Menuju konten utama

Kasus Baim Wong dan Peran Manajemen Artis di Balik Caleg Selebritas

Baim Wong digugat Rp100 miliar oleh manajemen artis bernama QQ Production lantaran dituding melanggar perjanjian menjadi caleg.

Kasus Baim Wong dan Peran Manajemen Artis di Balik Caleg Selebritas
Ilustrasi Manajemen Caleg Artis. tirto.id/Lugas

tirto.id - “Saya ingin melihat bangsa Indonesia semakin lebih baik lagi melalui gerakan perubahan yang dicetuskan Partai NasDem. Menjadikan Indonesia lebih baik? Kenapa tidak?”

Demikian kutipan poster digital di akun Instagram Partai NasDem pada 12 Juni 2018. Di samping kutipan itu ada gambar Baim Wong mengenakan atribut partai dengan keterangan selebritas ini bergabung dengan partai Surya Paloh tersebut.

Siapa sangka unggahan itu menyeret Baim dalam kasus perdata yang membuatnya digugat hingga Rp100 miliar.

Pada Januari 2018, Krisna Mukti, selebritas yang jadi anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa, bertemu Muhammad Ibrahim alias Baim Wong dalam satu penerbangan. Di dalam pesawat, Baim mengemukakan niatnya menjadi calon legislatif. Krisna mengenalkannya kepada Kiki Astrida, pemilik manajemen artis bernama QQ Production, yang jadi perantaranya dengan partai politik pada Pemilu 2014.

Setelahnya, urusan perekrutan terjadi antara Astrid dan Baim via percakapan WhatsApp, telepon dan pertemuan. Astrid menghubungkan Baim dengan seorang petugas Partai NasDem.

Pada 10 April 2018, terjadi pertemuan antara Saan Mustopa, Ketua DPW Partai NasDem wilayah Bandung; Astrid; Baim Wong; dan sejumlah selebritas lain yang digadang-gadang direkrut sebagai caleg seperti Izzhy Audiagla, Rustam Wijaya (musisi Kangen Band) dan istrinya, Talitha Cecarina.

Sebelum pertemuan, Astrid dan Baim membahas sejumlah komitmen, termasuk meminta biaya manajemen dari dana kompensasi yang diterima Baim. Partai memberikan dana kompensasi kepada artis yang direkrutnya sebagai biaya ganti rugi atas penghasilan si artis yang terhenti selama menjadi caleg. Sebagai gantinya, manajemen akan membantu Baim saat kampanye. Belum ada pembicaraan berapa biaya tersebut.

Kelak Astrid meminta 30 persen dari dana kompensasi yang diterima Baim atau Rp5 miliar. Namun, biaya itu terlalu besar sehingga ditawar menjadi 20 persen hingga terus turun menjadi 10 persen.

Astrid berkata uang itu akan digunakan sebagai biaya operasional kampanye Baim Wong. “Saya lihat Baim sudah cukup populer jadi tidak perlu biaya banyak untuk kampanye. Maka, saya setuju angka segitu. Jadi bukan mahar politik,” ujar Astrid kepada saya.

Selama pembahasan komitmen itu, belum ada perjanjian tertulis antara Baim dan QQ Production. Draf kontrak kerja antara keduanya belum ditandatangani Baim dengan alasan "ingin dipelajari terlebih dahulu."

Tiga hari setelahnya Astrid dikejutkan foto Baim Wong yang mengenakan atribut dan keterangan resmi bergabung Partai NasDem. Saat menelusuri akun Instagram Baim Wong, unggahan yang dimaksud pada tanggal itu tidak ditemukan. Namun, unggahan itu terdapat di akun Istagram dan Twitter Partai NasDem pada 12 Juni 2018.

Terlepas dari perbedaan tanggal unggahannya, Astrid merasa dikhianati. Ia tidak mengetahui apa pun ihwal masuknya Baim Wong sebagai anggota partai.

Belakangan, setelah pertemuan pada 10 April 2018, Baim Wong kembali bertemu dengan Saan Mustopa esok paginya. Kendati keberatan, Astrid belum ambil pusing lantaran Baim berjanji tetap memenuhi komitmennya kepada QQ Production.

Setelah ada unggahan itu, Astrid menggugat perdata Baim Wong sebesar Rp100 miliar dengan delik perbuatan melanggar hukum. Gugatan itu dilayangkan ke Pengadilan Negeri Bogor pada 24 Juli 2019.

Pembelaan Baim Wong

Menanggapi gugatan itu, Baim Wong mengunggah pernyataan resmi lewat akun YouTube @BaimPaula pada 23 Juli 2019. Berdurasi 15 menit, Baim mengklarifikasi ia mundur menjadi bakal caleg dari Partai NasDem.

“Kenapa saya mundur? Jujur saya tidak nyaman. Dari awal perbincangannya, persenan-persenan terus. Belum juga mulai sudah bicara persenan. Mbak Astrid kalau mau serahkan bukti percakapan WhatsApp. Silakan buka dari awal percakapannya. Nanti ketahuan kenapa saya mundur,” ujar Baim.

Ia berkata perkenalannya dengan Partai NasDem terjadi sudah sejak lama. Ia mengaku ayahnya, pengusaha Johnny Wong, kenal dekat dengan Surya Paloh.

“Jadi kalau dikenalkan oleh Mbak Astrid, antara iya dan tidak. Saya dipertemukan karena ada rencana untuk dijadikan caleg. Dia yang menawarkan, lho."

Baim juga bersedia digugat jika jadi maju sebagai caleg kendati belum ada kontrak dengan QQ Production. Baim sendiri bingung ia yang mundur menjadi caleg tetap disomasi miliaran rupiah hanya karena ia menjadi kader partai.

Di lain pihak, Didit Wijayanto Wijaya, kuasa hukum Astrid, berkata komitmen yang dibahas oleh kliennya dan Baim bukan hanya soal menjadi caleg.

“Kami tidak peduli dia jadi caleg atau tidak. Perjanjiannya kalau dia dapat pekerjaan dari partai, apa pun itu mau jadi caleg, ikon partai, kader, atau sekadar pekerjaan menjadi artis, tetap ada fee yang harus dibayarkan lantaran Baim dikenalkan kepada NasDem dan akhirnya mendapat pekerjaan tersebut melalui Astrid,” jelas Didit.

Infografik HL 1 Manajemen Caleg Artis
Infografik Manajemen Caleg Artis. tirto.id/Lugas

Manajemen Artis Rangkap Agen Caleg

Sejak 2013, QQ Production mulai menyediakan jasa sebagai perantara antara partai dan selebritas yang berniat menjadi caleg. Semula tawaran ini datang dari Partai Kebangkitan Bangsa pada Pemilu 2014.

“Sudah menjadi rahasia umum parpol gaet artis menjadi caleg untuk mendongkrak elektabilitas,” ujar Astrid.

Selain PKB, ada partai lain yang pernah menawarkan posisi caleg kepada manajemen QQ Production seperti dari NasDem dan Partai Amanat Nasional, kata Astrid.

Astrid meneruskan tawaran itu kepada para artis di bawah naungan manajemennya seperti Krisna Mukti. Selain itu kepada nama-nama lain seperti Akri Patrio, Devi Permatasari, Dwi Yan, Liza Natalia, Melly Zamri, dan Ressa Herlambang. Pada Pemilu 2014, artis yang diperantarai Astrid yang lolos ke Senayan hanyalah Krisna Mukti.

Pada 2018, Astrid juga mendapatkan tawaran dari parpol untuk menyuplai artis yang sekiranya potensial untuk menggaet suara. Nama-nama itu seperti Baim Wong, Nikita Willy, Izzhy Audiagla, Krisna Mukti, Lucky Perdana, Tama Kangen Band, dan Tasya Kamila.

“Tasya dan Nikita secara baik-baik memutuskan mundur. Tasya karena waktu itu masih S2 di Amerika Serikat. Sementara Nikita karena keburu mendapat tawaran sinetron,” kata Astrid.

Kasus antara Astrid dan Baim Wong juga terjadi kepada Lucky Perdana. Astid menggugat Lucky sebesar Rp50 miliar. Dalam surat gugatan pada 24 Juli 2019, Astrid mengklaim total kerugian materiil dari Baim Wong dan Lucky Perdana sekitar Rp1,4 miiar.

Taksiran itu terdiri dari biaya operasional yang diklaimnya sudah dikeluarkan untuk kepentingan kedua selebritas itu sebesar Rp152,6 juta, biaya manajemen yang tidak jadi dibayarkan keduanya Rp1,1 miliar, dan estimasi biaya operasional gugatan perdata Rp163 juta.

Untuk mengakomodasi kebutuhan Baim dan Lucky yang akan maju sebagai caleg, Astrid membuat perusahaan baru bernama PT Mahakarya Mitra Indonesia.

“Saya sudah sewa kantor dan kendaraan operasional untuk itu. Jadi, kalau Baim bicara persenan-persenan, itu enggak benar. Itu hak saya. Uang itu bahkan bukan buat saya, tapi buat staf saya juga,” kata Astrid sambil terisak.

Baca juga artikel terkait CALEG 2019 atau tulisan lainnya dari Restu Diantina Putri

tirto.id - Politik
Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Fahri Salam