Kebahagiaan Sukarno Kala Menyambut Kelahiran Anak Pertama

Oleh: Petrik Matanasi - 17 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Guntur Sukarnoputra adalah anak laki-laki yang diharapkan kelahirannya. Sukarno bahagia sekali ketika dia lahir.
tirto.id - Bagi Ir. Sukarno, kelahiran Guntur Sukarnoputra adalah momen penting dalam hidupnya. Bisa jadi jauh lebih penting daripada kelahiran anak keduanya. Sejak lama Sukarno ingin punya anak laki-laki, bahkan sebelum Fatmawati jadi istri Sukarno.

Sejak masih hidup bersama Inggit Garnasih, Sukarno begitu ingin punya anak laki-laki. Masalahnya, Inggit semakin menua dan sulit untuk punya anak. Harapan dapat anak laki-laki dari Inggit tentu mustahil.

Kehadiran Fatmawati dalam hidup Sukarno—sebelum Inggit angkat kaki dari rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta—tampaknya membuat angan Sukarno untuk punya anak, bahkan yang berkelamin laki-laki, jadi semakin mungkin. Waktu Sukarno mengajukan keinginan kepada istri yang berumur jauh lebih tua darinya itu untuk kawin lagi, Inggit menolak.


“Beberapa saat aku diam. Aku pun bisa mengerti bahwa bisa saja laki-laki mendambakan anak. Namun, kalau ia mau memadu aku, oh, tidak mungkin,” renung Inggit, seperti digambarkan Ramadhan K.H. dalam Soekarno: Kuantar Ke Gerbang (2014: 394).

Sukarno tahu Inggit tak suka dimadu, bahkan memberi tawaran cerai. Tapi Sukarno pantang melepaskan perempuan hebat yang merasakan duka zaman pergerakan nasional. Sukarno ogah menceraikan Inggit, namun terus maju demi Fatmawati. Toh, akhirnya Inggit minggat juga.

Meski makan perasaan akan kepergian Inggit, jalan menikahi Fatmawati makin terbuka lebar. Kun faya kun, jadilah kemudian Fatmawati bin Hasan Din sebagai istri daripada Ir. Sukarno.

Akhirnya Dapat Anak Juga

Pada 1943, Sukarno bukan lagi orang buangan yang pindah dari daerah terisolir satu ke yang lain. Sukarno sudah menetap di Jakarta. Dan begitu penting dirinya bagi militer Jepang di Jawa. Sukarno menderita sakit ginjal kala itu. Beruntung ada Fatmawati yang menemaninya. Fatmawati alias Fat masih muda. Perempuan kelahiran 5 Februari 1923 ini masih berumur 20-an waktu dikawin Sukarno.

Apa yang dimaui Sukarno pun terkabul. Tak hanya menikahi Fat yang menarik hatinya, tapi juga mendapat kabar kehamilan Fat di tahun 1944. Sukarno sudah pasti senang.

Dalam autobiografinya yang disusun Cindy Adam, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2007: 222-223), Sukarno mengaku, “[...] aku tak sanggup melukiskan kebahagiaanku menerima anugrah ini. Aku berumur 43 tahun dan akhirnya Allah mengaruniaiku seorang anak.”

Sukarno yang bahagia mengabari orang tua dan saudaranya di Blitar. Kabar gembira itu ditindaklanjuti oleh ayah, ibu, dan saudarinya dengan berangkat ke Jakarta. Mereka tinggal di paviliun rumah Pegangsaan Timur 56 itu. Tak hanya orang tua Sukarno, orang tua Fat pun datang.

“Sebulan sebelum kelahiran puteraku yang pertama, datang mertuaku dari Blitar. Mertuaku tinggal di paviliyun bersama ayah dan ibuku,” aku Fatmawati dalam Catatan kecil bersama Bung Karno, Volume 1 (1978: 49).

Tujuan mereka sama: menanti kelahiran bayi di dalam rahim Fat.

“Bapaklah yang mengawasi seluruh kegiatan menjelang kelahiran bayi. Dia duduk berjam-jam memberi petunjuk kepada Fatma, bagaimana dia harus mempersiapkan diri,” aku Sukarno.

Raden Soekemi Sosrodihardjo, bapak dari Sukarno, kerap memberi nasihat pada Fat. Setidaknya nasihat semacam “jangan lupa menambah pada catatan kita bedak bayi, pisau kecil untuk memotong tali pusar dan stagen untuk dirimu sendiri.”

Jelang kelahiran sang bayi, Sukarno masih asyik menerima tamu di rumahnya. Entah orang Jepang maupun Indonesia. Tiga minggu sebelum melahirkan, Fatmawati mengaku rumahnya didatangi utusan keraton. Mereka menginap di rumah itu. Meski hamil, Fatmawati ikut sibuk menjamu tamu yang datang.

Sukarno berusaha menjadi suami yang sempurna. Ia menunggui dan menemani istrinya melahirkan. Dalam Penyambung Lidah Rakyat, meski ngeri dengan darah, Sukarno menuturkan, “[...] aku sendiri yang menuntunnya ke kamar dan memanggil dokter. Sejak saat itu aku tak beranjak dari sisinya, atau memejamkan mata sedetikpun, sampai lahir anak laki-laki yang kutunggu-tunggu itu.”

Anak yang diinginkan Sukarno itu pun lahir pukul lima pagi ketika azan subuh menggema. Sukarno tentu bangga dengan momen itu. Anaknya, yang ternyata laki-laki, datang ke dunia ketika Tuhan memanggil umat Islam untuk sembahyang.

Infografik Guntur Sukarnoputro


Anak di Masa Susah

Anak laki-laki yang lahir pada 3 November 1944 itu diberi nama Guntur Sukarnoputra. Guntur adalah satu-satunya anak Sukarno yang kelahirannya ditunggui Soekemi. “Tuhan yang maha pengasih dan maha bijaksana telah memberi kesempatan pada ayahku untuk melihat darah dagingku lahir di dunia,” ujar Sukarno.

Tak lama kemudian, Soekemi jatuh sakit. Fat merawatnya sebelum akhirnya meninggal dunia.

Meski masih bayi, Guntur boleh dibilang saksi hidup dari Peristiwa Rengasdengklok yang bersejarah itu. Guntur kecil harus kehilangan botol susunya dalam momen tersebut. Revolusi tak hanya menghilangkan nyawa manusia, tapi juga botol susu bagi Guntur.

Rumah kelahiran Guntur pun akhirnya jadi tempat dibacakannya naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia, sehari setelah Guntur dibawa ke Rengasdengklok.


Guntur ikut serta ketika ibu kota berpindah ke Yogyakarta. Di kota gudeg inilah Guntur dapat adik sekaligus anak kedua Sukarno dan Fat. Pada awal 1947, dia dan istrinya ingin punya anak perempuan. Sukarno tak lupa bagaimana anak keduanya ini lahir.

“Saat itu guntur terdengar menggelegar. Istriku terbaring di kamar tidur yang telah diperlengkapi sebagai rumah sakit. Tiba-tiba lampu padam, atap di atas kamar itu runtuh, mega yang hitam dan padat terbuka dan air hujan mengalir ke dalam kamar seperti sebuah sungai,” kenang Sukarno dalam autobiografinya.

Fat pun pindah kamar bersama para dokter yang menungguinya. Anak kedua Sukarno itu pun lahir dalam keadaan gelap.

Anak itu bukan anak terakhir Sukarno dan Fat. Dengan istri-istrinya yang dinikahi setelah 1945, Sukarno punya beberapa anak lagi. Di antara anak-anak Sukarno, kelahiran Gunturlah yang tercatat begitu baik dalam autobiografinya, bukan yang lain.

Baca juga artikel terkait SUKARNO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan