Seri Komikus Indonesia

Karya-Karya Hasmi Membuktikan Komik adalah Produk Intelektual

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 26 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Hasmi memadukan anasir Amerika dan lokal untuk karakter wirawan supernya. Ia hidup dalam kesahajaan meski karyanya populer.
tirto.id - Komik wirawan super disebut-sebut lahir di Amerika. Biangnya adalah serial Flash Gordon karya Alex Raymond yang terbit pertama kali pada 1934. Di Indonesia, komik wirawan super muncul pada dekade 1950-an. Raden Ahmad Kosasih adalah orang pertama yang memperkenalkan genre ini dengan karakter Sri Asih pada 1954.

Kesuksesan Sri Asih lalu diikuti dengan kemunculan karakter super lain. Kosasih melanjutkan dengan menciptakan Siti Gahara. Lalu ada tokoh Roxar, Putri Bintang, dan Garuda Putih karya komikus John Lo. Tak ketinggalan Taguan Hardjo, maestro komik dari Medan, menciptakan saga Kapten Yani.

Setelah itu jagat wirawan super Nusantara sempat redup beberapa warsa. Hingga kemudian muncul lagi menjelang dekade 1970-an. Kali muncul nama Hasmi, komikus muda asal Yogyakarta, dengan serial Maza pada 1968 dan kemudian Gundala Putra Petir pada 1969.

Seturut amatan Zeffry Alkatiri, Gundala mengawali generasi baru wirawan super Indonesia 1970-an yang lebih semarak. Setelahnya, menyusul lahir karakter-karakter kuat macam Godam karya Wid N.S., Labah-labah Merah karya Kus Br, Kapten Nusantara karya Koest D., hingga Kapten Halilintar karya Jan Mintaraga.

“Sering terjadi, tokoh-tokoh itu dikumpulkan dalam satu buku untuk bersama-sama melawan musuh yang tangguh. Seperti misalnya dalam Brutal karya Kus Br, Perang karya Nono GM serta 1000 Pendekar karya Hasmi,” tulis Zeffry dalam Pasar Gambir, Komik Cina & Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an (2010: 86).

Hasmi dengan karakter Gundala ciptaannya memang layak disebut pelopor. Jika Kosasih disanjung sebagai Bapak Komik Indonesia, maka Hasmi disemati julukan Stan Lee-nya Indonesia. Tak hanya Gundala, ia juga pencipta beberapa karakter wirawan super dan durjana yang juga ikonik.


Sebermula adalah Gundala

Ia lahir dengan nama Isman Surasa Dharmaputra pada 25 Desember 1946. Bungsu dari enam bersaudara ini menjalani masa kecilnya kala api revolusi tengah berkecamuk di Yogyakarta.

Nama Isman Surasa Dharmaputra itu agaknya terlampau “berat” ia sandang. Ia sering sakit-sakitan. Lalu, sebagaimana kepercayaan orang Jawa, si anak harus diganti namanya. Jadilah ia kemudian menyandang nama Harya Suraminata.

Sejak muda Harya gemar menggambar. Kegemaran itulah yang kemudian membuatnya memilih masuk Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Semasa kuliah ia mulai meningkatkan kegemarannya itu menjadi lembar-lembar komik.

Untuk urusan ini ia berpatron kepada Alex Raymond, si empunya komik wirawan super negeri Abang Sam. Pengaruh gaya Amerika itu memang melekat pada karya-karyanya. Percobaan komik pertamanya terbit pada 1968, kala Harya membuat komik bertajuk Maza Si Penakluk.

Sejak kisah Maza dan Jin Kartubi, teman raksasanya, beredar Harya mulai memakai nama pena Hasmi. Setahun kemudian, setelah Maza terbit dalam dua seri, Hasmi menerbitkan Gundala Putera Petir—komik yang kemudian jadi karya terbesarnya.

Komik itu menjadi pembuka saga wirawan super berjuluk Gundala. Sebelum menadapat kekuatan super, ia adalah Sancaka si ilmuwan yang terobsesi menciptakan serum antipetir. Obsesi itu membuatnya sering mengabaikan kehidupan pribadi dan percintaannya. Kesal pada kebebalannya, Minarti—sang kekasih—memutuskannya.

Sancaka patah hati, marah-marah, dan berjalan tak tentu tujuan. Saat itulah ia tersambar petir. Bukannya membunuhnya, petir itu malah membawanya ke negeri antah berantah, Kerajaan Petir. Raja Crons, penguasa Kerjaan Petir, lantas memberinya kekuatan untuk berubah jadi wirawan berjuluk Gundala dengan syarat mau membantunya berperang melawan Kerjaan Mega.

Siapa sangka, saga Gundala meledak. Tentang ini laman Provoke menulis, “Sejak diperkenalkan, ketenaran Gundala tak terbendung. Anak muda menyukai konsep jagoan yang dibuat olehnya. Sejak 1969 hingga 1982, ia menerbitkan 23 judul komik Gundala. Selain membuat komik Gundala.”


Menempuh Jalan Komik

“Sepanjang hidupnya, Hasmi mengandalkan dari komik,” kata seniman Butet Kartaredjasa, sahabat Hasmi, sebagaimana dikutip Kompas (7/11/2016) tak lama setelah sang komikus mangkat.

Ucapan Butet bukanlah pemanis bibir belaka. Usai menerbitkan seri pertama Gundala, ia memutuskan “pensiun dini” dari kuliahnya. Meski demikian, ia paham belaka pekerjaan sebagai komikus profesional bukanlah pekerjaan menjanjikan secara finansial. Hasmi galau juga.

“Walaupun agak pesimis melihat masa depan pekerjaannya sebagai komikus, padahal memungkinkannya untuk hidup (Rp40.000 setiap komik), Hasmi, setelah putus kuliah dari ASRI, masuk akademi bahasa asing di kotanya, dengan harapan berganti haluan,” tulis peneliti komik Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia (1998: 201).

Meski digelayuti ketidakpastian, toh Hasmi jalan terus dengan pilihannya. Seri-seri Gundala terus bermunculan hingga lebih sedekade kemudian. Ia juga terus menciptakan karakter-karakter wirawan super baru seperti Pangeran Mlaar, Sembrani, Merpati, dan Aquanus.

Selain protagonis berkekuatan super, Hasmi juga piawai mencipta karakter durjana yang tak kalah ikonik. Sebutlah trio musuh bebuyutan Gundala: Ghazul, Pengkor, dan Ki Wilawuk. Karena itu tak berlebihan jika ia dijuluki Stan Lee-nya Indonesia.

Kepopuleran Gundala ciptaanya semakin melambung kala difilmkan pada 1982. Namun begitu, nyatanya kehidupan Hasmi tak lantas jadi mapan. Ia, dan kawan-kawan komikus lain, tetap harus berurusan dengan penerbit yang arogan. Sampai-sampai ia tak bisa memiliki manuskrip asli komiknya sendiri karena diberikan kepada penerbit dengan sistem beli putus.

"Baru sekarang saya menyesal, mengapa saat itu tidak meminta lagi naskah aslinya pada penerbit. Tak mungkin saya menggambarnya lagi," akunya seperti dikutip Kompas (2/10/2010).

Hingga masa senja usia Hasmi tak pernah mampu membeli rumah sendiri. Ia menjalani kehidupan sederhana di rumah kontrakannya di bilangan Karangwaru, Yogyakarta.

Ketika komik Jepang menyerbu pada dekade 1990-an, karier Hasmi perlahan terkikis. Untuk menyambung hidup ia banting setir menjadi penulis skenario dan berteater. Tapi ia tak sepenuhnya meninggalkan komik. Ia terus menggambar meski hanya jika ada pesanan.

Bukan Kaleng-Kaleng

Di negeri +62 ini, komik dan profesi komikus masih dianggap remeh. Perspektif kolot bahwa komik adalah bacaan picisan, penyita waktu, dan bikin bodoh masih nyata bertahan hingga kini. Parahnya, cara pandang ini juga makin dikukuhkan oleh sekalangan politikus Senayan.

Fahri Hamzah salah satunya. Pada akhir Januari silam ia sempat melontarkan cuitan di akun Twitter-nya, “Assalamualaikum, selamat pagi, Indonesia. Rajinlah baca buku. Jangan baca komik.”


Cukuplah tahu proses kreasi Hasmi kala menciptakan Gundala untuk mementahkan pandangan minor macam itu. Komik Gundala bukanlah karya kaleng-kaleng, ia lahir dari proses membaca yang panjang.

Gundala adalah contoh sahih bagaimana anasir Barat dan Timur dipadupadankan. Hasmi mengakui bahwa desain karakter dan gaya komiknya terinspirasi gaya Amerika. Dari segi itu, orang akan dengan mudah mengasosiasikan Gundala dengan The Flash ciptaan Gardner Fox yang diterbitkan DC Comic.

Hasmi memadukan desain karakter itu dengan kesaktian tokoh mitologi Jawa Ki Ageng Sela. Ia dikisahkan punya kesaktian dapat menangkap petir yang menjadi inspirasi kekuatan Gundala. Anasir lokal lain yang menjadi ciri khas Gundala adalah latarnya yang berasosiasi dengan Yogyakarta dengan sentuhan-sentuhan futuristik.

Infografik Harya Suraminata
Infografik Harya Suraminata


Hasmi pun tak hanya meramu saga dengan referensi ala kadarnya. Contoh paling sahih adalah seri episode Dr. Jaka dan Ki Wilawuk. Di karya ini Hasmi mencoba menggabungkan unsur cerita dari film The Thing That Couldn’t Die (1958) dan novel Dr. Jekyl and Mr. Hyde (1886) karya R.L. Stevenson dengan kisah mistik Jawa.

Seri ini berkisah tentang Dr. Jaka yang berusaha menghidupkan bromocorah dari masa Kerajaan Mataram bernama Ki Wilawuk. Dr. Jaka yang seorang dokter bedah dikisahkan membunuh dan mengisap darah korbannya untuk ritual itu. Sementara Ki Wilawuk adalah penjahat sakti yang menguasai ilmu pancasona.

Saat Ki Wilawuk berhasil dihidupkan kembali, Dr. Jaka justru dibunuhnya. Dan puncaknya Gundala bertarung dengan Ki Wilawuk untuk menghentikan kejahatannya.

Dalam Buah Terlarang & Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017), penulis Anton Kurnia menyebut seri ini sangat menarik karena perpaduan kisah detektif dan dongeng horornya. Kepiawaian Hasmi menciptakan plot komik yang filmis juga terlihat di sini.

Jika dibedah, banyak referensi yang dimanfaatkan Hasmi untuk meracik saga ini. Nama Dr. Jaka tentu bisa langsung diasosiasikan dengan Dr. Jekyl. Dalam novel asli karya Stevenson, Jekyl adalah sosok ilmuwan yang bisa malih rupa jadi monster.

Anton juga membedah betapa kayanya referensi Hasmi. Komikus yang akrab disapa Nemo oleh sejawatnya itu mengambil pula inspirasi kisah Dracula dari Rumania dan kasus pembunuhan berantai Jack the Ripper yang misterius dari Inggris. Itu ia padukan dengan anasir lokal seperti sejarah Mataram dan ajian pancasona yang dipinjam dari dunia pewayangan (hlm. 175).

Karenanya, menganggap komik sebagai karya kaki lima adalah pendapat gegabah—kalau tak mau disebut miskin imajinasi. Tak perlu komik bikinan Jepang untuk meruntuhkannya, komik lokal pun lebih dari cukup.

“Seperti sekilas terbaca dari Dr. Jaka dan Ki Wilawuk, komik kita ternyata bisa cerdas, intelek, imajinatif, dan oleh karenanya memperkaya para pembacanya. [...] Ia membuktikan bahwa tuduhan sebagian orang bahwa komik kita cenderung dangkal, abai terhadap riset dan referensi, tidak mendidik dan membodohkan, ternyata tak sepenuhnya benar,” tulis Anton (hlm. 176).

Baca juga artikel terkait KOMIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan