Kejiwaan si Pamer Kebugaran

Oleh: Dea Anugrah - 24 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Pamer foto setelah berolahraga sedang jadi tren. Olahraga, berkeringat, foto, unggah. Mengapa orang senang memamerkan foto-fotonya setelah olahraga? Ternyata ini merupakan sebuah bentuk dari narsisme.
tirto.id - Mengenakan celana pendek yang bagian bawahnya ditarik ke atas sehingga membentuk segitiga seperti celana dalam, ia berfoto dengan latar lapangan sepakbola. Tubuh atasnya yang tak berbungkus kelihatan mengkilap dan himpunan otot perutnya yang membentuk kotak-kotak tampak seperti punggung lipan.

Kemarin siang, ia memacak foto sebuah alat. Layar alat itu menunjukkan jumlah kalori yang terbakar, waktu, jumlah gerakan, kecepatan, serta jarak yang ia tempuh dengan berlari. Sebuah potret lain: ia meregangkan badan di atas sehelai matras tembus pandang. Wajahnya mencengis-cengis.

Ia adalah Cristiano Ronaldo, pesepakbola profesional Portugal yang bekerja di kelab Spanyol Real Madrid. Demikianlah ia memamerkan kebugarannya di media sosial.

Menurut Forbes, penghasilan Ronaldo ialah 88 juta dolar Amerika Serikat per tahun, dan 32 juta atau sekitar 36 persennya ia dapat dari bayaran main iklan. Sebagian besar produk yang Ronaldo jual adalah rupa-rupa pakaian pria dan peralatan olahraga, maka wajar ia memamerkan tubuhnya secara rutin di media sosial. Ia menjadi duta yang menyampaikan pesan-pesan di balik produk-produk tersebut.

Beberapa tahun lalu, saat Ronaldo jadi bintang iklan makanan cepat saji, banyak orang protes. Itu tidak sesuai dengan citranya. Para pemrotes itu khawatir para penggemar Ronaldo yang agak bloon akan memupuk keyakinan baru dalam diri masing-masing: alih-alih membikin buncit, makanan cepat saji malah bisa mengubahmu jadi pria alfa yang sanggup mencetak gol ke gawang mana saja.

"Tapi dia bukan Cristiano Ronaldo," pikir Anda saat menjumpai foto pamer kebugaran milik seorang teman di Facebook. "Dia cuma buzzer siomay dan cat besi."

Tidak ada keterangan rata-rata jumlah teman yang dimiliki para pengguna Facebook di Indonesia. Namun, sebagai gambaran: di Amerika Serikat, rata-rata pengguna mempunyai 338 orang teman di dalam daftar. Setiap hari, secara global ada sekitar 300 juta foto terunggah di Facebook.

Dalam keadaan itu, memiliki teman di Facebook yang gemar memajang potret diri saat atau setelah olahraga tentu tidak aneh. Orang-orang lalu menjempoli dan berkomentar. Tapi, tentu sebenarnya keterlibatan itu bisa saja tak lebih dari dukungan basa-basi, padahal sesungguhnya mereka itu merasa terganggu.

Tapi itu bukan yang terburuk. Pada Mei 2015, sejumlah peneliti dari Brunel University, London, menyelenggarakan studi tentang orang-orang yang gemar pamer bodi di media sosial. Menurut penelitian tersebut, mereka umumnya mengidap narsisme.



Anda tentu pernah mendengar legenda Narcissus. Kisah itu ditulis dalam bentuk puisi oleh penyair Roma yang bernama Ovid, lebih dari 2 ribu tahun silam. Sumber aslinya ialah kisah-kisah mitologis lisan dalam masyarakat Yunani Kuno.

Narcissus adalah putra dewa sungai Cephissus dan peri Liriope. Ia dikenal luas di lingkungannya berkat wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis. Suatu ketika, seorang dukun buta yang bernama Tiresias meramalkan bahwa Narcissus dapat hidup panjang asalkan ia tak pernah memandang dirinya sendiri.

Sialnya, penolakan Narcissus terhadap peri Echo (atau, menurut versi yang lebih lawas: pemuda bernama Ameinias) mengundang kemurkaan dewa-dewa. Para tukang atur itu menggiring ia ke tepi kolam, dan di sana Narcissus jatuh cinta kepada pantulan dirinya sendiri. Putus asa terhadap cinta yang mustahil itu, ia bunuh diri.

Di kemudian hari, dalam psikiatri dan psikoanalisis, narsisme dikenal sebagai istilah yang merujuk kepada penghargaan dan pementingan diri yang berlebih-lebihan. Para pengidapnya disebut narsisis.

"Narsisis rajin mengumumkan pencapaian mereka, dan itu merupakan dorongan kebutuhan atas perhatian serta pengakuan dari ... komunitas," tulis tim peneliti. "Mereka senang menyiarkan usaha yang mereka tanamkan demi penampilan fisik."

Narsisme, menurut kandidat PhD dari University of Cambridge Olivia Remes, tidak selamanya buruk. "Narsisme yang sehat adalah bagian dari fungsi manusia normal," tulisnya. Namun narsisme bisa menjadi masalah bila seseorang menjadi terlampau khusyuk dengan diri sendiri, lantas menuntut kekaguman dan persetujuan yang berlebih dari orang lain.

"Jika narsisis semacam ini tidak memperoleh perhatian yang mereka inginkan, mereka bisa melenceng ke penyalahgunaan obat-obatan atau mengalami gangguan depresi berat," tulis Remes. Menurut American Psychiatric Association, sekitar 2 hingga 16 persen pengidap gangguan kejiwaan adalah pengidap narsisme berat, tetapi di populasi umum jumlahnya kurang dari satu persen.

Lantas apa yang perlu dilakukan buat mencegah narsisme sehat tergelincir jadi gangguan kejiwaan? Sebuah studi gigantik tentang kebahagiaan dari Harvard yang melibatkan banyak orang selama 75 tahun barangkali bisa dijadikan bahan pertimbangan. Penelitian itu menunjukkan bahwa hal terpenting dalam hidup dan penentu kepuasan yang utama ialah hubungan-hubungan yang kokoh dan bermakna, bukan uang atau ketenaran.

"Jadi," tulis Remes, "mungkin inilah waktunya untuk rehat menggunakan ponsel pintar, mematikan komputer, dan menjumpai satu atau dua orang teman. Mungkin dengan begitu kau akan merasa lebih baik dan kepercayaan dirimu akan meningkat.

Baca juga artikel terkait NARSISME atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight