Kasus Penembakan Selama Maret 2019, dari Selandia Baru hingga AS

Oleh: Yandri Daniel Damaledo - 28 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Selama Maret 2019, setidaknya terjadi 3 penembakan yang menyasar warga sipil, mulai dari kasus di Christchurch, Utrecht, hingga di Mali.
tirto.id - Penembakan di Seattle, Amerika Serikat (AS) pada Rabu (27/3/2019) menyebabkan 2 orang tewas dan 2 lainnya luka-luka.

Belum diketahui secara jelas, apa motif dari penembakan yang dilakukan oleh pria 33 tahun yang identitasnya belum dibuka secara jelas oleh oleh kepolisian setempat.

Selain di Seattle, AS, selama Maret 2019 ini sudah terjadi beberapa kasus penembakan, di antaranya Christchurch, Utrecht, dan Mali.

Berikut adalah daftar kasus penembakan selama Maret 2019.

Penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru

Pada Jumat (15/03/2019) pukul 12.00 siang waktu Selandia Baru, terjadi penembakan secara brutal yang menewaskan 50 jemaat masjid Christchurch.

Brenton Tarrant, 28 tahun, sudah di tetapkan menjadi tersangka dalam kasus ini. Tarrant juga sudah dipenjarakan untuk menunggu sidang yang akan berlangsung pada 5 April mendatang.

Tarrant melakukan penembakan secara brutal dan menyiarkannya secara live di akun Facebook miliknya. Motif penembakan ini adalah sebagai gerakan untuk menentang para imigran.

Penembakan Utrecht, Belanda

Senin (18/03/2019), pukul 10.45 pagi waktu Belanda, terjadi penembakan yang menewaskan 3 warga Utrecht dan 5 lainnya luka-luka.

Kasus ini memunculkan dua terduga tersangka yang salah satu identitas pelakunya tidak diberitahukan pihak kepolisian Utrecht.

Sementara satu tersangka lainnya bernama Gokmen Tanis, 37 tahun, berkewarganegaraan ganda Belanda – Turki.

Motif dari penembakan Utrecht ini belum diketahui hingga sekarang, namun kepolisian Utrecht memastikan kasus ini tidak ada hubungannya dengan kasus penembakan yang terjadi di Selandia Baru.

Penembakan Mali, Afrika Barat

Sebanyak 153 orang warga suku Fulani di Mali, termasuk ibu hamil dan anak-anak, tewas dalam tragedi penembakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok jihad yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dan ISIS, pada Sabtu (23/03/2019). Selain korban tewas terdapat juga 73 korban luka-luka.

Pemburu dari komunitas Dogon adalah pihak yang diduga menjadi pelaku penembakan terhadap warga Fulani. Motif dari penembakan antar etnis ini disebabkan adanya perang etnis.

Etnis Fulani juga di tuduh memberikan dukungan kepada pengkhotbah yang dianggap kejam, Ahmadou Koufa.


Baca juga artikel terkait KASUS PENEMBAKAN atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Agung DH