Kapan Hujan Meteor 2021 sesuai Kalender Astronomi Desember?

Oleh: Anne Anisa - 20 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Kapan hujan meteor 2021 terjadi berdasar kalender astronomi bulan Desember? Berikut jadwal puncak hujan meteor Desember 2021.
tirto.id - Hujan meteor (shower rain) merupakan peristiwa jatuhnya meteor melewati permukaan bumi dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, ketika fenomena astronomi ini terjadi penduduk bumi bisa kilatan aneka cahaya melintas di langit.

Cahaya dengan aneka warna yang muncul ketika hujan meteor disebabkan karena banyak meteoroid memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi. Saat hujan meteor mencapai puncaknya, cahaya "bintang jatuh" yang bisa terlihat dari bumi akan semakin banyak.

Perlu dicatat, saat berada di luar angkasa, benda-benda kecil hasil pecahan asteroid maupun komet dengan orbit tidak tetap disebut sebagai meteoroid. Sementara itu, ketika batuan-batuan dari angkasa itu masuk ke atmosfer bumi, ia disebut meteor.

Biasanya benda-benda itu akan terurai habis akibat gesekan dengan atmosfer bumi. Namun, ada juga yang tidak terurai habis sehingga menyisakan bongkahan kecil jatuh ke permukaan bumi. Jika bisa sampai permukaan bumi ia disebut dengan sebagai meteorit.

Hujan meteor termasuk fenomena astronomi yang menarik, bahkan sebagian langka terjadi. Meskipun begitu, ada banyak hujan meteor yang terjadi setiap tahun.

Kapan hujan meteor terjadi pada tahun 2021? Mengutip publikasi yang dirilis oleh LAPAN, berikut jadwal puncak hujan meteor selama bulan Desember 2021.

1. Puncak Hujan Meteor Phoenicid (6-7 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Phoenicid dapat disaksikan pada 6-7 Desember 2021, mulai awal senja bahari (20 menit setelah terbenamnya matahari) hingga keesokan harinya pukul 02.15 waktu setempat dari arah Tenggara hingga Barat Daya. Intensitasnya berkisar 51 meteor/jam (Sabang) hingga 74 meteor/jam (Pulau Rote).

Phoenicid adalah hujan meteor yang titik radiannya (titik asal kemunculan meteor) berada di konstelasi Phoenix dekat bintang Alfa Eridani (Archenar) konstelasi Eridanus. Hujan meteor Phoenicid berasal dari sisa debu komet 289P/Blanpain yang mengorbit matahari selama 5,18 tahun.

2. Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid (7-8 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid dapat disaksikan pada 7-8 Desember 2021, mulai pukul 21.00 waktu setempat hingga keesokan harinya saat fajar bahari (25 menit sebelum terbenamnya matahari) dari arah Tenggara hingga Barat Daya. Intensitasnya berkisar 6 meteor/jam (Sabang) hingga 8 meteor/jam (Pulau Rote).

Puppid-Velid adalah hujan meteor dengan titik radian (titik asal kemunculan meteor) ada di dekat bintang Gamma Velorum (Regor) konstelasi Vela yang berbatasan dengan konstelasi Puppis. Hujan meteor Puppid-Velid ini berasal dari sisa debu Komet 96P/Machholz yang mengorbit Matahari dengan periode 1.93 tahun.

3. Puncak Hujan Meteor Monocerotid (9-10 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Monocerotid terjadi pada 9-10 Desember 2021 serta dapat disaksikan mulai pukul 19.40 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenamnya matahari) dari arah Timur hingga Barat). Intensitasnya berkisar 1,9-2 meteor/jam (Sabang hingga Pulau Rote).

Monocerotid merupakan hujan meteor minor dengan titik radian (titik asal kemunculan meteor) di dekat konstelasi Monoceros yang berbatasan dengan konstelasi Orion dan Gemini. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,34 tahun dan juga menjadi sumber hujan meteor Taurid Utara.

4. Puncak Hujan Meteor Chi-Orionid (10-11 Desember 2021)

Akan terjadi Puncak Hujan Meteor Chi-Orionid yang dapat disaksikan mulai awal senja astronomus (50 menit setelah Matahari terbenam) hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenamnya matahari) dari arah Timur hingga Barat. ). Intensitasnya berkisar 2,5-2,9 meteor/jam (Sabang hingga Pulau Rote).

Chi-Orionid adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal kemunculan meteor)-nya berada di dekat bintang Chi-Orionis konstelasi Orion. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,35 tahun.

5. Puncak Hujan Meteor Sigma-Hydrid (12-13 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Sigma-Hydrid terjadi pada 12-13 Desember 2021 serta dapat disaksikan mulai pukul 21.15 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenamnya matahari) dari arah Timur hingga Barat). Intensitasnya berkisar 2,9-3 meteor/jam (Sabang hingga Pulau Rote).

Sigma-Hydrid merupakan hujan meteor minor dengan titik radian (titik asal kemunculan meteor) berada di dekat bintang Sigma Hydrae konstelasi Hydra yang berbatasan dengan konstelasi Monoceros. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui. Hujan meteor Sigma-Hydrid pertama kali diamati oleh Richard E. McCrosky dan Annete Posen.

6. Puncak Hujan Meteor Geminid (14-15 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Geminid pada 14-15 Desember 2021 dapat disaksikan mulai pukul 20.30 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenamnya matahari) dari arah Timur Laut hingga Barat Laut). Intensitasnya berkisar 86 meteor/jam (Sabang) hingga 107 meteor/jam (Pulau Rote).

Geminid adalah hujan meteor utama yang titik radian (titik asal kemunculan meteor)-nya berada di dekat bintang Alfa Geminorum (Castor) konstelasi Gemini. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu asteroid 3200 Phaethon (1983 TB) yang mengorbit matahari dengan periode 523,6 hari.

7. Puncak Hujan Meteor Coma Berencid (17 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Coma Berencid pada 17 Desember 2021 dapat disaksikan mulai pukul 00.15 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenam Matahari) dari arah Timur hingga Timur Laut (untuk pengamat di belahan utara) atau Utara (untuk pengamat di belahan selatan). Intensitasnya berkisar 2,6-2,9 meteor/jam (Sabang hingga Pulau Rote).

Coma Berencid adalah hujan meteor minor yang titik radiannya (titik asal kemunculan meteor) berada di dekat bintang Beta Leonis (Denebola/Asarfa) konstelasi Leo yang berbatasan dengan konstelasi Coma Berencies.

Hujan meteor Coma Berencid berasal dari sisa debu benda langit yang tidak diketahui dan pertama kali diamati oleh Richard E. McCrosky dan Annete Posen.

8. Puncak Hujan Meteor Leonis Minorid (20-21 Desember 2021)

Puncak Hujan Meteor Leonis Minorid terjadi pada 20-21 Desember 2021 serta dapat disaksikan mulai awal senja astronomis (50 menit setelah terbenamnya Matahari) waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenamnya Matahari) dari arah Timur Laut hingga Utara. Intensitas hujan meteor mencapai 3,8-4,6 meteor/jam (Sabang hingga Pulau Rote).

Leonis Minorid merupakan hujan meteor dengan titik radian (titik asal kemunculan meteor) di dekat konstelasi Leo Minor. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu komet hiperbolik C/1739 K1 (Zanotti).

9. Puncak Hujan Meteor Ursid (23 Desember)

Puncak Hujan Meteor Ursid terjadi pada 23 Desember 2021. Fenomena ini dapat disaksikan sebelum terbitnya Matahari untuk pengamat Indonesia.

Intensitas maksimumnya berkisar 10 meteor per jam (kesempatan terbaik hanya didapatkan oleh pengamat di bagian Utara). Hujan meteor ini dapat disaksikan mulai pukul 01.00 waktu setempat hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbit Matahari) dengan intensitas berkisar 0,9—2,8 meteor per jam untuk wilayah Indonesia.

Ursid merupakan hujan meteor dengan titik radian (titik asal munculnya meteor) berada di konstelasi Ursa Minor. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu komet 8P/Tuttle yang mengorbit Matahari dengan periode 13,6 tahun.

Jika Anda ingin mengamati hujan meteor yang terjadi pada bulan Desember 2021, pastikan cuaca sedang cerah dan tempat pengamatan bebas dari polusi cahaya.

Baca juga artikel terkait HUJAN METEOR atau tulisan menarik lainnya Anne Anisa
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Anne Anisa
Penulis: Anne Anisa
Editor: Addi M Idhom
DarkLight