Kasus Kokain dalam Tubuh Udang di Perairan Inggris, Bagaimana Bisa?

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 6 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Peneliti temukan kokain di udang air tawar Inggris
tirto.id - Peneliti menemukan, paling tidak terdapat lima sungai di Pinggiran Inggris telah tercemar kokain, pestisida, dan obat-obatan terlarang melalui udang air tawar yang mereka teliti.

Sebagaimana dilaporkan New York Times, penemuan kokain dalam udang-udang tersebut cukup mencengangkan, lantaran peneliti tidak menduga hal tersebut sebelumnya.

“Meskipun kita tahu bahwa zat kimia seperti pestisida memang kadang ada di sungai, namun kebanyakan tidak menyadari zat-zat lain yang ada di alam liar,” kata Thomas Miller, ketua kelompok peneliti dari King’s College London pada Jumat (3/5/2019).

Penelitian ini mengambil dari 15 situs dari 5 sungai di Suffolk County, daerah pedesaan di sebelah timur laut London. Kandungan kokain dan ketamin (zat anestesi yang juga dikategorikan sebagai narkotika), serta fenuron, pestisida yang sudah tidak lagi diizinkan oleh pemerintah Eropa ditemukan dalam sampel-sampel tersebut.

Peneliti menilai tercemarnya sungai oleh zat-zat ini adalah karena konsumsi manusia yang kemudian terbuang ke sungai melalui urin. Urin tersebut mengalir dari rumah ke pembuangan dan kemudian mengalir ke ekosistem air di alam liar.

“Ditemukannya zat obat-obatan di satwa liar ini sangtat mengejutkan,” kata Leon Barron, salah seorang peneliti, seperti dikutip Bussiness Insider.

“Kami mungkin tidak terkejut jika menemukannya di area perkotaan seperti London. Namun, ketika kami menemukannya di daerah pedesaan yang lebih kecil [seperti Suffolk] tentu ini hal yang mencengangkan,” lanjutnya.

Dari seluruh sampel yang terkumpul, peneliti menemukan 56 polutan terkandung dalam udang air tawar Gammarus pulex. Komponen dengan konsentrasi yang paling banyak ditemukan adalah kokain, lidokain (anestesi lokal yang digunakan oleh pengedar narkoba untuk membuat kokain), dan ketamin.

Selain itu, juga ditemukan obat anti-depresan seperti alprazolam dan diazepam, yang masing-masing dikenal dengan nama komersil Xanax dan Valium.

Propranolol, pereda tekanan darah tinggi dan jantung berdebar juga ditemukan namun dalam frekuansi yang lebih sedikit.

Komponen-komponen tersebut dapat ditemukan dalam satwa air karena penggunaan manusia sehari-hari dan pengelolaan limbah yang kurang tepat sehingga tidak mengherankan bahwa biota air tercemar oleh zat kimia yang kerap digunakan manusia sehari-hari.

Peneliti menganjurkan adanya kelanjutan atas kasus penemuan fenuron, yang telah dilarang pemerintah namun masih terdapat di perairan Inggris ini.

Penelitian ini, menurut Dr, Miller, dilakukan karena adanya kekhawatiran akan ekosistem air karena pencemaran plastik, dan menemukan bahwa ternyata tidak hanya plastik yang mencemari lingkungan air.

Selama bertahun-tahun, peneliti telah menemukan adanya zat obat-obatan, kimia, dan pestisida di air minum di seluruh dunia. Penelitian ini menunjukkan bahwa hal tersebut juga mencemari ekosistem air.

“Zat farmasi dan produk perawatan dan pestisida dan obat-obatan terlarang memang telah terdeteksi di perairan seluruh dunia. Ketika kita menggunakannya, pembuangan kita tidak dikelola dengan baik sehingga mereka mengalir ke sungai dan perairan,” kata Emma Rosi, ekologis perairan di Cary Institute of Ecosystem Studies kepada NPR.

“Kami menemukan komponen tersebut di alam karena orang-orang menggunakannya, dan apa yang kita pakai sehari-hari terbuang ke alam liar. Yang mengkhawatirkan adalah bahwa kita tidak tahu itu memiliki dampak ekologis,” lanjutnya.

Penelitian serupa juga pernah dilakukan di Australia oleh Rosi dkk. Lebih dari 60 komponen farmasi ditemukan di invertebrata (makhluk hidup tanpa tulang belakang) air dan laba-laba di perairan dekat Melbourne, Australia.

Selain itu, biota yang terletak lebih tinggi di rantai makanan, seperti platypus dan ikan abu-abu (gray trout) juga tercemar obat-obatan sejenis pada taraf 50% dari dosis penggunaan manusia.

The Guardian juga mencatat pada bulan April lalu penelitian dilakukan di 29 jalur air di 10 negara Eropa dan ditemukan 70 pestisida berbahaya, di antaranya 38 pembunuh gulma, 10 insektisida, 21 pembasmi jamur, satu pelinding herbisida, dan residu acetylsalicylic acid, sejenis aspirin yang digunkaan dalam kedokteran hewan.

“Luar biasa, yang terpenting adalah bahwa kurangnya kesadaran untuk mengelola zat-zat yang mencemari ekosistem tersebut,” kata Dr. Jorge Casado, peneliti di Greenpeace Laboratories dari Universitas Exeter.

Ia menambahkan, karena banyaknya zat pestisida berbahaya sehingga air itu sendiri dapat digunakan sebagai pestisida.

Obat-obatan dan zat kimia yang terbuang ke perairan telah menjadi permasalahan yang belum terpecahkan bagi pemerintah. Zat-zat tersebut, dalam skala konsentrasi rendah tidak begitu berpengaruh pada kesehatan manusia, namun kehadirannya tetap saja meresahkan.

Efek obat-obatan terhadap biota laut

NCBI mengunggah sebuah penelitan yang menyebut bahwa biota air tawar, seperti belut dan satwa air lainnya menunjukkan gejala hiperaktif karena kokain memengaruhi otak, otot, insang, dan kulit mereka.

Tahun lalu, peneliti juga menemukan oxycodone, anti-depresan, obat jantung, dan obat-obatan kemoterapi di jaringan otot kerang. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memakan kotoran dan urin manusia.

“Kamu tidak akan mengumpulkan [dan memakan] kerang dari teluk-teluk perkotaan ini,” kata Andy James, dilansir laman Puget Sound Institute.


Baca juga artikel terkait NARKOBA atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yulaika Ramadhani