” kata Suhanto di Jakarta, pada Kamis (31/12/2020).

Hal itu Suhanto sampaikan menjawab kekhawatiran Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) yang berencana mogok usai bahan baku sulit dan harga kedelai mahal.

Suhanto mengatakan, berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo), stok kedelai di gudang importir sekitar 450.000 ton.

“Apabila kebutuhan kedelai untuk para anggota Gakoptindo sebesar 150.000-160.000 ton/bulan, maka stok tersebut seharusnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan 2-3 bulan mendatang,” ujar dia.

Meski stok kedelai dalam negeri aman, harga kedelai impor mengalami kenaikan. Suhanto menjelaskan, kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuaian dari Rp9.000/kg pada November 2020 menjadi Rp9.300—9.500/kg pada Desember 2020 atau sekitar 3,33—5,56 persen.

“Dengan penyesuaian harga, diharapkan masyarakat akan tetap dapat mengonsumsi tahu dan tempe yang diproduksi oleh pengrajin,” kata dia.

Menurut Suhanto, kenaikan itu terjadi karena pada Desember 2020 harga kedelai dunia tercatat sebesar USD 12,95/bushels, naik 9 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat USD 11,92/bushels.

Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar 461 USD/ton, naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 435 USD/ton.

“Faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia,” jelas dia.

Pada Desember 2020 permintaan kedelai Tiongkok naik 2 kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah. Hal itu mengakibatkan hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.

“Untuk itu perlu dilakukan antisipasi pasokan kedelai oleh para importir karena stok saat ini tidak dapat segera ditambah mengingat kondisi harga dunia dan pengapalan yang terbatas,” jelas Suhanto.

Suhanto berharap importir terus memasok kedelai secara kontinu kepada anggota Gakoptindo dengan tidak menaikan harga. Berdasarkan data BPS, saat ini harga ratarata nasional kedelai pada Desember 2020 sebesar Rp11.298/kg. Harga ini turun 0,37 persen dibanding November 2020 dan turun 8,54 persen dibandingkan Desember 2019.

“Kami mengapresiasi para anggota Gakoptindo yang tetap berproduksi dan telah membantu masyarakat dengan terus memasok tahu dan tempe untuk kebutuhan gizi terjangkau di saat pandemi ini,” tutup Suhanto.

Para pengusaha tempe dan tahu anggota Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) berencana mogok produksi pada 1-3 Januari 2021. Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin dalam surat edarannya menyampaikan aksi ini dilakukan untuk menyikapi harga kedelai yang terus naik dan berdampak kepada biaya produksi maupun harga jual tempe dan tahu.

"Kami pengurus Gakoptindo mendukung langkah dan upaya yang dilakukan PUSKOPTI DKI Jakarta dan Jawa Barat untuk melakukan mogok produksi, dengan tujuan agar kenaikan harga tempe dan tahu bisa kompak," ujar Aip dikutip dari surat edaran Gakoptindo yang, Rabu (30/12/2020).

Baca juga artikel terkait IMPOR KEDELAI atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Bisnis
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Gilang Ramadhan