Menuju konten utama

Kebiasaan yang Bikin Ponsel dan Media Sosial Riskan Diretas Hacker

Cara agar ponsel dan media sosial tak diincar hacker yakni dengan menghindari kebiasaan yang mengundang kejahatan siber.

Kebiasaan yang Bikin Ponsel dan Media Sosial Riskan Diretas Hacker
Ilustrasi laman login di ponsel. FOTO/Istock

tirto.id - Seiring dengan perkembangan teknologi ponsel dan media sosial, semakin berkembang pula kejahatan siber. Kemudahan aksesnya membuat siapa saja bisa jadi incaran penjahat siber. Ponsel dan akun media sosial pun riskan diretas.

Menurut penelitian perusahaan keamanan digital Iovation berbasis di AS, sebagaimana dikutip dari Reader's Diegest, sebanyak 59 persen transaksi berisiko di Amerika Utara terjadi pada perangkat seluler.

"Penipu seperti bunglon [...] membuat mereka terlihat seperti pelanggan sah," kata Direktur Senior Pelanggan Iovation, Melissa Gaddis.

Menurutnya ada kesalahpahaman bahwa ponsel tidak sama dengan komputer yang rentan diretas.

"Mungkin pernyataan itu benar ketika ponsel pertama kali muncul, tapi kini dengan semakin banyaknya orang, peretasan di ponsel pribadi tak bisa dihindari lagi. Setidaknya 1 dari 100 orang di jalan kemungkinan memiliki virus di ponsel pribadi mereka," kata Melissa.

Hal ini menjadi masalah lain yang membuat banyak orang tidak mengerti dan tidak menyadari seberapa besar ponsel pribadi mereka memiliki risiko sama.

Apalagi ketika pengguna sering mengakses email dan akun media sosial melalui ponsel pribadi.

Oleh karenanya, sejumlah pakar menyarankan beberapa hal yang harus dihindari dalam kebiasaan sehari-hari untuk pemakaian ponsel pribadi.

Pertama, hindari menggunakan Wi-Fi publik yang tersedia secara gratis. Sebab, menurut CEO keamanaan BullGuard, Paul Lipman, jaringan Wi-Fi terbuka ini membuka peluang bagi penjahat siber untuk menyusupkan perangkat lunak berbahaya ke dalam ponsel.

Selanjutnya, menurut Direktur Produk Allot, Moshe Elias, hindari juga penggunaan pengisi daya melalui USB baik dari komputer umum atau stasiun pengisian daya yang terkoneksi internet.

Sementara itu, menurut laman Harvard Business Review, ada beberapa hal yang dapat dilakukan pengguna ponsel untuk menghindari aksi kejahatan siber.

  • Ubah kata sandi atau password secara berkala
  • Hindari penggunaan kata sandi 0000, 1234, hari ulang tahun, atau kode yang mudah ditebak oleh orang lain
  • Selalu perbarui sistem operasi ponsel dan buat cadangan penyimpanan secara teratur
  • Gunakan alamat email khusus untuk otentikasi dan reset nomor PIN
  • Alamat email harus berbeda dengan email pribadi yang biasa digunakan sehari-hari
  • Hati-hati dalam memasang aplikasi dari sumber yang tidak dikenal
  • Unduh aplikasi hanya melalui App Store, Google Play, atau sumber resmi lainnya
  • Jangan mengakses informasi sensitif seperti mobile banking saat menggunakan Wi-Fi publik
  • Matikan fitur Bluetooth ponsel saat tidak digunakan
  • Aktifkan fitur "Find my phone" untuk mengantisipasi jika ponsel hilang atau dicuri
  • Usahakan untuk tidak menyimpan informasi penting di ponsel terlalu lama
  • Pindahkan foto dan dokumen secara berkala ke perangkat yang lebih aman
  • Pasang pelindung layar yang tidak dapat ditembus atau dilihat oleh orang lain untuk menjaga privasi

Kata Sandi Kurang Aman Paling Sering Dipakai

National Cyber Security Center (NCSC), perusahaan keamanan berbasis di Inggris, sebagaimana diwartakan CNN, mengungkap daftar password kurang aman yang paling umum digunakan.

Dipublikasikan pada April 2019, survei NCSC menganalisa kata sandi para pengguna di seluruh dunia yang pernah dibobol.

Berikut daftar password paling umum yang kurang aman menurut NCSC:

  1. "123456"
  2. "123456789"
  3. "qwerty"
  4. "password"
  5. "111111"
  6. "12345678"
  7. "abc123"
  8. "1234567"
  9. "password1"
  10. "12345"

Tak hanya itu, NCSC melalui surveinya juga mengungkap bahwa pengguna yang memilih kata sandi kombinasi antara angka dan huruf merujuk ke nama band populer, yaitu "blink182". Mereka juga memakai kata sandi dari tokoh fiksi, salah satunya "superman".

Kata sandi yang mengadopsi nama-nama di dunia olahraga juga populer digunakan oleh pengguna. Beberapa nama klub sepak bola Inggris dipilih, mulai "arsenal", "chelsea", "manchester united", hingga "manchester city".

NCSC juga mengungkap password berupa kata-kata yang mudah ditebak, seperti "iloveyou", "monkey", dan "dragon".

Cara Buat Kata Sandi Sukar Ditebak

Melansir Forbes, kata sandi yang aman disarankan terdiri dari empat komponen, yakni urutan huruf, urutan angka, "identitas", dan urutan simbol.

Urutan huruf sebaiknya terdiri dari minimal 4 huruf dengan kombinasi huruf besar dan kecil. Urutan huruf ini dapat berupa kata atau singkatan dari kata yang mungkin bermakna bagi pengguna agar mudah diingat, tetapi tetap sulit ditebak. Misalnya terinspirasi dari nama "Budiman" dapat disingkat menjadi "diMaN" saja.

Untuk urutan angka, pengguna juga dapat memilih paling tidak empat angka yang bermakna agar mudah diingat. Misalnya, pengguna yang lahir pada tanggal 1 bulan 8 dapat menggunakan kombinasi pola "1881" atau "8118".

Menggunakan urutan angka langsung berdasarkan tanggal lahir kurang direkomendasikan karena mudah ditebak.

Komponen berikutnya adalah "identitas" yang dapat digunakan agar kata sandi semakin unik dan sulit ditebak. Disarankan menggunakan hal-hal yang bermakna atau akrab, misalnya jika pengguna lahir di Semarang, maka dapat menggunakan akronim "SMG".

Untuk urutan simbol, pengguna dapat memilih simbol dengan pola tertentu yang mudah diingat. Pastikan juga, simbol yang digunakan juga terdapat di keyboard ponsel, misalnya simbol "**##".

Langkah terakhir untuk mendapatkan kata sandi yang unik, rumit, tetapi mudah diingat adalah menggabungkan keempat elemen tersebut menjadi sebuah kata sandi.

Misalnya menggabungkan dari contoh-contoh di atas menghasilkan kata sandi "diMaN8118SMG**##". Kata sandi tersebut tampak rumit, tetapi mudah diingat karena komponennya berasal dari hal-hal yang bermakna bagi pengguna.

Baca juga artikel terkait HACKER atau tulisan lainnya dari Adrian Samudro

tirto.id - Teknologi
Kontributor: Adrian Samudro
Penulis: Adrian Samudro
Editor: Ibnu Azis