Menuju konten utama

Kasus Makelar Skor PSSI dan Janji yang Terus Menumpuk

PSSI bukan milik segelintir orang, maka dari itu publik harus aktif mengawasi.

Kasus Makelar Skor PSSI dan Janji yang Terus Menumpuk
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi memberikan kata sambutan pada Kongres PSSI di Jakarta, Kamis (10/11). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kembali dihantam isu skandal match fixing atau pengaturan skor pertandingan sepakbola. Kasus itu menambah tumpukan berbagai masalah yang tak kunjung dituntaskan PSSI.

Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria mengatakan, Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan lembaga swasta untuk mencatat data-data pertandingan sepakbola di liga tanah air. Data tersebut bisa dianalisis untuk mendeteksi apakah ada kecurangan atau tidak.

"Itu sudah berjalan sejak awal tahun ini dan dipantau mulai dari liga paling tinggi sampai dengan paling rendah. Laporan mereka kirimkan secara live dan apabila ada pertandingan yang perlu diinvestigasi lebih lanjut, itu PSSI akan menindaklanjuti dengan investigasi lebih lanjut," kata Tisha di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (30/11/2018).

Lembaga yang dimaksud oleh Tisha adalah Geniussports yang bertempat di 16 negara dengan kantor pusat di London, Inggris. Dalam laman resminya, Geniussports juga mencantumkan PSSI sebagai salah satu partner mereka dari 500 badan olahraga yang menjalin kerja sama.

PSSI belum tercatat sebagai kategori 'integrity partner' oleh Geniussports (Genius Sports Group) seperti halnya England Premier League. Perlu diingat, selain bekerja sama dengan badan olahraga, Geniussports juga bekerja dengan situs perjudian resmi di dunia seperti bet365.

Tisha menjelaskan, hanya dua kategori laporan pertandingan dari Geniussports. Pertama yellow flag dan satunya adalah red flag. Yellow flag artinya ada indikasi kecurangan, tetapi hanya tanda-tanda dan belum pasti.

Sedangkan untuk red flag berarti kemungkinan besar memang terjadi kecurangan, dan harus dilakukan investigasi. Tisha mengaku sejak sekitar 4 bulan lalu investigasi itu sudah mulai dilakukan.

"Kami hanya mendapatkan red flag seluruh pertandingan itu dua dan itu sudah dalam investigasi sejak beberapa bulan yang lalu. Sisanya itu dari yang yellow kami investigasi ternyata tidak karena itu adalah algoritma yang memang harus dites juga terlebih dahulu," jelasnya.

Ampuhkah Investigasi Tertutup Itu?

Nyaris setiap ada masalah, PSSI melemparkan janji manis akan menuntaskannya melalui jalur investigasi. Bukan hanya kasus makelar skor pertandingan, usai Haringga Sirla, suporter bola, dibunuh di luar stadion Gelora Bandung Lautan Api, Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi juga berujar hal serupa.

Saat itu Edy memastikan PSSI telah membentuk tim investigasi dan akan membuat prosedur pertandingan mencegah kejadian serupa terulang. Namun beberapa bulan setelahnya, dalam pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya, nyanyian dengan lirik berisi ancaman membunuh masih terdengar. Investigasi dan prosedur yang dijanjikan Edy tak berfungsi.

Pola yang serupa terjadi pada kasus pengaturan pertandingan antara Madura FC dan PSS Sleman ini. PSSI mengklaim sudah mengetahui adanya dugaan itu sejak sekitar empat bulan lalu.

Namun sampai sekarang hasil investigasi itu tidak ada. Tisha malah mengatakan investigasi itu tidak dilakukan lagi. Hanya saja komdis PSSI sedang menjalankan proses persidangan untuk menentukan apakah ada pengaturan pertandingan atau tidak.

Apa hasil investigasi tersebut?

"Proses ini bersifat rahasia karena ini investigasi, kalau bersifat terbuka, nanti kami nggak bisa nangkap," jelas Tisha.

Pada tahun 2014, Indonesia juga pernah bekerja sama dengan lembaga analisis data sepakbola bola Sportradar. Hasilnya? Nihil. PSSI dan Sportradar tak pernah mempublikasikannya dan dugaan pengaturan pertandingan masih ada.

Ajak Bawa ke Ranah Pidana

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto mengajak perwakilan PSSI untuk mendatangi kantor polisi pekan depan. Tujuannya untuk berkonsultasi agar kasus match fixing bisa benar ditangani di ranah pidana.

"Saya komunikasi [dengan PSSI], tadi malam pun komunikasi tapi bahas persoalan lain. Itu hal positif. Siapapun perwakilannya, sekadar silahturahmi saja. Supaya tidak sekedar wacana. Pengaturan skor ini diatur dalam Undang-undang No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap, ada di Pasal 2 sampai 5," ucap Gatot.

Ratu Tisha Destria pun menyambut baik tawaran ini. Menurutnya ini hal yang baik dan akan ditindaklanjuti. Namun dia tak memberi kepastian apakah PSSI akan ke kantor polisi pekan depan.

"Itu yang kami tunggu-tunggu. Kerja sama erat antara Kemenpora dan PSSI untuk memerangi pengaturan skor, itu yang kami tunggu. Kami akan tempuh lewat jalur hukum sepakbola. Pasti akan kami follow up [ajakan Kemenpora]," ucap Tisha lagi.

Tisha beralasan bahwa bukan hanya kasus menyangkut Hidayat saja yang sekarang diperhatikan PSSI tetapi juga semuanya. Namun hal itu harus menunggu hasil persidangan Komdis pekan depan sebelum melaporkan ke kepolisian.

Publik Harus Teguh Kawal PSSI

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi masih jadi perbincangan di media sosial setelah kegagalan Indonesia menjuarai Piala AFF 2018. Dia tidak mau menjawab apa PSSI akan melakukan evaluasi internal setelah hasil buruk Indonesia pada kejuaraan ini.

“Wartawannya harus baik. Kalau wartawannya baik. Timnasnya juga baik,” kata Edy di Medan setelah menghadiri acara organisasi kepemudaan, Kamis (21/11/2018).

Bagi jurnalis senior Weshley Hutagalung, wartawan olahraga di Indonesia sekarang memang hanya ingin menulis apa yang disukai, ketimbang apa yang diperlukan masyarakat.

Weshley bahkan menyinggung acara Mata Najwa: “PSSI Bisa Apa?” yang tayang hari Kamis (29/11/2018). Dia tidak melihat ada hasil besar dari perbincangan di acara tersebut.

"Saya beruntung enggak nonton," kata Weshley di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (30/11/2018).

"Apa hasilnya? Apa pertanggungjawabannya? Ada enggak solusinya? Kenapa enggak dikejar how dan why-nya?” imbuhnya.

Menurut dia, wartawan harus bisa membantu federasi sepakbola Indonesia untuk membuat olahraga menjadi semakin baik. Dia berharap wartawan tidak terus beprasangka dan curiga buruk kepada federasi.

"Kasihannya tiap federasi karena mewarisi citra buruk dari tahun ke tahun," ucapnya. "[PSSI] badan yang minta ampun. Dia akan dihantam, dihajar terus, karena dia olahraga paling seksi untuk dibicarakan," ujarnya.

Dia berharap wartawan bisa menelisik lebih dalam untuk memberikan solusi bagi sepakbola di Indonesia. Jangan malah membuat kekisruhan yang jauh dari sepakbola itu sendiri.

Sedangkan jurnalis olahraga senior lainnya, Budiarto Shambazy menilai sebaliknya. Selama ini wartawan dirasa sudah cukup kritis kepada PSSI.

Budiman menganggap PSSI bukanlah organisasi yang dimiliki segelintir orang. Namun milik masyarakat. Justru kritik dari masyarakat dan wartawan harus diterima sebagai sesuatu yang positif.

"Mestinya apapun masalah disampaikan kepada publik melalui media. Jangan ditutup-tutupi lah. Bicarakan pada publik," tegas Budiarto kepada reporter Tirto, Sabtu (1/12/2018).

Meskipun investigasi dilakukan secara tertutup, hasilnya harusnya diberikan pada publik. Selama ini PSSI cenderung tidak pernah bicara bila publik tidak memulai duluan.

Kasus pengaturan pertandingan yang diupayakan Hidayat merupakan contoh nyata. Ketika diumbar ke publik, PSSI mengaku sudah menyelidiki berbulan yang lalu. Namun besar kemungkinan publik tidak tahu sampai kapan pun bila tidak dibuka oleh media karena PSSI tertutup.

Lebih lanjut, Budiarto menganggap peran Edy Rahmayadi yang kurang maksimal tangani berbagai masalah PSSI. "Ini kan PSSI terkesan menutupi," katanya.

"Ketumnya [Edy Rahmayadi] sedang sibuk di Medan [sebagai gubernur Sumatera Selatan] harusnya di Jakarta ada yang sounding-nya bagus. Selama ini kita jarang mendengar dari sekjen dan waketum PSSI," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KASUS PSSI atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Olahraga
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Dieqy Hasbi Widhana