17 Agustus 1988

Kematian Presiden Pakistan di Tengah Perang Dingin

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah, tirto.id - 17 Agu 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Zia ul-Haq tewas di tengah Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet.
tirto.id - Presiden Pakistan Muhammad Zia ul-Haq dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja ke Bawahalpur pada 17 Agustus 1988. Kota ini terletak di selatan dan berjarak 600 km dari Islamabad, ibu kota Pakistan.

Dua agenda penting telah menantinya. Pertama, bertemu dengan pemuka agama setempat pada pagi hari. Kedua, siang harinya menghadiri demonstrasi alutsista Angkatan Darat Pakistan.

Sebanyak 17 orang lainnya ikut dalam kunjungan tersebut. Mereka adalah para pejabat tinggi negara, jenderal angkatan bersenjata, duta besar AS untuk Pakistan, dan atase militer AS. Keikutsertaan orang AS untuk menyaksikan demonstrasi alutsista sebagai bentuk kerja sama antara Pakistan dengan militer Paman Sam.

Setelah kegiatan selesai, rombongan bergegas pulang ke Islamabad dengan pesawat yang sama ketika datang, yakni Hercules C-130. Semua perhitungan standar aviasi telah dilakukan. Mulai dari mesin pesawat, cuaca, sampai awak kabin dinyatakan tidak ada masalah.

Pada pukul 15.40, pesawat lepas landas dari Bandara Bawahalpur. Perjalanan akan ditempuh selama lebih kurang 7 jam dan diperkirakan akan tiba di Islamabad sekitar pukul 23.00. Namun, belum sampai 15 menit setelah meninggalkan landasan pacu, menara ATC mengabarkan pesawat hilang kontak.

Tidak lama kemudian tersiar kabar bahwa pesawat VVIP itu meledak di udara dan hancur berkeping-keping. Presiden Zia ul-Haq dan rombongan dinyatakan tewas seketika.

Sejumlah media melaporkan terdapat keganjilan dalam peristiwa ini. Harian New York Times, misalnya, menyebut “Zia dari Pakistan Terbunuh” karena sabotase.


Sosok Kontroversial

Zia ul-Haq memulai karier militer ketika diangkat sebagai tentara India pada 1945. Medan tempur pertama pria kelahiran 12 Agustus 1924 adalah di Asia Tenggara.

Kepiawaiannya membuat kariernya moncer. Dilansir Britannica, pada 1966-1972, Zia ditempatkan di berbagai resimen dan korps militer. Pada 1976, Perdana Menteri Pakistan Zulfikar Ali Bhutto mengangkatnya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Namun, posisi ini tidak membuatnya loyal terhadap Ali Bhutto. Orang nomor satu di Angkatan Darat Pakistan ini bermanuver melawan bosnya sendiri. Setahun setelah dilantik, tepatnya pada 5 Juli 1977, Zia ul-Haq menggulingkan Ali Bhutto.

Ia awalnya menyebut dirinya sebagai Kepala Administrator Darurat Militer. Namun kemudian bertindak sebagai penguasa negara. Zia mengganti konstitusi dengan menghapus jabatan perdana menteri, dan mendeklarasikan diri sebagai Presiden Pakistan ke-6.

Sejak saat itu, tulis Shahid Javed Burki, dkk dalam Pakistan Under the Military: Eleven Years of Zia ul-Haq (1991), dimulailah era militerisme untuk kesekian kalinya di Negeri Seribu Cahaya.

Sejak berkuasa sampai akhir hayatnya, Zia melakukan berbagai kontroversi. Zulfikar Ali Bhutto, pengkritik paling keras rezim Zia, digantung pada 1979. Ia juga pernah membubarkan parlemen, serta membungkam oposisi dan pers.

Selain itu, Zia juga menerapkan islamisasi di seluruh negeri. Aturan hukum dan norma sosial harus berlandaskan hukum Islam. Atas sikap otoriter ini muncul berbagai kelompok penentang kepemimpinannya, termasuk gerakan yang dilakukan oleh pengikut Ali Bhutto.

Berbeda dengan situasi di dalam negeri, di luar negeri Zia ul-Haq justru disegani oleh para pemimpin Barat. Alasannya karena Zia mengambil sikap berbeda dengan Ali Bhutto--pemimpin yang membuat hubungan Pakistan dengan Barat memanas.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu sedikit melunak dalam program nuklir Pakistan. Dan yang terpenting turut mengecam invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada Desember 1979.

Menurut Craig Baxter dalam “The Unites States and Pakistan: The Zia Era and the Afghan Connection” (1991), sikap ini membuat AS di bawah kepemimpinan Ronald Reagan, menjadikan Pakistan sebagai mitra strategis di Asia Selatan.

Kebijakan AS ini bertujuan untuk memperluas pengaruhnya di Asia Selatan sekaligus membendung hegemoni Uni Soviet. Tak heran jika AS kemudian mengucurkan bantuan besar-besaran ke Pakistan. Hal ini membuat persaingan AS-Soviet di Asia Selatan semakin memanas.


Masih Misteri

Menurut New York Times, Pentagon menyebut bahwa Hercules C-130 yang membawa Zia dan rombongan adalah pesawat canggih pada masanya. Pesawat VVIP ini juga seperti biasa melakukan pemeriksaan ketat sebelum mengudara.

Seandainya ada gangguan teknis mendadak di udara, pesawat tidak akan meledak begitu saja dan pilot pasti mengirim sinyal darurat terlebih dahulu. Dari sini muncul pelbagai spekulasi, di antaranya ditembak rudal, disusupi bom, dan diberi gas beracun.

Berdasarkan hasil investigasi Pemerintah Pakistan pada Oktober 1988, jatuhnya pesawat kemungkinan besar disebabkan oleh sabotase. Seperti dikutip Dawn, kesimpulan ini didapat dari hasil pemeriksaan terhadap puing-puing pesawat dan jasad korban. Seluruhnya tidak ada indikasi terkena rudal, kebakaran, dan kegagalan teknis.

Namun, pada serpihan pesawat ditemukan unsur kimia yang tidak lazim berada di pesawat. Terdapat jejak bahan peledak bernama pentaerythritol tetranitrate (PETN), residu antimon, dan fosfor.

Infografik Mozaik Muhammad Zia ul-Haq
Infografik Mozaik Muhammad Zia ul-Haq. tirto.id/Ecun


“Zat kimia itu dapat digunakan sebagai gas beracun yang dapat membuat pilot tidak mampu menerbangkan pesawat dan menewaskan orang di pesawat. Cepatnya gas menyebar membuat tidak ada orang yang punya waktu mengenakan masker oksigen,” tulis laporan tersebut.

Lagi-lagi, laporan ini menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, saksi mata melihat pesawat meledak di udara. Bukan jatuh lalu meledak ketika menghantam tanah.

Anak Zia ul-Haq, Ijaz ul-Haq, belakangan juga menyampaikan kepada Anadolu Agency bahwa pesawat itu dimasuki bom yang disisipkan di peti mangga. Ini menjadi alasan logis dari sebab pesawat meledak di udara.

Terlepas dari itu, tidak terungkap juga siapa dalang peristiwa ini. Dalam laporan Washington Post, dugaan terkuat mengarah pada Uni Soviet dan intelijennya, KGB.

Hubungan Soviet-Pakistan memang memanas setelah negara komunis itu mendapat kecaman Zia saat mengacak-acak Afghanistan. Bagi Soviet, menurut Robert D. Kaplan di New York Times, Pakistan adalah musuh terbesarnya di negara dunia ketiga.

Sepuluh hari sebelum Zia ul-Haq tewas, Wakil Menteri Luar Negeri Soviet mengancam “akan memberi pelajaran kepada Zia jika tidak menghentikan dukungannya terhadap perlawanan mujahidin.”

Kecaman ini kemudian menjadi indikasi keterlibatan Soviet dalam kematian Zia. Meski begitu, Uni Soviet menolak keras tuduhan dan menyatakan tidak terlibat dalam meledaknya pesawat Hercules C-130.

Hingga 34 tahun setelah Zia berpulang, penyebab dan dalang kematiannya masih disemuti misteri.

Baca juga artikel terkait PAKISTAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight