Keluarga Faisal Amir Surati Kapolri Agar Kekerasan Aparat Diusut

Oleh: Adi Briantika - 4 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
Surat itu ditunjukkan kepada Kapolri dan Kabareskrim agar diusut tuntas kekerasan aparat yang menimpa Faisal Amir.
tirto.id - Siti Asma Ratu Agung, ibu Faisal Amir, mahasiswa yang jadi korban kekerasan aparat, menyurati Kapolri Jenderal Tito Karnavian ihwal perkara yang menimpa anaknya.

Ia bersama tim kuasa hukum korban mendatangi gedung Bareskrim Mabes Polri, Jumat (4/10/2019).

"Pengacara langsung memberikan surat untuk Kapolri. Hasil diskusi tadi mempertimbangkan [bahwa] saya tidak usah lagi buat laporan. Justru kata kepolisian, ini [penyuratan] memotong birokrasi," ucap Ratu.

Surat tersebut juga ditujukan ke Kabareskrim, Komjen Pol Idham Azis. Sementara itu, hasil diskusi mereka, yakni polisi akan bentuk tim penyelidikan.

"Langsung dibentuk tim khusus. Kami sudah surati Kapolri berupa pengaduan, sudah diterima dan ada tanda terima. Kami nanti cek tim untuk tindak lanjut," jelas Ratu.


Ia menambahkan, jajaran Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri telah mengecek ke pihak RS Pelni, tempat Faisal dirawat, perihal kondisi pemuda berusia 21 tahun itu.

Faisal adalah demonstran aksi #ReformasiDikorupsi. Ia adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia semester 7. Hari itu dia bertindak sebagai koordinator rombongan. Tugasnya memastikan keselamatan mahasiswa Al-Azhar yang terlibat demonstrasi.

Ia dipukul oleh terduga aparat, lantas ia luka retak dari jidat kiri sampai kepala belakang bagian kanan. Tulang bahunya juga patah, dada dan tangan kanan memar.

Faisal dioperasi untuk membersihkan darah di dalam kepala Faisal. Operasi kedua dilakukan untuk memperbaiki tulang bahunya yang patah. Tapi ia masih harus melakukan operasi pemasangan tempurung kepala.

Dia tidak bisa langsung keluar rumah sakit karena ternyata luka yang dialaminya begitu parah.

"Dia akan operasi lagi," kata Ratu, ketika ditemui Tirto.

"Tempurung kepalanya belum dipasang karena volume otak Faisal bengkak. Pembuluh darah otak pecah, sehingga pendarahan," imbuh dia.

Saat ini, ingatan Faisal belum pulih total meski kini dia sudah bisa bicara dan bangkit sedikit dari posisi tidurnya. Tempurung kepala Faisal disimpan di lemak perut.

"3-6 bulan, tempurung bisa dipasang lagi," katanya.

Faisal baru bisa pulang ke rumah setelah tempurung dipasang dan kondisinya stabil.



Baca juga artikel terkait AKSI DEMONSTRASI atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Zakki Amali
DarkLight