Kematian Tragis Seorang Ajudan, Pierre Tendean

Pierre Andreas Tendean. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 19 September 2017
Dibaca Normal 2 menit
Dua bulan sebelum waktu pernikahannya, Pierre dikira Nasution sehingga dibawa ke Lubang Buaya dan dibunuh di sana.
tirto.id - Bulan September 1965 nyaris berakhir. Masa lajang Pierre Tandean masih tersisa dua bulan. Dia akan mempersunting Rukmini Chaimin, gadis cantik di Medan yang dikenalnya kala ia menjadi Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II Bukit Barisan.

Saat bertugas di sana pulalah terjadi konfrontasi dengan Malaysia. Pierre pernah ikut menyusup ke seteru jiran itu. Dengan modal wajah bulenya, ia diharapkan bisa mengelabui aparat dan disangka sebagai turis. Namun, Pierre ditarik dari front dan dijadikan ajudan menteri pertahanan, Jenderal Abdul Haris Nasution, di Jakarta. Jauh dari Rukmini.

Baca Juga: Abdul Haris Nasution Si Penggagas Dwifungsi ABRI

“Dia pula satu-satunya Ajudan Jenderal A.H. Nasution yang masih bujangan,” tulis Masykuri dalam Pierre Tendean (1983). Sebagai ajudan, Pierre tinggal di rumah besar Nasution pula di Jalan Teuku Umar 40, Jakarta.

Pierre adalah putra dari dokter A.L. Tendean yang asal Manado dan Maria Elizabeth Cornet yang Indo-Perancis, sehingga ia mewarisi wajah Kaukasian. Pierre selalu jadi perhatian para gadis.

“Sejak menjadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), Letnan Satu Pierre telah menjadi pusat perhatian gadis-gadis remaja,” tulis Masykuri.

Sewaktu belajar di Atekad Bandung yang terletak di daerah Panorama, Pierre bahkan sempat dijuluki "Robert Wagner dari Panorama."

Waktu jadi taruna, Pierre pernah ikut tugas praktik lapangan dalam operasi militer penumpasan pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Pangkatnya kala itu adalah kopral taruna.

Tanggal 30 September tahun 1965 tahun itu jadi 30 September yang tak biasa bagi ibu Pierre. Biasanya Pierre berada di Semarang ketika ulang tahun ibunya. Tapi tidak hari itu. Tugas negara yang harus dijalani Nasution, dan ia harus dijaga, membuat Pierre menunda kepulangannya ke Semarang. Malam Jumat 30 September 1965 itu pun dilaluinya di rumah Nasution.

Ketika titimangsa berubah menjadi 1 Oktober 1965, rumah Nasution kedatangan pasukan Gerakan 30 September 1965, yang di antaranya berasal dari kesatuan pengawal Presiden Cakrabirawa.

Menurut buku rilisan Sekretaris Negara, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasan (1994), penculikan Nasution dipimpin oleh Pembantu Letnan Dua (Pelda) Djaharup dan pasukan yang dipimpin Djaharup berkekuatan satu kompi bersenjata disertai satu peleton milisi sipil komunis pro-G30S.

Baca Juga: Cerita Seputar Para Penculik G30S

Kedatangan pasukan Djaharup itu tentu membikin gaduh rumah Nasution dan ikut membangunkan Pierre. Setelah senapan Garand diisi, Pierre pun menuju sumber kegaduhan. Sialnya, dia disambut dengan todongan senapan banyak penculik bersenjata.

Karena kalah jumlah, Pierre pun menyerah. Melihat potongan Pierre dalam gelap, pasukan penculik mengiranya sebagai Jenderal Nasution. Pierre pun dibawa. Sementara itu, Jenderal Nasution berhasil melompati tembok dalam kegelapan dan tak pernah ditemukan oleh para penculik.

Meski mengerahkan banyak pasukan, sasaran culik tak didapat oleh Djaharup. Rombongannya hanya menewaskan seorang Brimob bernama Karel Satsuit Tubun—yang berjaga di rumah Leimena—ketika hendak menjemput Jenderal Nasution.

Selain itu, pasukan penculik juga membuat Ade Irma Suryani Nasution, putri Nasution, sekarat.
Pierre pun seolah jadi serep bagi Nasution. Tak mendapatkan Nasution tentu membikin jengkel Djaharup. Dia satu-satunya komandan tim penculik yang gagal mendapatkan sasarannya. Tim penculik lain berhasil, meski tiga di antaranya dibawa dalam kondisi mati.



Pierre dibawa ke Lubang Buaya dan bertemu jenderal-jenderal seperti Suprapto, Sutoyo, dan Parman yang masih hidup, serta Ahmad Yani, D.I. Pandjaitan, dan MT Haryono yang sudah terbunuh. Di Lubang Buaya, Pierre ditembak mati dan bersama yang lain, dan dimasukkan ke sumur tua.

Menurut Pahlawan Center, “di tempat ini ia disiksa bersama perwira-perwira Angkatan Darat lainnya yang berhasil diculik dan dibunuh oleh PKI.” Namun, nyatanya, para penculik adalah anggota Angkatan Darat yang diperintah oleh Letnan Kolonel Untung yang juga berasal dari Angkatan Darat.

Pierre, prajurit tampan itu, mati karena disangka sebagai atasannya. Ia meninggalkan ibunya yang berduka setelah hari ulang tahunnya, juga calon istri yang menantinya di Medan.

Setelah kematiannya, pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi kapten. ia juga digelari sebagai Pahlawan Revolusi. Di masa Orde Baru, namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan di banyak kota Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight