Kapolri Sebut Kekuatan Ekonomi Senjata Pertarungan Global Saat Ini

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 9 Januari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Terjadi pergeseran paradigma pertarungan antarnegara, dimana ekonomi menjadi senjata dan salah satu sektor yang menkadi kunci adalah perdagangan.
tirto.id - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Muhammad Tito Karnavian menyebutkan bahwa persoalan ekonomi berkorelasi timbal balik dengan keamanan nasional. Apalagi pertarungan global saat ini bukan lagi soal senjata negara mana yang paling hebat, tapi sudah masuk pada persaingan kekuatan ekonomi.

Ia menilai ada pergeseran paradigma pertarungan antarnegara, dimana ekonomi menjadi senjata dan salah satu sektor yang menkadi kunci adalah perdagangan. Menurutnya penting untuk adanya sinergi kerja sama antara Polri dan Kementerian Perdagangan yang berlangsung pada hari ini, yaitu tentang Penegakan Hukum, Pengawasan, dan Pengamanan di Bidang Perdagangan.

"Indonesia jadi salah satu potensi besar di bidang ekonomi karena kita punya angkatan kerja besar dan SDA luar biasa dan wilayah yang luas sampai 3 time zone. Pada 2030 kekuatan ekonomi kita diperhitungkan nomor 5 bahkan nomor 4, asal stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Makin tinggi makin baik," ungkap Tito di Auditorium Kementerian Perdagangan Jakarta pada Senin (8/1/2018).

Oleh karenanya, ia berusaha mendukung pemetintah melalui Kementerian Perdagangan untuk menjaga iklim ekonomi. Adanya kerja sama antara Kementerian Perdagangan dengan Polri, dikatakannya juga sebagai upaya mengantisipasi adanya gejolak ekonomi dan politik, seperti yang dialami Iran.

"Keamanan politik yang baik akan dorong perekonomian. Perekonomian yang baik akan buat situasi politik baik. Kalau politik tidak stabil, ekonomi goyang. Perekonomian enggak baik akan goyang sektor keamanan dan politik," ujar Tito.

Tito menganalisis bahwa kondisi politikIran yang tidak kondusif dipantik oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil, terlepas dari faktor eksternal. "Demo pro dan kontra kebijakan pemerintah kalau enggak selesai akan ada perpecahan seperti bangsa Iran, karena terjadi inflasi harga enggak terkendali, maka masyarakat kalangan bawah marah," ujarnya.

Psikologi massa yang berkumpul dalam kondisi tertentu diungkapkannya sangat sulit diprediksikan kondusifitasnya dan dijamin keamannya. Jadi kecenderungan demo dapat menimbulkan adanya penjarahan dan tindakan anarkis lain. "Di Indonesia prinsup seperti itu berlaku," ucapnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengingatkan kecenderungan persaingan usaha secara global akan menimbulkan ancaman bagi perlindungan kualitas hidup konsumen atau masyarakat.

"Persingan bukan hanya antarperusahaan di dalam negeri tapi juga luar negeri, dari jenis produk dan harga, yang tidak sedikit dari mereka mengesampingkan kualitas. Kami tidak akan biarkan Indonesia hanya menjadi pasar yang menerima produk tapi menyampingkan kualitas," ujar Enggar.

Geliat penjualan daring lantas menurut Enggar akan membuka celah beredarnya barang yang tidak sesuai standar kualitas. Namun, ia menyampaikan komitmen untuk memberikan perlindungan konsumen sebagai hal prioritas.

"Penjualan daring naik tajam tidak berarti kita tidak mengawasi. Sedang disiapkan ketentuan yang ada yang di dalamnya melibatkan Polri, untuk melindungi masyarakat. Upaya kita untuk menahan dan menjaga masyarakat kita enggak hanya jadi pasar, tapi kita abai dengan standar peraturan yang ada," ungkapnya

Baca juga artikel terkait PEREKONOMIAN GLOBAL atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Yuliana Ratnasari
DarkLight