Kematian Lord Didi Kempot Membuat Kita Ambyar

Oleh: Zakki Amali - 6 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Ciri khas lagu Didi Kempot melekatkan kisah cinta manusia pada sebuah terminal, stasiun hingga pelabuhan sebuah kota.
tirto.id - “Mas Didi tidak mengeluh sakit apa pun. Sejak kemarin siang di Solo, malah nungguin Mas Ige ngedit video klip sampai sekitar jam 21.00-an. Hingga tadi pagi, dapat kabar Mas Didi dilarikan ke RS Kasih Ibu, dan dinyatakan wafat sebelum sampai UGD.”

Kondisi Didi Kempot sebelum meninggal diungkapkan Blontank Poer, seorang yang dekat dengan Didi Kempot, via Facebook. Dalam ingatannya, Didi Kempot tak pernah mengeluh sakit apa pun. Ketika kabar meninggal itu datang, ia bergegas ke rumah sakit melihat Didi Kempot untuk kali terakhir.

Didi Kempot meninggal saat berusia 53 tahun. Ia dikebumikan di Ngawi, Jawa Timur di dekat pusara anak dari istri pertamanya, Saputri. Dari pernikahannya dengan Saputri, Didi punya tiga anak, dua di antaranya meninggal.

Didi Kempot menikah untuk kali kedua dengan seorang penyanyi dangdut bernama Yan Vellia dan dikaruniai dua orang anak yang kini masih kecil.

Blontank Poer menyebut, Didi merupakan seorang muslim yang dermawan. Ia membangunkan masjid untuk istrinya di Ngawi yang disebut Didi taat dalam beribadah.

“Kalau bukan karena banyak wiridan Mbak Putri (istrinya), mungkin saya tidak sekuat sekarang, Mas. Alhamduillah selalu diparingi sehat dan kuat oleh Gusti Allah,” kata Didi Kempot kepada Blontank dalam berbagai kesempatan.

Meninggalnya Didi Kempot seolah menggenapi kesedihan tahun ini di mana dunia, terutama Indonesia, dilanda wabah virus SARS-CoV-2. Tapi Didi Kempot tidak meninggal karena Corona. Ia tiba-tiba masuk rumah sakit kemarin pagi, beberapa menit kemudian ia meninggalkan dunia fana ini.

Terlepas dari penyebab kematiannya, Didi Kempot adalah bagian dari perjalanan manusia meninggalkan dunia yang fana menuju alam abadi dalam keyakinannya.

Didi Kempot dikenal ramah kepada siapa saja dan luwes menempatkan diri saat tampil untuk bernyanyi.

Belakangan Didi Kempot terlibat dalam kampanye publik untuk menggalang dana bagi masyarakat di sebuah stasiun televisi swasta. Ada sekitar Rp7,6 miliar terkumpul untuk sembako bagi lebih dari 33.000 penerima.

Ragam bantuannya kepada pemerintah tampak saat ia terlibat dalam instansi pemerintahan memerangi penyalahgunaan narkoba.

Pemerintah juga terbantu musim pandemi lewat lagu ‘Ojo Mudik’ (jangan mudik) yang mungkin jadi lagu terakhirnya. Sebelum pandemi, ada keinginan dari Presiden Joko Widodo menyosialisasikan ideologi Pancasila ke Sobat Ambyar, nama fans Didi Kempot.


Kehidupan bagai Bianglala

Didi Kempot punya nama asli Dionisius Prasetyo. Nama bekennya didapatkan dari kehidupannya saat susah.

Kala itu Didi adalah seorang pengamen yang mencari nafkah dari satu bus ke bus lain di berbagai terminal. Grup pengamennya bernama Kelompok Penyanyi Trotoar (Kempot). Nama tenarnya terkenang sampai sekarang.

Didi lahir di Solo, 31 Desember 1966 dari keluarga seniman. Ayahnya Ranto Gudel adalah pemain ketoprak. Kakaknya, Mamik Prakoso, seorang komedian. Keduanya telah meninggal.

Setidaknya selama 30 tahun berkarya sebagai seniman campursari, Didi Kempot sangat produktif; menciptakan lebih dari 800 lagu; sebagian besar menggunakan bahasa Jawa. Hanya sedikit yang populer, tapi cukup untuk membawanya ke ‘kehidupan kedua’ sebagai seniman.

Ratusan lagunya berbahasa Jawa telah menarik minat dari fans seantero negeri. Seorang anak Papua, bernama Ayub Antoh, menyanyikan lagu Jawa dengan fasih di sebuah acara musik di Solo.


Lagunya berciri khas kisah kasih tak sampai yang ditambatkan pada sebuah tempat persinggahan seperti terminal, pelabuhan dan stasiun; lambang transportasi wong cilik yang melekat dengan kehidupan Didi dari pengamen jalanan ke panggung musik dunia.

Dari Stasiun Balapan di Solo ke Terminal Kertonegoro Ngawi; Pelabuhan Tanjung Mas ke Tirtonadi, Didi Kempot menulis kisah manusia yang dikhianati, menanti tanpa kepastian, dan mencintai tanpa berbalas. Kisah cinta wong cilik tergambar dalam lagunya.

Beberapa tahun terakhir kehidupan Didi Kempot berbalik setelah promosi tanpa disengaja diperolehnya. Ia mendapat julukan ‘Godfather of Broken Heart’ oleh fansnya dari kalangan milenial. Mereka menamakan diri sadboys dan sadgirl yang dikenal sebagai Sobar Ambyar.

YouTuber di Jakarta, Gofar Hilman, turut andil dalam mempromosikannya lewat wawancara di Solo. Popularitas Didi Kempot setelahnya melejit. Ia tampil dalam festival musik perkotaan Syncrhronize 2019 di Jakarta. Dari sana, fansnya dari milenial bertambah.

Para milenial terwakili lewat lagu Didi Kempot seperti Terminal Kertonegoro; menceritakan pengkhinatan cinta. Simak reff-nya:

Neng dalan anyar kowe karo sopo, aku ngerti dewe neng ngarepe moto. Neng dalan anyar kowe karo sopo, neng kulon terminal Kertonegoro....Ngawi..” (Di jalan baru kamu dengan siapa. Aku lihat sendiri di depan mata. Di jalan baru kamu sapa siapa, di barat terminal Kertonegoro Ngawi).

Atau bisa menyimak lagu ‘Pamer Bojo’ yang digandrungi karena reff membentuk koor rancak ‘cendol dawet’. Dalam lirik aslinya tak ada reff itu, tapi bagi Didi Kempot penambahan reff tak patut disoal.

Sikap legawa itu telah terbukti membawa Didi Kempot ke puncak karier. Ia telah meninggalkan warisan lagu yang menjejak di ‘1.000 kota’ dan ‘1.001’ hati fans di seluruh Indonesia. Kepergiannya membuat kita ambyar.


Baca juga artikel terkait DIDI KEMPOT atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Musik)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight