Kembalinya Harley Davidson

Pengendara motor gede mengenakan kostum wayang orang mengikuti pawai menuju candi borobudur saat perayaan hut harley davidson club indonesia (hdci) kedu di magelang, jawa tengah, (30/7). Antara foto/hendra nurdiyansyah.
Oleh: Suhendra - 20 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Kurang dari sepuluh bulan setelah diler lamanya, Mabua, angkat tangan mengurus distributor dan importir motor gede ini, beberapa diler mencoba peruntungan melanjutkan estafet Harley Davidson sebagai authorized dealer di Jakarta.
tirto.id - Tongkrongan gagah Softail Fat Boy, Softail Slim Special 1800 cc, Sportster Forty-Eight 1200 cc, hingga Street 500 cc berjejer dalam ruang kaca di gedung berlantai 5 di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Inilah deretan tipe motor gede (moge) Harley Davidson dari yang termahal hingga paling murah di markas baru Harley Davidson di Jakarta.

Melalui bendera PT. Nusantara Moto International, bisnis Harley-Davidson setidaknya bisa tetap mengaspal di Indonesia dengan diler barunya. Nusantara bukan perusahaan kemarin sore dalam urusan bisnis otomotif. Sejak 1975, ia menjadi importir mobil dengan merek Morina, Chevrolet, Citroen, dan Alfra Romeo. Pada 2011, Nusantara ditunjuk BMW Indonesia sebagai exclusive partner penjualan Mini Cooper.

Tapi Nusantara juga bukan satu-satunya diler Harley Davidson di Jakarta. Ada bendera Anak Elang Harley-Davidson di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sepeninggal Mabua, diler lama Harley Davidson, moge merek ini tak lagi bisa dimonopoli karena diler bisa dikembangkan oleh banyak entitas bisnis. Konsep berubah, dari distributorship jadi dealership.

"Harley-Davidson kembali berbisnis di Indonesia setelah absen 10 bulan. Selama waktu itu, kami bekerja keras untuk menyegarkan jaringan diler kami dan dengan senang hati mengumumkan bahwa kami sedang membangun jaringan baru diler independen di Indonesia,” kata Peter Mackenzie, Managing Director Harley-Davidson Asia Emerging Markets dalam pernyataan resminya.

Langkah berani para diler baru seperti Nusantara menandakan bisnis moge Harley-Davidson di Indonesia belum habis dan masih menjanjikan. Namun, sebagai barang mewah yang harganya tidak murah, Harley Davidson tak mudah dijual dalam jumlah besar, dan ini menjadi tantangan bagi diler-diler baru.

“Dalam bisnis segala mesti dicoba kami mengambil peluang itu, pasar motor besar Harley Davidson masih ada dan berkembang,” kata I Dewa Made Wirya Atmaja, General Manager Nusantara Harley-Davidson of Jakarta kepada tirto.id.

Sedikitnya, ada kurang lebih 6.000 unit populasi moge Harley Davidson di Indonesia. Populasi sebesar ini setidaknya bisa menopang bisnis service, sparepart, aksesori, merchandise, dan pastinya penjualan unit moge. Di bengkel Radio Dalam milik Nusantara misalnya, tersedia dua bengkel perawatan di lantai dasar dan di lantai tiga yang sanggup menerima servis 10-15 unit Harley-Davidson per hari. Kehadiran diler resmi tentu jadi angin segar bagi para pemilik moge di Jakarta, sepeninggal Mabua.



Menyerahnya Mabua

Awal 2016 jadi momen paling tragis bagi dunia otomotif di tanah air. Setelah pengumuman hengkangnya Ford Indonesia di akhir Januari, berselang beberapa pekan setelahnya PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia, pemegang distribusi dan importir Harley Davidson mengibarkan bendera putih. Keputusan ini tentu sangat berat bagi Mabua yang sudah berbisnis moge Harley Davidson hampir 20 tahun, bahkan sudah melakukan proses perakitan motor di Indonesia.

Sebelum langkah strategis ini, Mabua Harley Davidson menutup pabrik perakitannya di Indonesia yang terletak di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Pabrik ini berproduksi sampai Desember 2014. Lesunya pasar otomotif di dalam negeri ditenggarai salah satu penyebab penutupan pabrik perakitan Harley Davidson.

Kondisi pasar yang tak bersahabat bagi bisnis moge di tanah air sudah terlihat dari awal 2014. Penjualan Harley Davidson Mabua Harley Davidson Medan (MHDM) melesu terimbas kenaikan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn BM) dan melemahnya nilai tukar rupiah yang membuat bengkak harga impor moge. PPnBM moge yang awalnya 75 persen, naik menjadi 125 persen pada April 2014.

Pada 2014, MHDM mematok target penjualan 120 unit, tapi penjualan hingga paruh pertama 2014 tak sampai setengahnya. Padahal tahun sebelumnya ada 114 unit Harley Davidson terjual di Sumatera saja.

Dengan kenaikan PPnBM itu, harga satu unit Harley-Davidson berbagai tipe rata-rata naik sekitar Rp100 jutaan akibat dari kebijakan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 64/PMK.011/2014 tersebut. Namun, bagi Nusantara Harley Davidson, pajak tinggi moge bukanlah persoalan.

“Kalau orang punya kekuatan finansial yang cukup, dia akan tetap beli, mereka memahami itu,” kata Dewa optimistis.

Potensi pasar dan purnajual Harley Davidson di Indonesia diyakini masih menjanjikan. Moge seperti Harley memang masih termasuk barang mewah, tapi penjualan moge sekarang didukung perusahaan pembiayaan (leasing), sehingga bisa dibayar secara kredit. Ini akan membantu penjualan moge di Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas.

Misalkan tipe Harley Davidson Softail Fat Boy on the road di DKI Jakarta dibanderol Rp866 juta, maka peminat moge cukup menyediakan Rp251 juta untuk cicilan pertama, dan selanjutnya Rp19 juta per bulan selama 4 tahun. Bagi yang kantongnya lebih tipis, Street 500 cc seharga Rp308 juta bisa jadi pilihan. Cicilannya Rp6,7 juta per bulan untuk masa kredit 4 tahun, plus uang muka pertama Rp92 juta.

“Ada orang punya keinginan, kenapa nggak leasing saja, cara ini mempermudah memiliki Harley Davidson,” katanya.

Diler baru Harley Davidson boleh saja optimistis, tapi cerita pahit Mabua yang sudah mengasuh bisnis Harley Davidson belasan tahun di Indonesia, bisa jadi gambaran sulitnya mengelola bisnis Harley Davidson. Untuk menangkis pesimisme, sebaiknya diler-diler baru seperti Nusantara atau Anak Elang Harley-Davidson mengingat slogan Harley-Davidson Inc.

"Screw It. Let's Ride."

Baca juga artikel terkait MOTOR GEDE atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Otomotif)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight