Karma Bill Gates: Membunuh Netscape, Memuseumkan Internet Explorer

Oleh: Ahmad Zaenudin - 28 Mei 2021
Dibaca Normal 6 menit
Microsoft menyatakan akan membunuh browser buatannya, Internet Explorer, pada 15 Juni 2022 mendatang.
tirto.id - Pada 1994, Microsoft adalah raja teknologi dunia. Kala itu, perusahaan yang didirikan Bill Gates dan Paul Allen hampir dua dekade sebelumnya ini menguasai 90 persen pasar komputer dunia dengan $38,5 miliar nilai kapitalisasi pasar. Gates memprediksi Microsoft diprediksi akan kian melambung berkat Windows 95 yang akan dirilis.

Sistem operasi terbaru Microsoft kala itu memang tengah dinanti-nanti masyarakat. Tak ketinggalan, selain versi anyar Windows, Microsoft pun tengah bersiap menjadi salah satu perusahaan pendukung utama Information at Your Fingerprints (IAYF) alias "information superhighway."

Diinisiasi konglomerat media dan telekomunikasi seperti Time Warmer dan Bell South pada awal 1990-an, information superhighway merupakan jenis teknologi baru yang menggabungkan kekuatan televisi (sebagai titik sentralnya) dengan komputer (PC) melalui jaringan telepon, yang diciptakan guna membuat masyarakat dapat menyaksikan hiburan sekaligus berbelanja dan bercakap-cakap. Singkat, information superhighway merupakan kerja untuk membuat TV menjadi "pintar"--jauh sebelum Sony atau Samsung membuatnya hari ini--karena si kotak ajaib ini telah hadir di hampir semua rumah tangga di dunia.

“Ruang televisi adalah tempat di mana orang-orang berkumpul,” kata Raymond Smith, Chief Executive Officer Bell South, meyakini cuaca cerah bagi information superhighway sebagaimana dituturkannya pada artikel majalah Time berjudul “The Info Highway: Bringing a Revolution in Entertainment, News, and Communication,” April 1993 silam.

Gates setuju dengan information highway dan gagasan untuk bikin pintar televisi. Ia paham bahwa teknologi belum bergerak terlalu cepat--teknologi baru saat itu bernama dial-up. Terlebih lagi, sebagai penguasa PC, Microsoft didaulat menjadi penyedia platform bagi information highway.

Time Warmer, Bell South, dan Gates, yakin bahwa information superhighway akan menjadi teknologi masif berikutnya, persis seperti yang dilakukan Microsoft melalui Windows.

Nahas, "TV pintar ala 1990-an" gagal di pasaran begitu diluncurkan oleh Time Warner, Sharper Image, Crate and Barrel, Bell South, GTE, Microsoft, dan berbagai perusahaan lain di Orlando dan California pada 1995 sebagai percobaan. Hanya secuil masyarakat yang ingin merasakan information superhighway. Mayoritas, terutama dari kalangan anak muda, lebih kepincut pada "information superhigway versi lain", yakni internet. Bukan TV sebagai titik sentral yang dipilih masyarakat, tetapi PC. Ironisnya, meskipun Microsoft menguasai PC, Internet luput dari pantauan Gates. Walhasil, sebuah perusahaan baru bernama Netscape Communication Corporation pun jadi penguasa.

Gates, sosok yang dengan jitu menyatakan bahwa dunia bakal kewalahan menghadapi musuh bernama virus pada akhir dekade 2010-an, gagal memprediksi kemunculan internet. Kegagalan yang membuat eksistensi Microsoft terancam karena Netscape, melalui Netscape Navigator, begitu diminati masyarakat.

Untunglah, Internet Explorer hadir menyelamatkan Microsoft.

Internet Explorer: Solusi Culas Bill Gates Menguasai Internet

"Tatkala Bill Gates bekerja untuk menciptakan software pertama Microsoft (BASIC untuk Altair)," tulis Brian McCullough dalam bukunya berjudul How the Internet Happened: From Netscape to the iPhone (2018), "ia menggunakan FTP di komputer milik Harvard University untuk mengirimkan hasil kerjaannya ke komputer yang ada di Carnegie-Mellon University."

FTP, atau file transfer protocol, merupakan salah satu turunan pertama internet yang diciptakan untuk menghubungkan komputer-komputer berbasis Unix agar mudah berbagi dokumen. Teknologi ini dirancang bukan untuk masyarakat umum, tetapi buat kaum geek yang paham dengan command khusus komputer. FTP pun terasa usang sejak dunia kedatangan graphical user interface (GUI) pada pertengahan 1980-an. Apalagi sejak 1985 Gates menerapkan GUI pada sistem operasi ciptaainnya, MS-DOS.

Maka, berbekal pengalamannya menggunakan FTP, "Gates menganggap bahwa internet tidak diciptakan untuk khalayak umum," tulis McCullough. Tak aneh apabila Gates lebih percaya bahwa "TV pintar" jauh lebih mungkin menjadi masa depan dunia teknologi dibandingkan internet (atau PC).

Gates salah besar.

Masa depan internet memang tidak digerakkan oleh FTP, tetapi oleh World Wide Web (WWW). Usai Tim Berners-Lee membangun pondasi WWW di CERN pada 1989, ia menantang anak-anak muda yang paham teknologi untuk mengubah internet dan WWW yang kala itu hanya dapat dinikmati kalangan geek untuk bisa diakses khalayak umum.

Tantangan dari Berners-Lee ini akhirnya menghasilkan peramban (browser) Lynx (University of Kansas) dan ViolaWWW (UC Berkeley). Namun, adalah peramban buatan Marc Andreesen dari National Center for Supercomputer Applications (NCSA) bernama X Mosaic (kemudian hanya dinamai Mosaic) pada 1993 yang benar-benar melunasi tantangan Berners-Lee.

Mosaic sukses besar. Ia digunakan banyak orang untuk mengakses internet berkat desainnya yang ramah pengguna (user-friendly). Mosaic menjadi peramban pertama yang memungkinkan gambar/foto ditautkan langsung dalam kode HTML. Menukil bahasa McCullough, Mosaic "menjadi titik tercerah dunia internet kala itu". Berkat kepopulerannya ini, Mosaic lalu di-porting (ditranslasikan) dari unix supaya dapat bekerja pada Windows (PC) dan Macintosh sehingga bisa digunakan jutaan orang di berbagai penjuru dunia yang menjadi generasi pertama pencicip internet.

Dari rahim Mosaic (yang ditinggalkan karena konflik kepentingan di tubuh NCSA), Andreesen kemudian menciptakan Netscape Navigator. Dan seketika, sebagaimana dipaparkan Tongsen Wang dalam studinya berjudul "The Revival of Mozilla in Browser War Against Internet Explore" (dipaparkan dalam lokakarya 7th International Conference on Electronic Commerce pada Agustus 2005), Netscape menguasai lebih dari 80 persen pasar internet per 1994.


"Internet adalah information superhighway yang dicari-cari dan dibicarakan orang," kata Jim Barkesdale, salah seorang teknisi Netscape. "Mereka (termasuk Gates) tidak menyadarinya saja."

Microsoft, si penguasa PC, tertinggal di dunia internet gara-gara Mosaic dan Netscape (dan kesalahan prediksi Gates).

Tentu, sebagai imperium teknologi, Microsoft tak tinggal diam atas kehadiran Mosaic dan Netscape. Terlebih, dalam tubuh Microsoft sendiri, terdapat segelintir orang yang telah kecanduan WWW, yakni seorang karyawan muda bernama James Allard. Pada 1993, tahun di mana Gates sesumbar tentang information superhighway melalui "TV pintar," Allard mendirikan perkumpulan "inetdisc" untuk mendiskusikan segala hal tentang WWW dalam tubuh Microsoft. Sayangnya, dari 14.400 karyawan Microsoft kala itu, hanya 5 orang yang bergabung dalam inetdisc. Dan karena kesal WWW tidak ditanggapi dengan baik oleh Microsoft, Allard menulis memo internal berjudul "Windows: The Next Killer Application on the Internet" yang menjabarkan betapa pentingnya WWW bagi kelangsungan hidup Microsoft.

Sial bagi Allard. Memo yang dikirimnya tidak ditanggapi Microsoft. Namun, beruntunglah Microsoft. Sebagai anak muda yang memiliki akal jauh lebih banyak dibandingkan baby boomer seperti Gates, Allard bersiasat. Ia membisikkan betapa terkenalnya WWW karena Mosaic dan Netscape pada Steven Sinofsky, asisten teknis Bill Gates. Usai dibisiki Allard, Sinofsky akhirnya paham bahwa WWW memang masa depan dunia teknologi. Pada hari Valentine 1994, ia menulis memo yang lebih keras dibandingkan Allard berjudul "Cornel is WIRED!"

(Catatan: Cornel dalam "Cornel is WIRED!" adalah Cornel University, almamater Sinofsky. Sebelum ia menulis memo tersebut, Sinofsky jalan-jalan ke kampusnya dan tersadar bahwa para mahasiswa di sana telah kecanduan WWW).

Seketika, Gates tersadar bahwa information superhighway memang bukan tercipta dalam bentuk "TV pintar," tetapi melalui WWW. Akhirnya, dua minggu usai memo itu keluar, Gates menulis memo untuk seluruh karyawannya bahwa Microsoft "harus menjadi pemimpin di dunia internet".

Maksud Gates: memimpin melalui browser ala Microsoft sendiri, yang awalnya hendak dilakukan melalui proses khas perusahaan kebayakan duit, akuisisi. Sayangnya, BookLink Technologies, perusahaan yang membuat pesain Netscape bernama Internetworks, keburu dibeli American Online seharga $30 juta. Netscape bahkan menolak tawaran dari Microsoft. Maka, proses menjadi pemimpin di dunia internet dilakukan dengan cara membajak teknisi-teknisi Mosaic yang tidak diajak Andreesen mendirikan Netscape. Plus, membeli lisensi penggunaan source-code Mosaic sebesar $2 juta dari Spyglass, Inc, sebagai perusahaan yang memiliki hak Mosaic dari NCSA (atau University of Illinois).

Tepat pada 16 Agustus 1995, dari rahim Mosaic yang lucunya dibuat oleh Andreesen, Internet Explorer pun lahir.

Kembali merujuk studi yang ditulis Tongsen, perlahan tapi pasti Internet Explorer (IE) mengikis kedigdayaan Netscape. Ini terjadi karena, selain menautkan IE secara gratis dan langsung di Windows dan sejak IE 3.0 Microsoft membuatnya tidak dapat di-uninstall, IE kala itu memang bagus. IE dicap bagus karena browser ini manut terhadap World Wide Web Consorsium (W3C) sebagai organisasi yang mengelola dunia WWW. Kala itu, W3C menentukan bagaimana HTML, CSS, hingga Javascript diterjemahkan oleh browser. Tatkala W3C merilis HTML 2.0 dan HTML 3.0, Netscape dan IE mendukungnya, tetapi tatkala W3C merilis HTML 4.0, hanya IE yang mendukung. Ini berakibat pada menurunnya performa Netscape hingga mengakibatkan IE resmi menjadi penguasa dunia WWW pada awal 2000-an.

Sayangnya, karena teknologi tak pernah berhenti berevolusi, IE pun bernasib seperti Netscape. Terutama, ketertinggalan IE terjadi selepas Google merilis monster pemakan RAM bernama Chrome.


Chrome: Mengubah Website Menjadi Aplikasi

Pada 2001, duo pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin menyampaikan kehendak mereka membuat peramban ala Google pada sang CEO, Eric Schmidt. Page dan Brin beralasan, karena Google hidup di dunia WWW, penting bagi mereka untuk memiliki peramban sendiri. Penting juga bagi Google untuk menghindar dari ketergantungan terhadap IE, Mozilla Firefox, dan Safari.

Schmidt enggan menindaklanjuti keinginan Page dan Brin tersebut. Ada dua pertimbangannya: ia menyaksikan kesuksesan IE membungkam Netscape melalui strategi bundling dengan Windows. Kedua, gugatan Netscape di pengadilan akan praktek monopoli. Gugatan ini mudah ditaklukan Microsoft berkat asetnya yang melimpah.
"Kita tak punya cukup uang (seandainya harus bertarung dengan Microsoft di pasar atau di pengadilan)," terang Schmidt.

Meskipun menolak gagasan penciptaan peramban mandiri, Schmidt memiliki strategi lain mengamankan dunia WWW bagi perusahaannya. Strategi itu adalah bekerjasama dengan Mozilla dan Apple. Melalui strategi ini, Google memberikan uang jutaan dolar pada Mozilla dan Apple. Imbalannya? Google menjadi mesin pencari default pada Firefox dan Safari. Namun, khusus untuk Mozilla, sebagaimana dipaparkan Steven Levy dalam bukunya berjudul In the Plex: How Google Thinks, Works, and Shapes Our Lives (2011), Schmidt melangkah lebih jauh. Karena berstatus software open source, Google pun diperintah Schmidt melakukan pengambangan Firefox. Perintah yang ia terjemahkan melalui perekrutan teknisi-teknisi top Mozilla, misalnya Ben Goodger dan Darin Fisher. Tak ketinggalan, Schmidt pun membajak teknisi Mosaic, Linus Upson.


Melalui perekrutan ini, meskipun berstatus sebagai karyawan Google, mereka bekerja untuk membuat Firefox jauh lebih hebat.

Tentu, selain membayar Mozilla dan Apple, Schmidt memiliki strategi lain untuk mengamankan WWW. Melalui divisi bernama "Product Client Group," Schmidt merilis Google Toolbar setahun sebelum Page dan Brin mengutarakan niatnya membangun peramban.

Google Toolbar merupakan suatu software, atau add-on pada peramban, yang berguna untuk menampilkan segala layanan Google. Sayangnya, berbulan-bulan sejak dirilis, Google Toolbar tak dilirik masyarakat karena software ini, mengutip apa yang ditulis Levy dalam bukunya itu, "tidak memberikan manfaat apapun". Terlebih, di dunia WWW pada 2000-an, banyak add-on dan pop-up bertebaran yang mengganggu orang ketika menikmati internet. Google Toolbar dianggap termasuk "software sampah" yang mengganggu itu.

Untunglah, Google Toolbar dibenahi. Alih-alih menampilkan beragam layanan Google, Wesley Chan, salah seorang teknisi Product Client Group, mengubahnya menjadi software yang bekerja untuk menghilangkan/memblokir pop-up ataupun add-on pada berbagai peramban. Sayangnya, karena Chan bukanlah siapa-siapa dalam struktur kepemimpinan Google, versi terbaru Google Toolbar harus disetujui dahulu oleh Page atau Brin supaya dapat dirilis.

"Ini kayaknya software paling bodoh yang saya lihat sepanjang hidup," sebut Page menghardik pembaruan Google Toolbar yang dibuat Chan. "Kapan sih saya merekrutmu? Kok bisa kerja di Google?"

Ironisnya, komentar panas yang dilontarkan Page itu keluar sebelum ia menguji Google Toolbar di komputernya sendiri.

Tak terima dikomentari sebelum dicoba, Chan memaksa Page meng-install Google Toolbar terbaru tersebut. Tak disangka, usai meng-install Google Toolbar versi terbaru, browser yang digunakan Page menjadi jauh lebih cepat mengakses internet. Page pun takjub dan melangkahi Schmidt. Ia memerintahan Product Client Grup membuat peramban. Google saat itu jauh lebih bertaji dari sebelumnya. Terlebih lagi, Google telah memiliki Ben Goodger, Darin Fisher, dan Linus Upson

"Cepat, buat browser yang dapat mengakses internet dengan cepat. Secepat membalikkan halaman buku," titah Page.


Kembali merujuk buku yang ditulis Levy, peramban yang dapat mengakses internet dengan cepat disusun Google dengan memodifikasi Javascript. Javacript, dalam dunia peramban, merupakan bahasa pemrograman yang membuat website memiliki layanan-layanan interaktif. Pada website (versi desktop) Tirto, misalnya, Javascript merupakan mesin di balik kemampuan dark/light mode. Sialnya, pada Netscape, IE, Firefox, dan Safari era 1990-an dan 2000-an, Javascript tak bekerja optimal. Walhasil, website sukar menampilkan layanan interaktif ala software atau aplikasi smartphone. Padahal, Google memiliki layanan yang membutuhkan Javascript dengan optimal, misalnya Gmail (dan kemudian Google Docs hingga Google Drive).

Untuk mengoptimalkan kerja Javascript pada peramban, Google merekrut ilmuwan komputer bernama Lars Bak. Pada 2006, Bak akhirnya merilis V8 sebagai otak pengoptimalan kerja Javascript. Memanfaatkan V8, Google merilis Chrome dua tahun kemudian. Browser ini dapat memproses website 10 kali lebih cepat dibandingkan Firefox, dan 56 kali lebih cepat dibandingkan IE.

Google, melalui Chrome, mendifinisikan ulang peramban. Chrome membuat website tak hanya dapat menampilkan teks, gambar, atau layanan interaktif ringan, tetapi aplikasi utuh.

Gara-gara Chrome, IE akhirnya ditinggalkan masyarakat hingga membuat Microsoft menyatakan akan membunuh browser buatannya itu pada 15 Juni 2022 mendatang. Gara-gara Chrome pula, mandor yang mengepalainya, Sundar Pichai, akhirnya jadi CEO Google.

Baca juga artikel terkait BILL GATES atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight