Kedai Kopi: Sasaran Baru Investasi Venture Capital

Oleh: Nuran Wibisono - 3 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dibantu oleh teknologi, kedai kopi menjadi target baru pendanaan dari modal ventura.
tirto.id - Dalam “Using Technology to Drive Growth in the Coffee Industry” yang dimuat di situs Xtalks (2018), Kathy Gallo punya beberapa poin menarik terkait kehadiran teknologi dalam industri kopi.

Salah satunya apa yang disebutnya greater convenience. Kenyamanan dan kemudahan lebih besar dalam membeli kopi. Gallo menyebut pembelian via aplikasi, serta ada berbagai jenis pembayaran—dari Apple Pay hingga WeChat—adalah bukti kemudahan yang dihadirkan oleh teknologi.

Indonesia tidak ketinggalan dalam hal ini. Lagi-lagi, kenyamanan dan kemudahan dalam pemesanan menjadi kekuatan utama kedai kopi kekinian.

Di Jakarta, tempat kamu bisa menghabiskan satu jam di jalan untuk menempuh jarak beberapa kilometer saja, kenyamanan dalam membeli kopi adalah faktor penting.

Maka, hadirlah banyak kemudahan. Pembeli bisa membeli via aplikasi kedai kopi atau dari aplikasi ride sharing. Ketika masuk ke tahap pembayaran, pembeli dimudahkan pelbagai pilihan dompet digital. Di kedai kopi-kedai kopi kekinian, banyak pengumuman cashback jika menggunakan dompet digital, dari Go-Pay, Ovo, hingga Dana.

Dengan kemudahan ini, tak ayal konsumsi kopi di Indonesia turut meningkat drastis. Pada 2018, pemesanan kopi via Go-Jek mencapai 1,5 juta gelas. Ini terbanyak ketiga dalam daftar pesanan terbanyak Go-Jek tahun lalu, hanya kalah oleh paket ayam dan paket nasi.

Salah satu kedai yang menyadari betul pentingnya teknologi dalam bisnis kopi adalah Fore Coffee. Elisa Suteja, salah satu pendiri Fore, berkata teknologi adalah kunci penting bagi pertumbuhan perusahaan mereka. Dan salah satu kunci pentingnya: aplikasi.

“Dengan aplikasi Fore, customer dapat membeli kopi hanya dengan beberapa klik saja. Yang Fore tawarkan adalah seamless experience saat membeli kopi,” ujarnya.


Aplikasi Fore saat ini sudah diunduh lebih dari 500 ribu kali dan mendapat 4,5 bintang di Playstore. Secara user experience, aplikasi ini memang mudah digunakan dan sangat membantu. Pembeli tinggal memasukkan alamat, lalu tinggal pilih kopi mau diantar atau dijemput.

Pengantaran kopi bisa dilakukan dalam radius tertentu. Ini sebenarnya kekurangan Fore, yang dalam hal pengantaran masih tergantung pada aplikasi ride sharing seperti Go-Jek dan Grab. Namun, fitur pick up juga menarik karena pembeli tinggal memasukkan pesanan ke gerai terdekat, membayarnya lewat berbagai pilihan dompet digital (Dana, Ovo, dan Go-Pay), dan jemput saat pesanan sudah siap. Namun, fitur ini sebenarnya juga bertentangan dengan kemudahan yang disebutkan oleh Gallo—sebab pembeli harus mendatangi kedai.

Meski demikian, kekurangan minor ini tak membuat Fore tersandung-sandung. Dari ratusan ribu gelas yang terjual tiap bulan, 75 persen berasal dari aplikasi. Performa yang meyakinkan ini berhasil membuat Fore mendapatkan pendanaan Rp118 miliar dari beberapa venture capital. Dana segar ini tentu membuat pihak Fore bisa leluasa berekspansi dengan membuka makin banyak gerai di banyak kota.

Bukan Hal Baru

Banyak orang cukup terkejut mendengar Fore maupun Kopi Kenangan mendapat pendanaan berjumlah fantastis. Ini tak mengherankan sebab selama ini investasi dari perusahaan ventura lebih banyak menyasar perusahaan rintisan di bidang teknologi. Namun, setidaknya sejak tiga tahun terakhir, ada banyak pendanaan yang mengalir ke perusahaan boga, termasuk kedai kopi.

Dari data di Crunchbase, selama tiga tahun terakhir ada banyak kedai kopi yang mendapat pendanaan. Yang terbesar adalah Luckin Coffee, kedai kopi yang berbasis di Fujian, Cina. Total pendanaannya mencapai 550 juta dolar. Selain itu, mereka menjadi perusahaan kopi yang menjual sahamnya di bursa. Dengan harga saham 17 dolar per lembar, valuasi Luckin Coffee mencapai 5 miliar dolar.

Infografik HL Indepth Coffee Shop
Infografik HL Indepth Coffee Shop Coffees Everywhere


Dalam daftar perusahaan rintisan bidang boga yang mendapat pendanaan selama tiga tahun terakhir, ada nama Kopi Kenangan (peringkat 3) dan Fore (peringkat 7). Dari pendataan oleh Crunchbase, diperkirakan Fore mendapat pemasukan tahunan sebesar 1 juta dolar atau sekitar Rp14,5 miliar. Sedangkan Kopi Kenangan didaulat sebagai “… waralaba kopi dengan pertumbuhan paling cepat di Indonesia, mengandalkan strategi berbasis teknologi, grab & go.”


Pendanaan besar-besaran di kedai kopi ini membuat beberapa pegiat kopi geleng-geleng kepala. “Masih jadi pertanyaan juga buatku, kenapa perusahaan VC itu mau menggelontorkan dana ratusan miliar untuk kedai kopi?” kata Andi K. Yuwono dari 5758 Coffee Lab.

"Jadi perlu dicari tahu apakah investornya punya kepentingan tertentu atau apa? Apanya yang mau ditarik dari investasi itu? Marjin profit? Atau brand awareness? Mau berapa lama? Ini beda dengan, katakanlah, Go-Jek. Yang dijual memang data," lanjutnya.

Sebenarnya keheranan serupa terjadi di Amerika Serikat. Namun, meski awalnya dipertanyakan, uang besar-besaran yang mengalir ke kedai kopi belakangan tampak bisa dimaklumi atau malah jadi tren baru pendanaan di jagat ventura.

Alasan utamanya: investor melihat potensi nilai pasar kopi AS sekitar 12,9 miliar dolar per tahun.

Beberapa contoh kedai kopi yang mendapat pendanaan besar di AS adalah Kitu-Life, Rise Brewing, hingga Wandering Bear. Menurut Matt Bachman, pemilik Wandering Bear yang menerima modal ventura 10,5 juta dolar, pendanaan ke kedai kopi bisa jadi akan populer di masa depan.

“Sebab trennya berubah menjadi dari bawah ke atas. Jadi perusahaan kecil yang bikin sesuatu yang beda dalam skala kecil, lantas populer, maka akan diadopsi ke ranah yang lebih luas,” ujarnya kepada Inc.

Sebenarnya, sama dengan yang terjadi di AS, investor yang menanamkan investasi di Kopi Kenangan ataupun Fore bisa jadi tergiur dengan pangsa pasar kopi susu kekinian yang terus berkembang.

Kopi Kenangan menargetkan bisa menjual satu juta gelas per bulan. Jika mematok harga terendah Rp18 ribu, Kopi Kenangan bisa punya omzet Rp18 miliar per bulan.

Andai investasi yang ditanamkan ke kedai kopi ini tampak membuahkan hasil dengan benderang, bukan tak mungkin kedai-kedai kopi selain Kopi Kenangan dan Fore akan mendapat pendanaan serupa.

Baca juga artikel terkait KEDAI KOPI atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight