Keluarga Pebisnis & Konglomerat di Balik Bisnis Gibran dan Kaesang

Oleh: Fahri Salam - 7 Desember 2020
Dibaca Normal 8 menit
Kedua putra Presiden Jokowi memiliki 24 perusahaan. Ada nama keluarga Gandi Sulistiyanto dan TP Rachmat yang menyokong dan terafiliasi dengan bisnis mereka.
tirto.id - “Kami berdua membesarkan nama kami sendiri tanpa embel-embel orang tua meski orang pasti mengaitkan hal itu,” klaim Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo. “Kami anggap itu sebagai bonus. Kami berdua tetap kerja keras.”

Omongan Gibran itu meluncur dalam satu acara keluarga Presiden Jokowi bersama media di Bogor pada Desember 2018. Gibran dan adiknya, Kaesang Pangarep, bersikukuh bisnis mereka bukan dibangun berkat nama besar bapaknya, orang nomor satu di negeri ini. Namun, melihat perkembangan pesat bisnis keduanya, serta ada beberapa keluarga konglomerat di balik kiprah bisnis mereka, nyaris mustahil menjauhkan faktor anak presiden dari cerita ini.

Baik Gibran maupun Kaesang, dalam catatan kami, memiliki 24 perusahaan. Puluhan bisnis yang mereka bangun sejak 2010 ini mayoritas bermain dalam pasar kuliner, selain sisanya perusahaan rintisan digital dan platform penyokong startup.

Baru-baru ini, bisnis kuliner Gibran Rakabuming bernama Mangkok Ku menerima suntikan dana tahap awal (seed funding) sebesar 2 juta dolar AS atau setara Rp28,3 miliar dari salah satu firma modal ventura bernama Alpha JWC Ventures. Gibran berkata dana segar ini, di antara hal lain, akan dipakai untuk membuka gerai-gerai baru. Dari langkah bisnis ini, Alpha JWC berhak atas sebagian saham perusahaan.

Mangkok Ku adalah restoran rice bowl di bawah bendera PT Pemuda Cari Cuan, dengan Gibran dan Kaesang sebagai komisaris. Dua nama lain di belakangnya adalah juri MasterChef Indonesia Arnold Poernomo dan pengusaha Randy Julius Kartadinata, yang menulis dirinya tenaga ahli DPR Komisi Hukum PDI Perjuangan. Randy juga terlibat dalam bisnis makanan ayam goreng bernama Gaaram bersama kedua putra Jokowi itu.

Alpha JWC Ventures juga menginjeksi 5 juta dolar AS (setara Rp70,5 miliar) kepada bisnis Gibran bernama Goola pada 2019. Pada bisnis gerai minuman tradisional ini, Gibran bekerja sama dengan Kevin Susanto, mantan penyanyi rohani cilik, masing-masing menyetorkan saham senilai Rp200 juta dan Rp300 juta di bawah bendera PT Kuliner Global Sejati. Di perusahaan ini juga ada pengusaha muda solo bernama Arif Setyo Budi (saham senilai Rp200 juta); dan Benz Budiman (saham senilai Rp300 juta), CEO startup advertising tech bernama Pomona.

Alpha JWC Ventures, yang mengenalkan diri investor untuk startup berbasis teknologi, didirikan oleh Jefrey Joe, Will Ongkowidjaja, dan Chandra Tjan pada 2015. Setahun berikutnya, maskapai modal ventura ini menggelontorkan 50 juta dolar AS kepada 23 perusahaan di Asia Tenggara, sebagian besar di Indonesia, mencakup startup seperti Kopi Kenangan, Lemonilo, Tanifund, Tanihub, Kredivo, UangTeman, Style Theory, dan Bobobox.

Alpha JWC bukan satu-satunya entitas investor yang memodali bisnis Gibran dan Kaesang. Penelusuran Tirto lewat sedikitnya 36 dokumen perusahaan yang bisa diakses publik, tersedia di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, ada keluarga-keluarga konglomerat dan pebisnis yang bekerja bareng kedua putra Jokowi itu untuk berdagang di pasar gurih startup digital yang ekspansif dalam soal bakar uang.

Keluarga Konglomerat Merapat

Publik umumnya telah mengenal bisnis mebel Presiden Jokowi bernama PT Rakabu Sejahtra, yang terafiliasi dengan PT Toba Sejahtra milik Luhut Panjaitan. Cerita Jokowi berkongsi bisnis dengan Luhut bermula pada 2007 saat masih menjabat Wali Kota Solo lewat teman satu alumni Fakultas Kehutanan UGM, Bambang Supriyambodo. Di Rakabu, Jokowi telah menempatkan Kaesang Pangarep, anak bungsunya yang kini berumur 25 tahun, sebagai komisaris pemilik 51% saham senilai Rp16,2 miliar.

Namun, berkebalikan dari usaha tradisional bapaknya, Gibran Rakabuming dan Kaesang lebih dikenal sebagai pengusaha beragam bisnis kuliner. Pada 2010, saat berusia 23 tahun, Gibran memulai usaha katering bernama Chili Pari. Pada 2015, kakak-adik ini mendirikan Markobar. Dua tahun kemudian, mereka membangun Sang Pisang. Ketiga bisnis kuliner ini kemungkinan sudah familier.

Gibran dan Kaesang mengklaim bisnis mereka berkembang tanpa ada peran pengaruh politik bapaknya. Namun, dari penelusuran Tirto, ada irisan peran Jokowi saat menjabat presiden, mendekatkan kedua putranya dengan sumber-sumber pendanaan yang menggerakkan usaha rintisan makanan dan minuman mereka yang lain.

Irisan pengaruh politik Jokowi dan bisnis anaknya itu bisa dilihat dari perusahaan bernama Harapan Bangsa Kita, yang menjadi induk usaha untuk sejumlah bisnis kuliner yang dijalankan oleh Gibran dan Kaesang.

Dikenal sebagai GK Hebat, perusahaan induk berkantor di Generali Tower, kawasan bisnis Gran Rubina, Jakarta Selatan, ini membawahi Sang Pisang, Yang Ayam, Ternakopi, Siap Mas, Let’s Toast, dan Enigma Camp, serta menjalin kemitraan bisnis dengan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.

GK Hebat berdiri pada akhir 2019 dari kongsi tiga perusahaan, masing-masing PT Siap Selalu Mas milik Gibran dan Kaesang; PT Wadah Masa Depan yang terafiliasi dengan keluarga Gandi Sulistiyanto (Direktur Utama Sinar Mas); dan PT Gema Wahana Jaya milik keluarga Theodore Permadi Rachmat, satu dari 50 orang terkaya di Indonesia. Di GK Hebat, Anthony Pradiptya menjabat direktur dan Kaesang sebagai komisaris.

Anthony Pradiptya, umur 34 tahun, adalah putra Gandi Sulistiyanto. Di PT Wadah Masa Depan, ia menjabat direktur utama, sementara Gibran sebagai komisaris utama dan Kaesang sebagai direktur. Ada juga Wesley Harjono (39), menantu Sulistiyanto, sebagai komisaris. Keluarga Sulistiyanto membangun perusahaan induk dalam bidang energi, infrastruktur, properti, dan digital lewat PT Gan Konsulindo (dikenal juga Gan Kapital) pada 2011.

PT Gan Kapital memakai layar ketiga lewat PT Sinergi Optima Solusindo, unit bisnis strategisnya, dengan memiliki saham senilai Rp50 juta di PT Wadah Masa Depan. Sinergi Optima Solusindo, dalam keterangan website resmi Gan Kapital, adalah perusahaan konsultasi bisnis yang melayani kebutuhan digital venture, energi, dan sebagainya. Wesley dan Anthony menjabat direktur dan komisaris di PT Sinergi. Nama Gandi Sulistiyanto muncul sebagai pemegang saham di PT Gan Kapital, bersama kedua anaknya, Anthony (Direktur Utama) dan Edwin Prasetya (Direktur). Sementara Wesley Harjono menjabat Direktur Keuangan.

Sulistiyanto adalah pebisnis yang punya karier bagus di Sinar Mas sejak bergabung pada 1992. Ia menjabat Direktur Utama Grup Sinar Mas sejak 2002 dan Wakil Ketua Umum Eka Tjipta Foundation, organisasi nirlaba keluarga Widjaja, pendiri Sinar Mas. Sinar Mas adalah perusahaan konglomerasi yang punya ratusan unit usaha, dari bisnis bubur dan kertas, sawit, perbankan, sekuritas dan asuransi, telekomunikasi, properti, hingga infrastruktur dan pertambangan batubara. Eka Tjipta Widjaja, yang meninggal dunia dalam usia 98 tahun pada Januari 2019, adalah satu dari lima orang terkaya di Indonesia.

Selain perusahaan keluarga Sulistiyanto, ada PT Aldiracita Sekuritas Indonesia yang memiliki saham senilai Rp29,6 juta di PT Wadah Masa Depan. Perusahaan terbuka ini beralamat di Sinar Mas Land Plaza Menara III, Jakarta Pusat. Aldira Sekuritas punya anak usaha bernama PT Surya Timur Alam Raya (STAR Investment) di mana Frenky Loa adalah komisaris utamanya. Frenky Loa juga menjabat komisaris utama di PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, perusahaan kemasan kertas dan karton Grup Sinar Mas.

Afiliasi lain, PT Aldiracita Sekuritas Indonesia memiliki saham senilai Rp10,7 juta di PT Ternak Kopi Indonesia, salah satu usaha rintisan kedua anak Presiden Jokowi.

Sementara konglomerat TP Rachmat atau dikenal Teddy Rachmat memiliki saham senilai Rp9.009.600 melalui PT Gema Wahana Jaya di GK Hebat. Ia pemilik saham mayoritas senilai Rp14,4 miliar di PT Gema Wahana Jaya, dan putra sulungnya, Christian Ariano Rachmat, pemilik saham senilai Rp1 juta. Putra keduanya, Arif Patrick Rachmat, menjabat komisaris di perusahaan tersebut.

Ariano Rachmat, yang juga Wakil Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk., tidak merespons upaya konfirmasi Tirto untuk bertanya tentang alasan di balik dia, ayahnya, dan saudara kandungnya berminat berinvestasi pada perusahaan anak Jokowi, hingga laporan ini dirilis.

Infografik HL Jejak Bisnis Kaesang Gibran
Infografik Jejak Bisnis Gibran dan Kaesang. tirto.id/Lugas


Dari Kunjungan Presiden Jokowi ke Markas Plug and Play

Agaknya butuh tiga tahun untuk memantapkan bisnis-bisnis rintisan kedua putra Presiden Jokowi ke dalam satu induk PT Harapan Bangsa. Cerita ini dimulai pada Februari 2016.

Pada pertengahan Februari 2016, Presiden Jokowi berkunjung ke kantor Plug and Play, perusahaan akselerator startup yang berpusat di Silicon Valley, California, Amerika Serikat. Dalam kunjungan itu, Presiden Jokowi meminta Plug and Play mengembangkan startup dan investasi di Indonesia, sejalan ambisi pemerintahannya berekspansi ke sektor e-commerce.

Sembilan bulan kemudian, atau 15 November 2016, CEO Plug and Play Saeed Amidi menemui Presiden Jokowi di Istana Negara.

Menteri Komunikasi dan Informatika saat itu, Rudiantara, berkata Presiden Jokowi meminta agar saat investasi di Indonesia, Plug and Play membuat perusahaan patungan di Indonesia. “Jadi ada venture capital di luar negeri, nanti uangnya yang masuk.”

Itu sudah dilakukan dua hari sebelumnya: Plug and Play bermitra dengan Gan Kapital untuk menunaikan harapan Jokowi.

Maka, saat Saeed Amidi bertemu dengan Presiden Jokowi untuk merealisasikan janji membangun 50 perusahaan rintisan tiap tahun di Indonesia, ia ditemani Direktur Utama Plug and Play Indonesia Wesley Harjono, CEO Gan Kapital Anthony Pradiptya, dan Direktur Utama Grup Sinar Mas Gandi Sulistiyanto.

Kongsi dagang tersebut memakai PT Gan Inovasi Solusindo, di dalamnya ada PT Gan Inovasi Digitalindo dan Plug and Play Singapore Pte Ltd, masing-masing memiliki saham senilai Rp3,25 miliar. Wesley Harjono dan Anthony Pradiptya menjabat direktur utama dan komisaris di perusahaan ini.

Adapun pemilik saham terbesar di PT Gan Inovasi Digitalindo adalah PT Buana Mas Sejahtera, anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, induk usaha Sinar Mas dalam bidang energi dan infrastruktur. Kedua perusahaan ini berkantor di Menara II Sinar Mas Land Plaza, bilangan Thamrin, Jakarta Pusat. Franky dan Indra Widjaja berada dalam dewan komisaris di perusahaan berkode emiten DSSS tersebut.

Lewat brand GK Plug and Play Indonesia inilah, PT Harapan Bangsa (GK Hebat) juga berperan sebagai platform akselerator bagi perusahaan rintisan di Indonesia. Tujuannya, demikian informasi dalam situs resmi perusahaan, “berupaya menciptakan solusi digital pada aneka macam industri dan memberi korporasi pada akses langsung ke startup sejak tahap awal.”

Tirto bertanya kepada Stephanie Susanto, corporate communication Sinar Mas, mengenai afiliasi anak usaha Sinar Mas dengan GK Hebat, yang menopang sejumlah bisnis rintisan Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep. Apakah murni bisnis atau faktor putra presiden?

Stephanie menjawabnya sebagai kemitraan bisnis semata. “GK Hebat ini, kan, salah satu unit usahanya ada yang bergerak di bidang agregator UMKM, di mana mitra usahanya adalah Kaesang. Kemitraan mereka murni bisnis. Dan banyak mitra lain yang tidak ada kaitan dengan Kaesang,” katanya pada Minggu (6/12/2020).

Direktur GK Hebat, Anthony Pradiptya, putra Gandi Sulistiyanto, menjawab kepada Tirto bahwa bisnis yang dibangun bersama anak Jokowi berdasarkan visi dan misi. Ia membantah sedang membangun kerajaan bisnis dengan anak-anak Presiden Jokowi.

“Kalau visi dan misinya bagus, bisnis modalnya bagus, bisnisnya besar, itu hanya akibat. Tapi, sebabnya kesamaan visi dan misi. Kalau jadi besar, alhamdulillah,” kata Anthony.

Infografik HL Konglomerat di balik Bisnis Kaesang dan Gibran
Infografik Konglomerat di balik Bisnis Gibran dan Kaesang. tirto.id/Lugas


Di Bawah Naungan PT GK Hebat

Wesley Harjono, menantu Gandi Sulistiyanto, menulis: “Suatu kebanggaan besar untuk Plug and Play Indonesia bisa dipercaya Bapak Presiden Jokowi untuk membangun ekosistem startup di tanah air.” Ucapan itu diunggah di media sosialnya bersama foto bareng Presiden Jokowi dalam acara ‘Young on Top National Conference’ pada Agustus 2018. Di acara yang sama, Wesley juga mengunggah video pendek pidato Jokowi.

Jokowi berkata alasanya meminta Plug and Play dibawa ke Indonesia “untuk membangun ekosistem [di mana] kita harus punya inkubasi, punya inkubator, untuk melepas startup biar jadi unicorn-unicorn yang semakin banyak di Indonesia.”

Dua bulan kemudian, Wesley berfoto bersama Kaesang. Lalu pada Desember 2018, ia mengunggah foto duduk di samping Presiden Jokowi pada acara Digital Startup Connect. Pada bulan yang sama Wesley dan Anthony berfoto bersama Gibran dan Kaesang di Cerita Cafe, Kampung Melayu, Jakarta Timur, sambil berujar: “Senang sekali bisa sharing dan saling belajar mengenai berwirausaha dari anak-anak muda yang hebat ini.”

Dari apa yang disebut “kepercayaan” dan “sharing” itulah terbentuk PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat). Di bawah naungan induk usaha inilah, mereka menjalin bisnis lewat beberapa anak usaha, antara lain PT Pilar Kuliner Indonesia (Yang Ayam), PT Martabak Anak Bangsa, PT Sang Pisang Indonesia, PT Ternak Kopi Indonesia, dan PT Enigma Cipta Humanika (Enigma IT Bootcamp).

Direktur Pemasaran PT Harapan Bangsa Kita, Ansari Kadir, yang juga bersama Kaesang mendirikan PT Sang Khadir Indonesia, mengatakan kepada Tirto bahwa berkat merger dengan PT Gan Kapital, usaha induk keluarga Gandi Sulistiyanto, mereka mendapatkan suntikan dana. “Akhirnya ada investasi awal yang kita kembangkan bersama,” katanya. Ia berkata GK Hebat diresmikan pada akhir 2019 dan beroperasi sejak 2020.

Salah satu akses dari relasi bisnis ini adalah pelatihan yang diadakan Enigma IT Bootcamp disponsori oleh Eka Tjipta Foundation. Pelatihan IT bagi lulusan SMK ini diadakan pada 3 Februari 2020, menyeleksi 18 dari 1.582 pendaftar, untuk “magang” selama dua bulan di salah satu anak usaha pertambangan Sinar Mas demi menghasilkan “programer siap kerja” dan punya “kompetensi tambahan”. Setelah lulus, mereka “mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan kami,” kata Direktur Organisasi dan Pengembangan Sinar Mas Energy & Infrastructure, Mochtar Suhadi.

Melibatkan pelaku industri untuk “menemukan model kerja sama baru” dengan lulusan pendidikan vokasi adalah keinginan Presiden Jokowi, setidaknya sejak 2016 sampai ucapan terbarunya pada Agustus 2020 ketika meresmikan Gedung Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, yang didukung oleh Sinar Mas dan Astra.

“Kita bukan hanya create UMKM, tapi secara digital create personal untuk dunia kerja,” kata Ansari Kadir menanggapi pertanyaan Tirto mengenai bisnis Enigma Camp.

Akses ke sumber-sumber pendanaan juga diterima Ternakopi, yang terpilih satu dari 17 startup dalam angkatan keempat program akselerator GK-Plus and Play Indonesia pada April 2019, sehingga menerima pendanaan tahap awal (seed funding).

Seed funding hanyalah sebagian kecil dari investasi yang kami berikan. Lebih dari itu, kami dapat menjembatani startup dengan corporate partner untuk saling kerja sama saling menguntungkan agar startup berkembang lebih cepat,” ujar Wesley Suharjono pada 2018.


‘Tidak Ada Makan Siang Gratis’

Tirto meminta komentar kepada Nailul Huda, peneliti ekonomi digital dan inovasi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengenai relasi bisnis antara Gibran dan Kaesang, yang bukan cuma pengusaha kuliner tapi juga anak Presiden Jokowi, dengan pengusaha-pengusaha yang sudah establishment tersebut.

Huda berkata bahwa ia lebih condong menilai “tidak ada makan siang gratis” dari relasi bisnis tersebut.

“Kalau tidak melihat sisi ekonomi-politiknya, startup bisnis yang dimiliki atau dikelola secara bersama oleh Gibran dan Kaesang merupakan startup bisnis seperti biasa.” Artinya, mereka akan membutuhkan suntikan modal untuk bisa terus beroperasi maupun berekspansi. Model bisnis yang dikenal doyan bakar uang meskipun sudah membuka beberapa cabang di kota-kota Indonesia.

“Kalau cuman mengandalkan brand ‘bisnis anak presiden’ terus invest, ya bisa jadi hanya upaya untuk mendekati presiden,” kata Huda.

===========

Visualisasi data oleh Reja Hidayat dan Louis Lugas.

Baca juga artikel terkait BISNIS GIBRAN KAESANG atau tulisan menarik lainnya Fahri Salam
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aulia Adam, Reja Hidayat & Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Fahri Salam
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight