Katto Bokko, Tradisi Kerajaan Adat Marusu

undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
Katto Bokko merupakan tradisi leluhur Kerajaan Adat Marusu, wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh tahun ini. Dan berharap hasil yang sama baiknya tahun mendatang.
23 Agustus 2016
Di bawah terik matahari puluhan warga tua, muda dan anak-anak bergotong royong memanen padi, pada rangkaian pesta adat Katto Bokko Kerajaan Adat Marusu di Kelurahan Baju Bodoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Padi yang dipanen adalah padi bulu varietas lokal langka bernama Ase Lapang yang telah dibudidayakan turun temurun selama berabad-abad di sawah To Rannu, lahan adat kerajaan yang khusus ditanami Ase Lapang sekali setahun.

Padi jenis Ase Lapang dulunya menjadi andalan petani Maros, namun karena masa panen yang terlalu panjang, kini hanya kerajaan Marusu saja yang mempertahankannya. Beras dari Ase Lapang berwarna putih terang, beraroma harum. Pada masa Presiden Soekarno, kebutuhan beras di Istana Negara dipasok dari Maros, selain itu Ase Lapang juga pernah menjadi andalan ekspor Makassar ke Malaka, Siam, Myanmar dan Makau pada abad 16.

Masyarakat yang memanen Ase Lapang harus menggunakan ani-ani, hasil panen diikat dalam rumpun ikatan-ikatan besar dan kecil, yang selanjutnya diarak menuju kompleks Balla Lompoa, istana Kerajaan Marusu di Baju Bodoa. Arak-arakan disambut prosesi adat yang dipimpin Raja Adat Marusu ke-24, Andi Waris Karaeng Sioja beserta pemuka adat dan keluarga kerajaan dan disaksikan tamu undangan.

Setelah itu rumpun padi disimpan secara khusus di Balla Lompoa yang nantinya menjadi bibit di musim tanam selanjutnya serta menjadi hidangan nasi pada gelaran Katto Bokko tahun depan.

Katto Bokko merupakan tradisi leluhur yang merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh tahun ini. Dan berharap hasil yang sama baiknya tahun mendatang.

Foto dan Teks: Dewi Fajriani

Editor: Taufik Subarkah