Kasus Andi Sulistyawan, Hipotermia dan Halusinasi Menurut Psikolog

Oleh: Dewi Adhitya S. Koesno - 27 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kasus Andi Sulistyawan, hipotermia dan halusinasi yang sering dialami para pendaki gunung menurut tanggapan Psikolog Kumala Windya.
tirto.id - Video pendaki gunung Andi Sulistyawan yang dinyatakan tewas di gunung lawu viral di media sosial.

Akun Udien Jagoan yang merekam aktivitas Andi sebelum ditemukan meninggal dunia di Gunung Lawu dan diunggah pada 22 Juli 2020 itu memperlihatkan kondisi Andi Sulistyawan yang bertelanjang dada sambil mencari kayu bakar di Gegerboyo.

Meski suhu di Gunung Lawu begitu dingin, Andi justru melepaskan pakaiannya untuk membungkus kayu bakar tersebut. Tubuhnya tampak menggigil, tetapi ia terus menyelimuti ranting kayu dengan kaos dan jaketnya, ia pun mengucapkan hal-hal yang aneh.

Psikolog Kumala Windya M.Psi mengatakan, saat mendaki gunung, seseorang dapat mengalami apa yang dialami oleh Andi Sulistyawan yakni hipotermia.

"Salah satu penyebabnya adalah pendaki merasa kelelahan, kehabisan tenaga, ditambah lagi suhu dingin dan kondisi lingkungan alam yang mungkin berkabut atau hujan," kata Windya kepada Tirto, Senin (27/7/2020).


Hipotermia merupakan suatu kondisi di mana tubuh kesulitan mengatur keseimbangan suhu karena tekanan udara dingin. Dalam kondisi hipotermia, seseorang mengalami penurunan suhu tubuh di bawah normal (37°C).

Kondisi ini disebabkan suhu bagian dalam tubuh berada di bawah 35°C. Padahal, tubuh manusia hanya mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5 hingga 37,5°C.

Di luar suhu tersebut, respons tubuh untuk mengatur suhu akan aktif dan menyeimbangkan antara produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.


Tanda-Tanda Hipotermia


dr. Rod Brouhard dalam laman Very Well Health menyebutkan, secara umum, hipotermia dibagi menjadi 3 fase yaitu ringan, sedang, dan berat.

Pada tahap ringan, tubuh akan menggigil, sirkulasi darah berkurang, tidak tenang, tidak fokus, kurang komunikatif, masih dapat berjalan tapi berat, tangan kebas dan sulit memegang benda.

"Suhu kulit turun secara drastis menjadi kisaran 35°C dan dalam hitungan menit, suhu inti tubuh juga akan menurun. Tubuh akan menggigil tidak terkendali sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan energi menghasilkan panas," ujar Windya.

Sementara tahap sedang, suhu tubuh sekitar 32°C, di mana tubuh sangat dingin sehingga menggigil pasti berhenti.

Gejala fisiknya denyut nada semakin lambat, pernafasan lambat, lemah, pusing, kurang koordinasi, emosi tidak terkendali, kebingungan, meracau, dan muncul perilaku tidak terkendali dan pengambilan keputusan yang buruk.

"Tubuh membuat mekanisme tidak lagi menggunakan energi panas sebagai sumber panas, namun beralih menjadi menghemat energi dalam menghadapi suhu dingin," jelas Psikolog Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) Kemenpora di Yogyakarta ini.

Pada tahap berat, lanjut Windya, suhu tubuh di bawah 32°C, batasnya pada suhu 30°C, masuk penghentian metabolisme. Pendaki tampak seperti mati, padahal masih hidup. Gejala fisiknya pernafasan dan denyut nada lambat dan lemah, dan mulai kehilangan kesadaran.

Ia menjelaskan, pada fase inilah pendaki mulai menunjukkan perilaku aneh yang mungkin dilakukan sebagai usaha terakhir untuk bertahan hidup. Ada beberapa pendaki yang tampak seperti mengalami halusinasi kesurupan sehingga orang sering menghubungkannya dengan hal-hal mistis.

"Pendaki yang mengalami hipotermia berat sangat rentan mengalami halusinasi. Selain itu pendaki juga mengalami paradoxical feeling of warmth, paradoxical undressing, dan terminal burrowing," kata Windya.


Halusinasi yang Dialami Pendaki Gunung


Windya kemudian memberikan penjelasan terkait halusinasi yang biasanya dialami oleh seseorang, yakni gangguan pada persepsi sensasi panca indera.

Halusinasi, imbuhnya, menyebabkan seseorang tidak dapat membedakan sensasi nyata atau tidak nyata yang dialami oleh sistem sensori atau inderanya. Sensasi tidak nyata ini tercipta oleh pikiran sendiri.

"Pada pendaki gunung, pikiran dapat menciptakan sensasi indera yang tidak nyata ketika otak mengalami kekurangan oksigen saat berada pada ketinggian tertentu," terangnya.

Saat mengalami halusinasi, maka seseorang dapat merasa melihat sesuatu, mendengar bunyi atau suara, meraba tekstur atau benda, mengecap rasa, atau mencium bau yang sebenarnya tidak ada.

Jika tidak diatasi segera, kata Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini, maka pendaki dapat melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya maupun orang lain karena dalam kondisi tidak sadar dan tidak dapat mengontrol pikiran, emosi, dan perilakunya.

Pendaki yang mengalami halusinasi juga tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika diberi pertanyaan, ia tidak dapat menjawab sesuai dengan konteks pertanyaan, terlihat bingung, dan cenderung bicara tidak terarah atau ngelantur.

Menurut Windya, banyak orang tidak dapat memahami bahwa ada penjelasan secara medis dan ilmiah dari perilaku pendaki yang mengalami hipotermia akut dan halusinasi.

Saat ada peristiwa pendaki yang mengalami hipotermia, dapat mengalami halusinasi bahwa tubuhnya kepanasan lalu ia melepas bajunya.

"Jika dilanjutkan dengan perilaku aneh lain yaitu memotong dahan pohon lalu membungkusnya dengan jaket atau baju yang seharusnya dia pakai, kemudian menjawab bahwa ia sedang menghangatkan ibunya, maka penjelasan secara medis dan psikologis adalah pendaki tersebut mengalami halusinasi," terangnya.


Penyebab Halusinasi Akibat Hipotermia


Ada beberapa penyebab munculnya halusinasi, beberapa di antaranya adalah disebabkan hipotermia dan kurangnya asupan oksigen pada otak saat pendaki berada pada ketinggian diatas 3500 m dari permukaan laut.

Seperti yang disampaikan Dr. Katharina Hufner dalam laman Journal Psychological Medicine bulan Agustus 2018, semakin tinggi posisi sesesorang di gunung, semakin rentan seseorang mengalami efek psikosis sementara yaitu halusinasi.

Pada saat berada pada ketinggian tertentu, oksigen semakin menipis sehingga tubuh tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup.

"Ketika oksigen dalam darah berkurang, aliran darah ke otak dan seluruh tubuh menjadi tidak lancar. Gejala yang muncul adalah pusing, mual, tidak bisa fokus dan konsentrasi, tidak dapat berpikir jernih, tidak dapat berkomunikasi dengan baik, tidak dapat mengontrol tindakan, dan kehilangan keseimbangan," tutur Windya.

Selain itu, halusinasi juga dapat muncul saat pendaki tersesat sendirian dan kehilangan kontak sosial selama beberapa waktu. Halusinasi dapat semakin kuat saat pendaki yang kehilangan kontak dengan teman-teman rombongan, tidak bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain.


Jenis-Jenis Halusinasi yang Dialami Penderita Hipotermia


Seperti dikutip dari situs Live Science, paradoxical feeling of warmth dan paradoxical undressing terjadi sesaat sebelum gejala terminal burrowing.

Saat mengalami hipotermia berat, korban akan merasa kepanasan.Saat merasa kedinginan, tubuh akan membentuk mekanisme pengaturan kestabilan suhu.

Sistem tubuh akan melebarkan pembuluh darah yang menyebabkan suhu tubuh meningkat sehingga muncul rasa hangat atau panas dalam tubuh.

"Hal ini yang disebut paradoks, korban kedinginan tetapi merasa kepanasan kemudian membuka baju," ucap Windya.

Pendaki juga mulai memunculkan perilaku primitif yang disebut terminal burrowing yaitu insting untuk mencari tempat yang aman untuk berlindung, misalnya di dalam tanah, di dalam tenda, atau di tempat yang tersembunyi.

Jika pendaki mengalami halusinasi, perilaku terminal burrowing bisa bermacam-macam. Ada kemungkinan ia melihat lubang di tanah atau tempat yang ada di bawahnya sebagai tempat yang aman untuk berlindung.

Karenanya, Windya mengatakan, kondisi pemicu dan gejala-gejala hipotermia serta halusinasi ini harus dipahami oleh pendaki sehingga pendaki yang mengalaminya segera mendapat pertolongan.

Dia menambahkan bahwa halusinasi dapat segera hilang dan pendaki dapat kembali sadar setelah ia mendapatkan penanganan dan pertolongan pertama kondisi hipotermia.

"Pendaki harus segera ditempatkan pada area yang aman, hangat, dan didampingi oleh orang lain. Pendaki harus segera istirahat, mengatur nafas perlahan-lahan, minum air, makan makanan yang mudah dicerna dan cepat memberikan energi, dan minum obat pereda sakit jika diperlukan," tukas Windya.


Baca juga artikel terkait PENDAKI GUNUNG HIPOTERMIA atau tulisan menarik lainnya Dewi Adhitya S. Koesno
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dewi Adhitya S. Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight