Kecantikan Tubuh dan Vagina Pengaruhi Aktivitas Seksual Perempuan

Ilustrasi perawatan vagina. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 16 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Agenda utamanya bukan mengubah wajah atau bentuk vagina agar lebih cantik, tapi membangun intimate beauty agar perempuan bisa merasa aman dan nyaman dengan tubuh mereka.
tirto.id - Jadi perempuan itu susah. Sudahlah sering jadi korban kejahatan seksual, harus juga bertarung melawan diri sendiri karena stigma soal kecantikan merenggut hak-hak seksualitas mereka.

Ringkasan penelitian di seluruh dunia mengungkapkan: ketika melakukan hubungan seksual, secara umum 75 persen laki-laki selalu mendapatkan orgasme, tapi hanya 29 persen perempuan yang mendapat hal serupa. Kenapa?

Banyak faktor yang jadi penyebab kondisi tersebut dan persepsi terhadap citra diri adalah salah satunya. Apalagi hal yang paling bikin perempuan keki dan uring-uringan seharian kalau bukan soal penampilan? Dalam masalah seksualitas, berlaku prinsip yang sama.

Perempuan sangat bisa menghindari hubungan seksual meski sudah ‘turn on’ akibat tidak siap dengan tubuhnya. Bahkan ada yang sengaja memilih berhubungan intim dalam keadaan gelap akibat tidak percaya diri dengan bentuk badan mereka. Hal-hal tersebut membuat aktivitas seksual pada perempuan tidak menyenangkan.


Penelitian dari Sexual Medicine Journal (PDF, 2016) membuktikan: delapan puluh perempuan yang mengaku aktif secara seksual menyatakan adanya hubungan antara citra tubuh terhadap pengalaman seksual. Perempuan dengan persepsi negatif terkait citra tubuh semakin berpeluang tidak menikmati hubungan seksual mereka.

“Selama berhubungan seks, perempuan cenderung punya pikiran negatif terhadap tubuhnya dibanding pria, dan itu bikin mereka jadi cemas sendiri,” tulis peneliti.

Penelitian lain yang dilakukan di Australia bahkan menyebut ketidakpuasan perempuan terhadap citra dirinya sudah terbentuk sejak kecil.

Anak perempuan berumur empat tahun, hingga remaja awal di usia 11 tahun merasa tubuhnya tidak ideal dan mendambakan bobot badan lebih rendah. Padahal, di rentang umur tersebut anak masih dalam masa pertumbuhan. Berat badannya juga masih sangat mungkin berubah di kemudian hari.

Meski sekarang tengah gencar kampanye yang ditujukan supaya perempuan mencintai bentuk tubuh mereka, namun faktanya lebih banyak kelompok yang termakan konsensus umum soal kecantikan. Psychology Today mengatakan sebanyak 56 persen perempuan tak puas pada penampilan mereka.


Dari jumlah tersebut ada presentase sebesar 71 persen yang menganggap bagian perut mereka kurang bagus, 66 persen tak mau berdamai dengan berat badan, 60 persen merasa pinggulnya tidak sempurna, dan 58 persen terganggu akibat ototnya mulai mengendur.

Tapi mengapa citra diri sangat mempengaruhi hubungan seksual pada perempuan?

“Perempuan gemuk umumnya dipandang malas dan tidak menarik secara seksual,” demikian laman Live Science menjawab pertanyaan tersebut.

Genital Ideal Dambaan Perempuan

Sekali lagi: memang susah jadi perempuan. Selain dilabeli dengan stigma citra diri dalam seksualitas, kerap kali mereka terpentok jalan buntu akibat tabu informasi.

Jennifer L. Montesi, dkk dalam Journal of Social and Personal Relationships mengatakan, perempuan cenderung tertutup mengomunikasikan seksualitas [dibanding laki-laki] karena terkungkung ketabuan.

Hal tersebut lagi-lagi berujung pada berkurangnya kepuasan seksual mereka secara signifikan. Padahal, jika mau ditelusuri, rasa ingin tahu perempuan soal seksualitas hampir sama dengan lelaki.

Stephens-Davidowitz dalam laman Psychology Today mengungkapkan bahwa perempuan menjelajah informasi soal vagina hampir sesering pria dalam mencari tahu tentang penis. Namun, ada hal lain: “Kekhawatiran terbesar perempuan adalah soal bau genital,” ungkap Davidowitz.


Fakta tersebut menambah lagi deretan masalah citra diri perempuan yang berakibat pada masalah seksual mereka. Apalagi belakangan, standar kecantikan jadi meluas tak cuma soal penampilan wajah saja, tapi juga genitalia. Banyak perempuan berusaha mengubah penampilan organ genital mereka agar berwarna lebih jambon.

Citra tubuh positif, termasuk kecantikan area genital dianggap kunci dari kesehatan seksual dan reproduksi. Padahal, sebenarnya, tak ada standar kecantikan tertentu untuk vagina. Ekspektasi tinggi soal tampilan vagina yang “sedap dipandang” bisa menurunkan rasa percaya diri pada perempuan, sehingga berpotensi mengganggu kehidupan seksual mereka.

Tak perlu berlebihan membangun standar terhadap kecantikan genital. Cukup vagina yang sehat, tanpa adanya bau (atau sedikit beraroma asam, namun tidak menyengat) sebagai kunci kesehatan reproduksi. Perempuan perlu waspada ketika ada aroma mengganggu dari area genital karena merupakan indikasi jamur, parasit, atau infeksi lain.

Kondisi itulah yang dikategorikan mengganggu aktivitas seksual. Selain menyulitkan pasangan melakukan penetrasi, infeksi vagina juga membuka risiko penularan penyakit. Jika tak segera diatasi, maka jangka panjangnya akan menurunkan minat kedua pihak melakukan hubungan seksual.

“Bila penetrasi dilakukan, pria jadi ingin cepat-cepat menyelesaikan hubungan seksual padahal perempuannya belum klimaks,” kata Seksolog Haekal Anshari dalam acara Pillow Talks with Andalan: The Untold Facts of Intimate Beauty, Rabu (4/9/2019).



Menjaga Kesehatan Genital

Ada perempuan yang memilih menjaga tampilan genital mereka dengan melakukan peremajaan vagina (labioplasti dan vaginoplasti). Tapi ada kelompok perempuan lain yang menjalani cara lebih umum dengan diet, senam kegel, atau memakai cairan pembersih vagina.

Rata-rata, alasan perempuan penggunaan pembersih vagina adalah untuk mencegah keputihan. Metode douching, sabun kewanitaan, antiseptik berbentuk tisu, roll on, dan semprotan banyak diproduksi untuk mengugurkan kekhawatiran soal kebersihan genital perempuan.

Tapi manakah produk yang benar-benar bisa menjaga kesehatan vagina?

Sebelum memilih produk mana yang akan dipakai, sebaiknya kita harus lebih dulu paham kondisi normal dalam vagina. Setelah usus, organ reproduksi ini memiliki lebih banyak bakteri dibanding bagian tubuh lainnya.

Bakteri tersebut berfungsi untuk melindungi vagina, menjaga keseimbangan pH vagina (kurang dari 4,5) supaya tetap asam. Dengan begitu keseimbangan koloni bakteri juga akan terjaga dan mencegah pertumbuhan buruk organisme lain. Jika pH vagina meningkat (menuju basa), maka jumlah bakteri baik (lactobacilli) akan menurun.


Padahal, bakteri baik bertugas untuk mengurangi atau membunuh bakteri jahat yang masuk ke vagina. Mereka juga menghasilkan zat yang mampu menghentikan bakteri lain menyerang jaringan atau menempel di dinding vagina.

Penurunan jumlah koloni lactobacilli akan memicu infeksi seperti vaginosis bakteri atau sariawan, yang dapat membikin gejala gatal, iritasi, dan keputihan tidak normal.

Itulah alasan di balik penggunaan asam (atau cuka dalam metode douching) pada produk-produk pembersih vagina. Tapi, seperti ulasan Tirto sebelumnya, banyak produk pembersih justru membikin keseimbangan koloni vagina terganggu karena mengandung antiseptik dan pengharum berlebih.

“Pilih produk yang mengandung prebiotik lactobacillus, bukan antiseptik, karena antiseptik akan membunuh bakteri (baik) yang seharusnya ada di vagina,” saran Dinda Derdameisya, dokter spesialis kandungan.

Ia menambahkan, pembersih vagina aman digunakan selagi kandungannya tidak berbahaya dan digunakan secara wajar. Sabun kewanitaan yang mengandung prebiotik alami dapat membantu menjaga keasaman area vulva dan mengaktifkan bakteri baik. Di pasaran Indonesia, salah satu produk yang didesain memiliki kandungan tersebut adalah Andalan Feminine Care.


Sementara untuk penggunaan sabun, Dinda melarang pembasuhan sampai ke liang vagina. Pembersihan pada bagian dalam vagina hanya boleh dilakukan oleh profesional medis. Sementara sabun pembersih diperuntukkan guna memutus serangan kuman dari luar.

Untuk intensitas penggunaan, Dinda menyarankan pemakaian sabun pembersih tiga kali dalam seminggu dalam kondisi normal. Tapi jika aktivitas sedang tinggi dan banyak mengeluarkan keringat, maka bisa digunakan setiap hari.

“Vagina kan memiliki kemampuan membunuh bakteri. Kalau tidak ada masalah, ya, tidak perlu pakai sabun setiap hari,” ujarnya.

Ada pun yang terpenting dari kesemuanya adalah membangun intimate beauty/wellness pada perempuan. Dengan begitu. Perempuan bisa merasa aman dan nyaman dengan kecantikan diri dan organ kewanitaannya sehingga sama-sama mendapat pengalaman seksual yang menyenangkan.

Baca juga artikel terkait KECANTIKAN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight