Kasus Melonjak, Stok Obat COVID Kemkes Setahun Habis dalam Sebulan

Reporter: Irwan Syambudi - 19 Jul 2021 18:36 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Obat-obatan COVID cepat habis dalam waktu sebulan imbas lonjakan kasus.
tirto.id - Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Arianti Anaya menyatakan kebutuhan obat COVID-19 melonjak tajam seiring dengan terjadinya peningkatan kasus. Buffer stok atau cadangan obat selama setahun pun sudah habis, sehingga sempat terjadi kelangkaan.

"Memang kita punya buffering [obat COVID-19], tetapi buffer kami yang kami siapkan untuk satu tahun ini pun habis tidak sampai satu bulan. Ini buffer kami sudah habis dan sedang melakukan pengadaan kembali,” kata Arianti dalam acara webinar yang disiarkan melalui akun YouTube Persi, Senin (19/7/2021).

Ia bilang pengadaan cadangan obat itu masih memerlukan pengajuan anggaran terlebih dahulu, sehingga saat ini proses pengadaan obat cadangan untuk COVID-19 masih diupayakan.

“Inilah yang terjadi kondisi sekarang," ujarnya.

Ia memang mengakui terjadi kelangkaan obat COVID-19 lantaran terjadi penambahan kasus COVID-19 meningkat secara eksponensial.

Selama Juli terdapat sejumlah angka tertinggi. Kasus harian sempat menyentuh angka 57 ribu. Sedangkan kematian baru menyentuh angka hingga di atas 1 ribu dalam tiga hari berturut-turut. Posisi Indonesia itu disebut telah menjadi episentrum COVID di Asia melampaui India.

Namun berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan obat telah diupayakan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, kata dia, sudah melakukan berbagai upaya untuk mengambil langkah segera. Salah satunya adalah mencegah panic buying bagi masyarakat yang tidak memerlukan obat.

Untuk menghindarkan panic buying itu, kata Arianti, di antaranya dengan menginisiasi program telemedicine yang memungkinkan masyarakat atau pasien COVID-19 dapat memesan obat COVID-19 secara gratis sesuai kebutuhan.

Upaya lain adalah membuat obat terpantau daring lewat situs farmaplus.kemkes.go.id yang terkoneksi dengan 5.000 lebih apotek di Indonesia.

Kendati demikian, tidak semua COVID seperti remdesifir dan tocilizumab tidak bisa diakses di lewat apotek dalam Farmaplus. Sedangkan favpirafir dan avigan sudah diberikan izin untuk bisa dijual di apotek, tetapi memang masih ada beberapa distributor yang terkendala dengan administrasi.

Kebutuhan dalam jumlah besar dan mendesak juga dialami oleh rumah sakit. Arianti berjanji menghubunhkan rumah sakit dengan distributor obat. Tujuannya obat-obatan COVID yang masih impor seperti tocilizumab dan remdesifir dapat segera diimpor secepat mungkin lewat jalur khusus atau special access scheme (SAS).

Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Kuntjoro Adi Purjanto mengatakan upaya menjembatani distributor obat dengan pihak rumah sakit memang harus segera dilakukan mengingat kebutuhan obat COVID-19 yang mendesak untuk para pasien COVID-19 yang sedang dirawat.

“Ini adalah masa darurat perlu ekstra ordinary. Jadi pertemuan semacam ini akan terjadi setiap saat dan mendadak karena ini dibutuhkan secepatnya,” kata Kuntjoro.


Baca juga artikel terkait OBAT COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Zakki Amali

DarkLight