6 April 2005

Kekhawatiran Kolonel Latief dalam Rapat Terakhir G30S

Kolonel Abdul Latief. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 6 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Dalam rapat terakhir menjelang pelaksanaan G30S, Latief memberikan analisis tentang peta pasukan di Jakarta.
Kolonel Abdoel Latief adalah Komandan Brigade Infanteri (Brigif) I Kodam V Jakarta Raya (Jaya). Dia tinggal di Jalan Cawang I kavling 524/525, Jatinegara, bersama keluarganya.

Rumah Latief menjadi tempat tiga rapat penting terkait Tragedi 1965. Pertama, rapat berlangsung pada 22 Agustus 1965. Kedua, rapat pada 29 Agustus 1965 dan terakhir rapat pada 6 September 1965.

“Kesemuanya (tiga rapat itu berlangsung) pada malam hari,” tuduh Oditur militer Letnan Kolonel Iskandar dalam persidangan letkol Untung Syamsuri, pemimpin Gerakan 30 September, seperti tercatat dalam buku Gerakan 30 September di Hadapan Mahmilub: Perkara Untung (1966). Saat Untung disidang dan Latief menjadi saksi, dokumen sidang mencatat agama Latief sebagai Islam.

Sebelum rapat di rumah Latief, ada rapat lain yang berlangsung di rumah Kapten Wahjudi di Jalan Sindanglaja nomor 5. Mereka yang hadir nyaris selalu sama. Ada Letnan Kolonel Untung, Sjam Kamaruzaman, Sujono, Supono, Latief, dan tentu saja tuan rumah Wahjudi. Dalam rapat di rumah Latief, peserta rapat adalah orang-orang yang sama seperti di rumah Wahjudi, ditambah kehadiran Mayor Agus Sigit (Komandan Batalyon 203 Kodam Jaya) yang tinggal di Cijantung Blok H.

Setelahnya rapat diadakan pada 12 September 1965; 17 September 1965; 26 September 1965; 28 September 1965. Sedangkan rapat terakhir berlangsung pada 29 September 1965. Rapat diadakan di beberapa tempat dan rapat terakhir berlangsung di rumah Sjam Kamaruzaman di Jalan Pramuka/Jalan Rawasari Buntu, Jakarta. Mereka yang hadir juga sama.

Dalam rapat-rapat itu, semua yang hadir memakai pakaian preman (sipil). Dalam rapat terakhir di rumah Sjam, peserta rapat ketambahan Brigadir Jenderal Soepardjo yang baru saja pulang dari Kalimantan Barat.

Dalam rapat terakhir itu, seperti dicatat Victor M Fic dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005), Latief mengeluh kehadiran 60.000 tentara reguler yang tidak ikut dalam Gerakan 30 September 1965 yang sedang mereka rancang. Latief khawatir mereka akan menjadi lawan pasukan G30S.

Pasukan berjumlah besar di Jakarta itu di antaranya berada dalam kendali Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Cukup jelas bagi Latief, seluruh pasukan AD yang tidak bisa dipastikan berada di kubu mereka sebagai hal serius untuk diwaspadai. Tentara adalah lawan paling berat bagi Partai Komunis Indonesia.

Latief, seperti diakuinya, sejak masih berusia 16 tahun sudah pernah bertempur melawan serdadu Jepang bersama KNIL. Setelahnya dia pernah dilatih militer Jepang. Di masa revolusi ia bergabung dengan Republik dan mulai menjadi perwira. Dia juga menjadi bawahan Soeharto saat terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949.

Pada 1965 yang kelam itu, Latief sudah berkarier lebih dari 20 tahun di dunia militer. Karier yang cukup panjang dan jelas ia punya pengalaman. Jadi kekhawatirannya soal 60.000 tentara yang tak jelas keberpihakannya tidak bisa diremehkan begitu saja.

“Dua hari sebelum peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, saya beserta keluarga mendatangi rumah keluarga Bapak Jenderal Suharto di Jalan Haji Agus Salim,” ujarnya seperti terbaca dalam Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G 30 S (2000). Dalam pertemuan itu, Latief mengaku hendak menanyakan adanya info Dewan Jenderal, sekaligus melaporkannya kepada Soeharto.

Menurut Latief, Soeharto malah mengatakan ia telah tahu hal itu. Kata Latief: “Sehari sebelum datang ke rumah beliau [Soeharto], ada seorang bekas anak buahnya berasal dari Yogyakarta bernama Subagiyo, memberitahukan adanya info Dewan Jenderal, yang akan mengadakan coup d’etat terhadap kekuasaan pemerintahan Presiden Soekarno.”

Kepada Latief, jenderal dari Kemusuk itu mengatakan akan mengadakan penyelidikan terkait isu tersebut.



Menurut catatan John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal (2008), pada pertemuan itu rupanya Latief dan Soeharto bicara soal pertukaran rumah. “Sebagai perwira komando distrik Jakarta, Latief mendapat sebuah rumah besar bekas kediaman duta besar Inggris. Latief mengatakan bahwa ia berencana memberikan rumah itu kepada Soeharto dan kemudian ia dan keluarganya pindah ke rumah Soeharto yang lebih sederhana,” tulis John.

Tak hanya pada 29 September Latief menemui Soeharto. Pada 30 September 1965 pun mereka bertemu lagi. Bukan di rumah Soeharto, melainkan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Hutomo Mandala Putra (Tommy), putra Soeharto, sedang dirawat karena baru saja ketumpahan sup panas.

“Kira-kira pukul sepuluh malam saya sempat menyaksikan Kolonel Latief berjalan di depan zaal tempat Tommy dirawat,” aku Soeharto dalam buku Soeharto Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989) yang disusun Ramadhan K.H. Autobiografi Soeharto itu tak menjelaskan apa yang mereka bicarakan.

Namun lain lagi dengan versi Latief. Ia mengatakan malam itu lagi-lagi ada pembicaraan soal G30S.

“Pak, malam ini kami beberapa kompi pasukan akan bergerak untuk membawa para jenderal anggota Dewan (Revolusi) ke hadapan yang mulia presiden,” aku Latief.

Meski terkejut Soeharto tetap bersikap tenang. Usai bertemu Soeharto di RSPAD, Kolonel Latief kemudian bertemu untuk melakukan koordinasi akhir dengan Brigadir Jenderal Soepardjo, Letnan Kolonel Untung, dan lainnya.

Malam itu, Untung yang sehari-hari adalah komandan Batalyon Kawal Kehormatan pengawal Presiden Cakrabirawa bertindak sebagai pemimpin G30S. Selain menyatakan gerakan tersebut dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), pengadilan militer atau Mahmilub menyatakan Untung bersalah karena menjadi pemimpin gerakan yang menghilangkan nyawa para jenderal staf umum Angkatan Darat, termasuk di dalamnya Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani pada 1 Oktober 1965.

Gerakan ini berakhir buntung karena dalam waktu singkat dihantam pasukan yang, pada 29 September 1965, sudah dicemaskan Latief sebagai belum jelas keberpihakannya. Soeharto ternyata tak seperti yang dipikirkan Latief. Soeharto justru menjadi panglima penggebuk G30S dengan mengerahkan, terutama, pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan pasukan-pasukan Kostrad.

Abdul Latief, yang meninggal pada 6 April 2005, tepat hari ini 15 tahun lalu, tentu saja merasa dongkol atas "pengkhianatan" Soeharto itu. Apalagi Latief dipenjara bertahun-tahun setelah G30S dan dicap sebagai "pengkhianat bangsa".

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 29 September 2017. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight