Keajaiban Taktik Juanma Lillo Membuat Pep Guardiola Terpesona

Pep Guardiola. AP / Dave Thompson, Pool
Oleh: Renalto Setiawan - 5 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Guardiola rela menutup karier pesepakbola di klub gurem Meksiko demi dilatih Lillo. Bahu-membahu mendongkrak Manchester City.
Manchester City sedang menghadapi dua masalah besar dan belum tahu bagaimana jalan keluarnya. Yang pertama adalah soal penampilan angin-anginan di liga, yang membuat mereka gagal mempertahankan gelar. Setidaknya, selain tertinggal jauh dari Liverpool, City sudah kalah sebanyak delapan kali di sepanjang musim ini—jumlah kekalahan paling banyak di era Pep Guardiola.

Sedangkan masalah kedua bisa beranak-pinak. Pada Februari 2019 UEFA mengeluarkan sanksi tegas kepada City. Sanksi itu berbunyi bahwa The Citizen dilarang tampil di Liga Champions Eropa selama dua musim mendatang (2020-2021 dan 2021-2022) lantaran melanggar aturan FFP (Financial Fair Play). Apabila City gagal melakukan banding, sanksi itu jelas mengancam masa depan City: dari kehilangan pendapatan dalam jumlah besar, ancaman eksodus pemain bintang, hingga kehilangan Pep Guardiola.

Dampak terburuk yang dapat diterima City akibat masalah-masalah tersebut tentu saja adalah kepergian Guardiola. Bagaimanapun, pelatih asal Catalan tersebut merupakan salah satu alasan utama mengapa City mampu terus berprestasi dalam empat tahun belakangan. Jika City ingin kembali berprestasi di liga pada musim depan, mereka harus dapat memenuhi seluruh tuntutan Guardiola.

Namun, apabila sanksi UEFA tidak dapat disanggah, bagaimana bisa mereka meyakinkan Guardiola di tengah ancaman eksodus para pemain bintang dan dana cekak yang mengakibatkan mereka kesulitan untuk mencari para pemain-pemain pengganti? Belum lagi, untuk pertama kalinya sebagai pelatih, Guardiola juga tak akan memimpin sebuah tim di panggung Liga Champions Eropa.

Dari sinilah City kemudian mengambil jalan pintas setidaknya untuk memperbaiki keadaan. Pada awal Juni 2019 mereka merekrut Juanma Lillo sebagai asisten pelatih Guardiola, menggantikan posisi Mikel Arteta. Lillo, para pengamat sepakbola tahu, bukan orang sembarangan bagi Guardiola. Sam Lee, jurnalis The Athletic, bahkan menyebut orang ini bisa membuat Pep tetap bertahan di City seperti apapun keadaannya. Lain itu, Lee juga menulis:

“Sumber yang dekat dengan Pep dan Lillo meyakini: kedatangan Lillo akan menantang Pep untuk menciptakan perbedaan di City, barangkali melalui sebuah evolusi atau pendekatan taktik anyar.”


Mentor Pep Guardiola

Juan Manuel Lillo lahir di Tolosa, Spanyol, pada 3 November 1965. Bercita-cita menjadi pesepakbola sejak kecil, cita-citanya itu pupus sewaktu remaja. Konon, apa yang ada di dalam otaknya tak sejalan dengan kedua kakinya, sehingga ia tak mampu bermain sesuai dengan keinginannya. Maka, karena mencintai sepakbola, ia pun langsung banting setir menjadi pelatih sepakbola. Saat itu Lillo masih berusia 17.

Lillo bertemu Pep Guardiola pada 1996. Pertemuan itu terjadi saat Barcelona bermain tandang ke markas Real Oviedo arahan Lillo. Pep, yang saat itu masih berperan sebagai jangkar permainan Barcelona, membawa Barca unggul 2-4 atas tim tuan rumah. Namun Pep terkesan dengan permainan Oviedo dan menilai bahwa “ada sesuatu yang spesial” di balik penampilan tim asal Asturias tersebut.

Sejarah, seperti yang ditulis Paul Hirst dari The Times, kemudian mencatat: Pep nekat mengetuk pintu ruang ganti Oviedo, berkenalan dengan Lillo, dan memuji penampilan Oviedo.

Sejak itu Pep amat dekat Lillo. Ia sering mengunjungi Lillo, berbicara panjang lebar soal sepakbola. Lewat pertemuan-pertemuan itu, Pep kemudian yakin bahwa, sebagai pelatih, Lillo selevel dengan Johan Cruyff. Kemudian, di pengujung kariernya, Pep pun tak luput meminta saran kepada Lillo terutama soal keinginannya untuk menjadi pelatih sepakbola.

Masih menurut Sam Lee, ketika Pep bermain untuk Brescia, Pep dan Lillo pernah saling mengangguk setuju bahwa “latihan fisik di Italia berjarak amat jauh dengan ide mereka soal sepakbola”. Lain itu, ada satu kisah ajaib: demi belajar melatih dari Lillo, Pep rela menutup karier sepakbolanya di Dorados, klub yang berasal dari Sinaloa, salah satu kota yang terkenal sebagai pusat peredaran narkoba di Meksiko.

Kejadian ajaib itu bermula dari gagalnya Luis Bassat menjabat sebagai presiden Barcelona pada 2003. Menurut Lee, seandainya Bassat berhasil menjabat sebagai presiden, Bassat berencana menunjuk Lillo sebagai nakhoda anyar Barcelona. Sementara itu Guardiola akan ditunjuk sebagai direktur olahraga Barcelona. Pep antusias dengan rencana itu karena ia punya kesempatan untuk melihat langsung Lillo mempraktikkan ide-ide kepelatihannya. Sayangnya, Bassat kalah dari Juan Laporta. Lillo pergi ke Dorados. Pep menunda masa pensiunnya dan menyusul Lillo ke Meksiko.

Keputusan Pep tersebut lantas sempat dinilai mencoreng karier emasnya sebagai pesepakbola. Dorados hanya berkompetisi di divisi kedua liga Meksiko, berkualitas jauh di bawah Barcelona, Roma, atau bahkan Brescia. Guardiola, saat itu berusia 35, pun menerima gaji rendah, sekitar empat kali di bawah jumlah yang biasa ia terima. Namun, tulis Paul Hirst, “Pep pergi ke Dorados sebagai seorang profesional, tentu saja. Akan tetapi, dia datang ke kota berbahaya itu bukan untuk mencari kesuksesan. Ia datang ke Meksiko hanya untuk satu hal: dilatih langsung oleh Juanma Lillo.”

Kelak kebersamaan Pep dan Lillo di Dorados memang berlangsung tak sampai satu musim. Namun Pep menyebut bahwa ia sama sekali tak menyesali keputusannya. Kebersamaan itu, katanya, adalah salah satu pengalaman terbaik yang pernah ia miliki sebagai pesepakbola. Dengan terang-terangan, Pep bahkan mengatakan bahwa Lillo adalah “pelatih terbaik yang pernah melatihku.”

Yang menarik, berbeda dengan pandangan Pep, publik sepakbola Spanyol sejatinya mengenal Lillo sebagai seorang pecundang. Reputasi Lillo sebagai penemu formasi 4-2-3-1 dan sebagai pelatih termuda yang pernah melatih di La Liga kalah tenar dibanding sejumlah kegagalannya. Per 2018, David Garcia dalam “What if Success Looked Like Failure? A Story of Juanma Lillo” menyebut bahwa Lillo sudah melatih 18 klub dan dipecat 9 kali. Persentase kemenangan seluruh timnya itu pun hanya mencapai 37%. Dan ironisnya, kegagalan paling mengerikan Lillo, salah satunya, terjadi karena Pep Guardiola.

Pada 21 November 2010 Almeria arahan Lillo bertanding melawan Barcelona asuhan Pep Guardiola. Pertandingan itu berjalan tidak seimbang, sepenuhnya menjadi milik Barcelona. Sid Lowe, jurnalis Guardian, bahkan sampai menulis, “Almeria tidak berdaya dan tidak memiliki daya saing [...] Mereka bahkan sama sekali tidak mempunyai tenaga hanya untuk melanggar Lionel Messi.” Wahasil, Barca menang 0-8. Fans Almeria mengutuk Lillo dan keesokan harinya Lillo dipecat.

Meski begitu, siapapun yang mengenal Lillo tentu saja tak akan pernah sanksi terhadap pemikiran dan kemampuan melatihnya. Ia sering kalah karena ingin timnya tampil menghibur. Ia peduli dengan detail dan nyaris tak pernah menyalahkan para pemainnya. Ia terobsesi dengan positional play (juego de piscion) yang kemudian menjadi senjata ampuh Pep Guardiola.

Ide-ide Lillo bahkan pernah membuat Cesar Luis Menotti, pelatih legendaris Argentina, menyebut Lillo sebagai “pelatih gila yang mengerti cara bermain sepakbola dengan benar.” Sedangkan Mayer Candelo, mantan asuh Lillo di Millonarios, baru-baru ini memuji sang pelatih dengan cara lebih terang:

“Seandainya aku mulai dilatih Lillo ketika masih berusia 20 tahun,” kata Candelo, “aku pasti bisa bermain seperti (Lionel) Messi.”



Yang Penting adalah Proses

Sid Lowe pernah mewawancarai Juanma Lillo pada 2011. Dalam wawancara yang tayang di Blizzard tersebut, Lillo berbicara tentang banyak hal, dari pemikirannya tentang sebuah klub, caranya dalam melatih, kehidupan sosial, dan lain-lain. Hebatnya, Lillo mampu membicarakan hal-hal tersebut secara menarik sekaligus mampu memperlihatkan penyebab Pep Guardiola begitu menghormatinya.

Saat membicarakan tentang kecepatan seorang pemain, misalnya. Lillo mengatakan kebanyakan orang masih menyamakan kecepatan seorang pemain sepakbola seperti kecepatan dalam olahraga individual. Padahal kecepatan seorang pemain dalam sepakbola punya konsep berbeda: ia dipengaruhi oleh pengambilan keputusan, posisi rekan-rekannya, aliran bola, dan lain-lain. Jika tidak, kata Lillo, “Usain Bolt seharusnya bisa menjadi pesepakbola fenomenal.”

Lillo, dalam wawancara itu, juga menjelaskan bahwa pada dasarnya tak ada kinerja yang bersifat individual dalam sepakbola. Katanya, “Jika seorang pemain mendapatkan bola di daerah permainan sendiri, menggiring bola ke daerah lawan, lalu mencetak gol, sementara pemain-pemain lawan tak mengejarnya [...] itu bukan aksi individu. Ia bisa melakukan hal itu karena pemain lawan memilih untuk diam. Singkatnya, apa yang dilakukan orang lain membuat Anda mengambil keputusan ini dan itu.”

Lalu, ada satu pernyataan Lillo yang paling mengena. Saat ia mengatakan secara terang-terangan bahwa ia tahu alasan mengapa seorang presiden klub memecat seorang pelatih, tapi tak tahu alasan mengapa seorang presiden klub mempekerjakan seorang pelatih, Lillo mempunyai dasar yang kuat.

Bagi Lillo, hal utama dalam sepakbola adalah sebuah proses. Hasil memang menentukan, tapi kata Lillo, “kalah bukan berarti bermain buruk, dan menang bukan berarti bermain bagus.” Ia lantas menambahkan bahwa hasil hanyalah perkara data. Lain itu, “Kepuasan datang karena proses. Anda akan berdebat soal jalannya pertandingan bukan hasilnya. Hasil, tentu saja, tidak dapat diperdebatkan.”

Untuk memperkuat argumennya itu, Lillo menggunakan sebuah analogi: “Dalam lomba lari, Anda terus berada di depan peserta lain hampir di sepanjang perlombaan. Namun, mendekati garis finis Anda disalip oleh peserta lainnya. Dan? Apakah Anda akan menulis bahwa semuanya sudah berakhir? (Yang terpenting) Anda sudah berlari dengan secara brilian.”

Dari sanalah Lillo tak tahu alasan mengapa para presiden klub mempekerjakan seorang pelatih. Jika mereka hanya menilai pertandingan sepakbola hanya berdasarkan hasil, mengapa mereka menginginkan seorang pelatih dengan filosofi seperti ini atau seperti itu. Dan dari hal itu pula banyak orang yang benar-benar mengerti sepakbola sangat menghargai pemikirannya. Guardiola adalah salah satu. Dan sekarang, pelatih Manchester City tersebut memang benar-benar membutuhkan bantuan Lillo.

Baca juga artikel terkait PEP GUARDIOLA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight