Piala Dunia 2018

Kegagalan Jerman di Rusia: Perang di Moskow, Sepakbola di Kazan

Oleh: Eddward S Kennedy - 29 Juni 2018
Dibaca Normal 7 menit
Jika Jerman gagal pada 1941 karena tidak membawa pakaian musim dingin, Jerman di 2018 gagal karena tidak membawa penyerang sayap.
tirto.id - Musim Semi, Juni 1941. Di luar dugaan, Adolf Hitler mengeluarkan perintah kepada pasukan Nazi untuk menginvasi Uni Soviet. Kurang lebih empat juta serdadu, 19 divisi panser, sekitar 3.000 unit tank, 2.500 pesawat udara, serta 7 senjata artileri, dikerahkan. Serangan tersebut diberi nama khusus: Unternehmen Barbarossa. Operasi Barbarossa.

Misi invasi ini merupakan tindakan melanggar Pakta Molotov-Ribbentrop pada 1939. Pakta tersebut berisi kesepakatan non-agresi; kedua negara sepakat untuk tidak saling menyerang dan menjamin pengaruh masing-masing di wilayah yang telah ditentukan tanpa ada campur tangan dari pihak lainnya.

Namun situasi damai antara keduanya hanya berlangsung sebentar saja. Ketika Jerman menginvasi Polandia pada 1939 dan mengakibatkan pecahnya Perang Dunia II, Soviet juga mulai mengokupasi negara-negara di wilayah Balkan dengan mengirim tentara NKVD untuk menyerbu Lituania, Estonia, dan Latvia. Saat mulai memasuki wilayah Besarabia (utara Bukovina) yang merupakan bagian dari Rumania, Jerman menganggap Soviet sebagai ancaman terhadap suplai minyak mereka di daerah Balkan. Di sinilah awal mula rencana invasi Jerman ke Soviet.

Namun, terlepas dari analisis politik yang ada, tidak sedikit yang menganggap invasi Jerman tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari obsesi kebencian Hitler terhadap Soviet dan komunisme. Menurut Hitler, Soviet yang didirikan oleh kaum Bolshevik komunis turut dipengaruhi dan diatur oleh kelompok Yahudi. Sementara alasan lain terkait dengan motif ekonomi dan geopolitik.

Wilayah Soviet yang begitu luas dianggap Hitler memiliki posisi strategis serta dipenuhi oleh sumber daya alam yang dibutuhkan Jerman. Kondisi inilah yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat Lebensraum, cara pandang politik Hitler mengenai konsep tata ruang untuk hidup. Sebagaimana pernah ia kemukakan di bukunya, Mein Kampf.


Di dalam kitab suci Nazi tersebut, Hitler menjelaskan bahwa rakyat Jerman membutuhkan ruang hidup, Lebensraum (tanah dan sumber dayanya), dan kedua hal tersebut bisa didapatkan di wilayah Eropa Timur. Ia juga menyebut betapa bangsa-bangsa Eropa Timur, yang sebagian besar adalah Slavia, adalah ras inferior yang sudah semestinya memiliki tuan.

Konsep Lebensraum yang disebut Hitler sebetulnya telah muncul di Jerman sejak Abad Pertengahan. Pada 1901, etnografer Jerman, Friedrich Ratzel, pernah menjelaskan bahwa untuk menyatukan wilayah-wilayah Jerman, diperlukan pemahaman mengenai pengaruh kondisi geografi. Maka untuk itulah ekspansi wajib dilakukan sebagai bagian untuk memenuhi ruang geografi tersebut.

Hipotesis Ratzel mengalami perkembangan pada 1912 setelah Jenderal Friedrich von Bernhardi menerbitkan bukunya berjudul: Germany and the Next War. Menurutnya, Lebensraum tidak hanya bermakna memecahkan masalah kondisi demografi, tetapi juga untuk menjaga agar Jerman tidak mengalami stagnasi dan degenerasi. Dan semua hanya dapat diwujudkan lewat peperangan serta ekspansi. Baik Hitler, Ratzel, maupun Von Bernhardi sepakat bahwa Eropa Timur adalah wilayah baru yang tepat untuk Jerman.

Kelak, Operasi Barbarossa yang dilakukan demi mewujudkan konsep Lebensraum tersebut bukan hanya gagal total, tetapi juga menjadi titik tolak kekalahan Jerman di Perang Dunia II. Dan, tentu saja, keruntuhan Nazi.

Awal Operasi Barbarossa: Blunder Mussolini

Operasi Barbarossa pada mulanya akan dilaksanakan Hitler setelah menandatangani Perintah Perang Nomor 21 pada 18 Desember 1940. Di dalam dokumen tersebut tertulis: “Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dengan sesegera mungkin.” Namun, karena blunder salah satu sekutu terdekat Hitler, Benito Mussolini, rencana tersebut diundur menjadi 15 Mei 1941.

Kecerobohan Mussolini bermula ketika ia memerintahkan Italia bersama sekutunya, Albania, untuk menyerang Yunani dengan modal 500 ribu pasukan. Sebetulnya tak ada urgensi apapun dalam penyerangan ini. Mussolini melakukannya semata agar kekuatannya dengan Hitler menjadi lebih stabil.

Terlepas dari bagaimana kedekatan kedua diktator ini, Mussolini memang kerap menganggap dirinya adalah senior di antara tokoh-tokoh fasis kala itu. Maka ketika Hitler membuat Perancis menyerah hanya dalam waktu beberapa minggu, Mussolini yang tak mendapat bagian apapun dalam kemenangan tersebut, mulai merasa tersepelekan. Ada rasa iri dari Mussolini saat melihat keberhasilan Hitler yang secara pesat mampu membawa Jerman ditakuti seantero Eropa.

Sebelum melakukan serangan, pada 28 Oktober 1940, Mussolini menyuruh Duta Besarnya di Athena, Emmanuele Grazi, mengultimatum Perdana Menteri Yunani, Ioannis Metaxas, agar memberi akses bagi Italia. Metaxas menolak ultimatum tersebut dan memutuskan untuk berperang melawan Italia. “Ohi,” ucap Metaxas kala itu, yang berarti “tidak”. Hingga kini, Yunani masih merayakan “Ohi Day” untuk mengenang keberanian Metaxas.


Yunani kala itu hanya memiliki tiga divisi, sedikit tank, dan minim angkatan udara. Walaupun demikian, Yunani ternyata dapat memberikan perlawanan yang luar biasa sengit dan membuat Mussolini keteteran. Kondisi geografis Yunani yang berbentuk pegunungan juga membuat armada Mussolini kesulitan melakukan manuver dan hanya menjadi sitting duck bagi tentara Yunani.

Pada 8 November, agresi Mussolini hancur berantakan. Kondisi Italia pun makin parah usai Angkatan Udara Inggris turun membantu Yunani. Berselang enam hari setelahnya, seluruh front Italia akhirnya berhasil dipukul dari perbatasan. Bahkan dua kota di Albania yang diduduki Italia juga turut dibebaskan.

Akibat blunder Mussolini tersebut, Jerman sebagai sekutu terdekat mereka, mau tak mau, terkena beberapa efek serius. Yunani, yang mulanya merupakan negara netral, tidak lagi mempedulikan perjanjian strategis dengan Jerman. Inggris mulai memiliki alasan untuk membentuk pangkalan udara di Yunani dan turut mengebom sumber minyak Jerman di Ploesti, Rumania. Sementara penundaan rencana Operasi Barbarossa membuat Jerman harus membagi beberapa divisi tempur ke front berbeda. Padahal sebelumnya seluruh divisi tersebut dapat digunakan untuk menyerang Soviet.

Cuaca Dingin dan Hitler yang Keras Kepala

Pada 22 Juni 1941, pukul 3.15 pagi waktu setempat, Jerman memulai Operasi Barbarossa dengan mengebom besar-besar tiap kota besar di Polandia yang dikuasai Soviet. Ada empat kelompok diturunkan Jerman dalam penyerbuan ini: Pasukan Utara, Timur, Tengah, dan Selatan. Kekuatan Jerman saat itu terdiri atas Angkatan darat yang memiliki pasukan berjumlah sekitar 8-10 juta personil dan tergabung dalam 250 divisi, 30.000 tank, serta 16.000 pesawat terbang.

Pasukan Utara yang dipimpin Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb menyerbu dari Prusia Timur dengan sasaran Leningrad (St. Petersburg). Pasukan Tengah di bawah komando Generalfeldmarschall Fedor von Bock berangkat dari Polandia melalui hamparan rawa-rawa luas Pripyat menuju Smolensk untuk kemudian ke Moskow. Sementara pasukan Selatan yang dipimpin oleh Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt bergerak ke arah Kiev dengan tujuan menguasai wilayah gudang pangan (gandum) di Ukraina serta sumber minyak bumi di Kaukasus.

Joseph Stalin, pemimpin Soviet kala itu, tidak mengira jika Hitler betul-betul akan mengkhianati perjanjian antara kedua negara. Ia sebetulnya sudah memiliki kesempatan untuk berjaga-jaga jika bersedia mendengarkan informasi dari mata-mata Soviet, Dr. Richard Sorge.

Sekitar satu minggu sebelum Jerman menyerang, Sorge yang juga tercatat sebagai anggota partai Nazi itu mendapat informasi rahasia bahwa Operasi Barbarossa akan dimulai pada 22 Juni. Ia pun menyampaikan hal ini kepada Stalin lewat surat. Namun, Stalin yang kelewat yakin bahwa perang tak akan berlangsung setidaknya sampai setahun ke depan, memilih mengabaikan informasi berharga dari Sorge tersebut.

Akibat sikap menyepelekan Stalin, alhasil Soviet dibuat babak belur pada fase awal invasi Jerman. Sekitar 3.000 pesawat Soviet luluh lantak dihancurkan oleh Luftwaffe, Angkatan Udara Jerman, hanya dalam tiga hari pertama serangan. Wilayah udara Soviet pun sudah praktis dipegang mereka.


Pertempuran di darat pun memperlihatkan bagaimana Pasukan Merah Soviet yang memiliki keunggulan dalam jumlah tank dan perlengkapan lainnya, tetap tertatih-tatih menghadapi taktik blitzkrieg Jerman. Pada pekan pertama invasi berlangsung, pasukan Jerman berhasil menembus wilayah Soviet sejauh lebih dari 480 kilometer.

Babak pertama Operasi Barbarossa yang berlangsung lancar menimbulkan optimisme di benak Hitler. Smolensk berhasil direbut Pasukan Selatan pada pertengahan Juli. Pasukan Tengah dan Utara terus bergerak ke arah Sungai Luga usai mencapai tujuan besar pertama mereka: menyeberang dan mempertahankan jembatan darat antara Dvina dan Dnieper. Jalur ke Moskow yang kini tinggal 400 km jauhnya telah terbuka lebar.

Ketika para jenderal Nazi, seperti Halder, Guderian, dan von Kluge hendak bersiap menyerbu ke Moskow, Hitler memiliki rencana sendiri agar pasukan Utara dan Tengah pergi ke Ukraina untuk membantu pasukan Selatan yang terdesak. Selain itu, Hitler juga melihat kemungkinan jika Ukraina dapat menjadi sumber logistik pasukan Jerman, mengingat di sana merupakan wilayah penghasil gandum.

Pandangan Hitler ini mendapat tentangan dari para jenderalnya. Mereka semua berpendapat, dengan melihat jarak Moskow yang kian dekat, kota tersebut semestinya menjadi prioritas utama. Perbedaan pandangan ini menimbulkan debat hingga berminggu-minggu padahal serangan dapat segera dilaksanakan ke arah Leningrad.

Akhirnya, semua menuruti Hitler. Pada 25 Agustus 1941, Heinz Guderian, salah satu jenderal Nazi yang juga arsitek strategi Blitzkrieg Jerman, memberi perintah atas nama Hitler kepada seluruh pasukan untuk menyerang Kiev. Dengan jeda waktu yang cukup panjang usai jatuhnya Smolensk hingga kini menggelar serangan dengan target operasi berbeda membuat Operasi Barbarossa tidak dapat diselesaikan sebelum musim dingin.

Setelah melewati medan Ukraina yang sulit dan dikenal dengan sebutan rasputitza--sebuah kondisi dengan jalanan berlumpur yang menyusahkan, Jerman akhirnya berhasil mengepung Kiev pada akhir September. Sekitar 665 ribu tentara Soviet terkepung dan tertawan di Kiev. Jerman pun kembali ke misi utama mereka untuk merebut Moskow. Untuk ini, digelarlah operasi yang dinamakan: Operation Typhoon.



Operasi tersebut dimulai pada 2 Oktober. Jerman masih unggul dalam pertempuran melawan Soviet. Di Vyasma, di persimpangan jalan antara Smolensk dan Moskow, Jerman memenangkan pertempuran. Sebelas hari berselang, kurang lebih 650 ribu tentara Soviet berhasil ditawan berikut peralatan perang mereka seperti 5.000 meriam dan 1.200 tank. Hitler makin optimistis. Namun ini sebelum musim dingin mulai mencapai puncaknya menjelang akhir tahun.

Ketika musim dingin makin menyeruak, pasukan Jerman mulai kesulitan menembus medan pertempuran. Artileri dan kendaraan berat tertahan. Para serdadu banyak yang mati kedinginan karena memang tidak dipersiapkan untuk berperang di musim tersebut. Pada bulan November, seluruh petinggi Jerman menggelar rapat khusus untuk menentukan pilihan: tunda serangan sampai musim semi 1942 atau lanjutkan hingga musim dingin.

Hitler bersikeras: lanjutkan. Perintah tersebut tetap dijalankan, kendati tetap menuai protes dari jenderal-jenderal lain. Menurut mereka, keputusan Hitler tak ubahnya seperti upaya bunuh diri pelan-pelan. Inilah blunder Hitler yang kelak menyebabkan malapetaka bagi Jerman.

Dengan kondisi suhu yang terus merosot hingga minus 30 derajat dan salju yang turun makin lebat, pasukan Soviet yang juga dibantu dengan kaum buruh, berhasil memukul mundur pasukan Jerman yang kelelahan. Sebanyak kurang lebih 4 juta pasukan Soviet dan 800.000 pasukan Jerman tewas selama perang berlangsung sejak 22 Juni hingga 5 Desember 1941 tersebut.

Namun, Hitler yang masih keras kepala kembali memerintahkan Jerman untuk melakukan invasi ke Soviet. Dengan kondisi yang sebetulnya masih cukup babak belur, serangan tersebut kembali berhasil dipatahkan Soviet dalam Pertempuran Stalingrad: salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah.

Infografik Operasi Barbarossa

Kekalahan Kembali di Tanah Rusia

76 tahun berselang, di atas rumput hijau Kazan Arena, Rusia, Jerman kembali mengalami kekalahan menyakitkan setelah usai takluk dari Korea Selatan 0-2 dalam laga pamungkas Grup F Piala Dunia 2018. Atas kekalahan tersebut, Jerman pun harus tersingkir dari fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Jika dulu Jerman kalah karena blunder Hitler yang bersikeras melanjutkan perang tanpa membawa pakaian musim dingin (pendeknya: menyiapkan kondisi pasukan untuk menghadapi musim dingin), kini Joachim Loew dianggap melakukan keteledoran karena tidak membawa pemain sayap yang tajam Leroy Sane. Para pemain Jerman di Piala Dunia 2018, yang dengan tegas mengkritik para suporternya yang menyanyikan lagu-lagu dari era NAZI, gagal memperlihatkan kelasnya sebagai juara bertahan -- dan membuat orang kembali mengingat keputusan Loew meninggalkan Sane.

Di Manchester City, Sane menjadi salah satu tokoh kunci keberhasilan klub itu meraih gelar Liga Primer Inggris. Catatan statistik pemain 22 tahun tersebut memang mengesankan. Bermain dalam 58 laga di Premier League, ia mencetak 15 gol dan 18 assists. Selain itu, ia juga menggondol sejumlah penghargaan individual seperti Men's PFA Young Player of the Year dan Premier League Player of the Month pada Oktober 2017 lalu.


Sebagai ganti Sane, Loew memilih Julian Brandt, winger Bayern Leverkusen yang juga berusia 22 tahun. Namun jika dibandingkan secara statistik, wajar jika banyak orang mempertanyakan pilihan Loew. Dilansir Whoscored, Brandt telah memainkan total 44 laga bersama Leverkusen musim lalu dan hanya mencetak 12 gol serta 3 assist.

Loew pun memberi penjelasan: "Situasi sangat ketat, keduanya (Sane dan Brandt) memiliki kualitas yang sangat baik, terutama dalam hal kecepatan dan menggiring. Julian Brandt bermain bagus saat Piala Konfederasi dan juga sangat bagus saat latihan. Sungguh, sangat ketat."

Bisa jadi Loew memang jemawa mengingat di Piala Konfederasi ia juga menurunkan skuat lapis kedua dengan mayoritas pemain muda dan tetap berhasil menjadi juara. Di dalam skuat Piala Konfederasi terdapat tujuh nama baru yang belum pernah membela tim nasional sebelumnya.

Mereka adalah Kerem Demirbay, Sandro Wagner, Amin Younes, Diego Demme, Kevin Trapp, Marvin Plattenhardt, dan Lars Stindl. Tidak semuanya berusia muda. Stindl dan Wagner, yang tertua di antara semuanya, berusia 28 dan 29 tahun.


Selebihnya adalah pemain-pemain yang sudah beberapa kali membela tim nasional, namun masih minim pengalaman. Shkodran Mustafi dan Antonio Rudiger, keduanya bek tengah. Jonas Hector baru menjadi pemain utama pada Piala Eropa 2016. Bernd Leno, Marc-Andre ter Stegen, serta Sebastian Rudy yang baru membela tim nasional sebanyak lima belas kali. Lalu ada Julian Draxler, pemilik jumlah penampilan terbanyak di antara semua pemain Piala Konfederasi, yang bahkan baru pernah turun dalam 30 pertandingan bersama Jerman.

Tanpa Sane, pasukan Jerman benar-benar kehilangan kreatifitas saat menghadapi lawan-lawan yang memasang garis pertahanan rendah. Brandt, Mueller dan Timo Werner yang diandalkan oleh Loew, gagal memberikan variasi serangan yang dibutuhkan untuk menembus pertahanan Meksiko dan Korea Selatan. Marco Reus sempat memberikan harapan saat bermain baik ketika mengalahkan Swedia, namun ketajamannya tak tampak di laga terakhir.

Kelincahan, kecepatan, dan ketajaman Sane bersama City di atas kertas dapat memberikan dimensi penyerangan yang berbeda. Namun Loew sudah mengambil keputusan, dan sejarah mencatatnya gagal kali ini.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS