Kanker yang Mengancam Nyawa Anak-Anak

Oleh: Nur Fitria - 23 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Kanker kerap diasosiasikan dengan umur dan gaya hidup yang buruk. Tapi ternyata kanker juga banyak terjadi pada anak-anak, bahkan bayi.
tirto.id - Di sudut ruang, bocah lelaki itu duduk di sebuah kursi kecil. Ia sibuk dengan gajet di tangan. Pada layarnya tampak pertarungan antara ksatria baja hitam dan monster naga berkepala harimau. Matanya tak berpaling ke arah yang lain.

Sekilas Rizki, anak berumur 6 tahun itu, terlihat normal seperti anak lainnya. Namun jika diamati, separuh dari kaki sebelah kanannya tampak tidak sempurna.

Semua itu dimulai tepat pada satu tahun yang lalu, saat Rizki yang tengah bermain mendadak jatuh dari tangga. Sejak kejadian itu, ia kerap mengeluhkan rasa nyeri di kaki kanannya.

Sang ibu membawa Rizki ke tempat-tempat pengobatan alternatif dengan metode pijat. Sayang rasa sakit Rizki tak kunjung menghilang justru berujung pada pembengkakan yang kian memprihatinkan.

"Kaki Rizki membengkak dan berwarna merah matang, dan saat dibuka perbannya sudah tampak tidak karuan," kenang sang ibu dengan nada haru.

Windi (28) akhirnya memutuskan untuk menggunakan penanganan medis. Misteri penyakit Rizki pun terkuak. Dokter mendiagnosis Rizki mengalami osteosarkoma, kanker tulang yang menyerang jaringan tulang lunak.

Dari Cikarang, Rizki dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di RSCM, Rizki ditangani secara serius sampai akhirnya diamputasi dan menjalani kemoterapi. Di saat-saat yang berat inilah Windi dan Rizki dipertemukan dengan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).

Oleh YKAKI, Rizki dibawa ke rumah singgah di kawasan Rawasari, Jakarta Timur yang bisa memudahkan Rizki untuk menjalani pengobatan yang rutin dan intensif di RSCM. Di yayasan itu, Rizki bertemu dengan banyak teman yang memiliki kisah hidup yang sama dengannya, sama-sama berjuang melawan kanker.

Windi pun mendapat secercah harapan yang membangkitkan semangat hidup anak semata wayangnya. Di rumah singgah, Rizki mendapat pendidikan dan tempat tinggal yang layak. Rizki pun kini mampu melewati harinya dengan kegiatan beragam yang bisa membuatnya sedikit melupakan rasa sakitnya.

Kanker Anak Meningkat Setiap Tahunnya

Data WHO pada 2012 menyebutkan ada 14 juta kasus baru dan 8,2 juta kematian terkait kanker. Kanker pada anak memang terhitung langka, kemunculannya kurang dari 1 persen dari seluruh penderita.

Tapi meski persentasenya kecil, jumlahnya tak bisa dianggap enteng, Menurut YKAKI, di Indonesia diperkirakan ada 4.100 kasus baru kanker anak. Di Jakarta saja ada 650 kasus baru.

Kanker yang paling banyak dijumpai pada anak-anak adalah kanker darah atau leukemia sebanyak 25-30 persen, disusul oleh retinoblastoma (kanker retina mata), limfoma (kanker kelenjar getah bening), neuroblastoma (kanker saraf), kanker ginjal (tumor Wilms), rabdomiosarkoma (kanker otot lurik), dan osteosarkoma (kanker tulang).

Dari sekian banyak jenis kanker pada anak, baru satu jenis kanker yang mempunyai alat deteksi dini, yaitu kanker bola mata (retinoblastoma). Hingga kini, kanker pada anak belum diketahui penyebabnya.

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (Infodatin), ada banyak penyebab kanker, di antaranya faktor genetik, faktor karsinogen, radiasi, virus, hormon, dan iritasi kronis. Juga faktor perilaku/gaya hidup seperti merokok, pola makan yang tidak sehat dan dominasi makanan cepat saji, konsumsi alkohol, dan kurangnya aktivitas fisik.

Masih dari sumber yang sama, dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A(K), MHA menjelaskan adanya perbedaan antara kanker pada anak dan orang dewasa. Salah satunya: kanker pada anak tidak dapat dicegah seperti halnya kanker pada orang dewasa.

Jadi, tidak ada istilah pencegahan kanker pada anak, melainkan mewaspadai gejala kanker pada anak yang tidak lain harus dilakukan oleh orang tua.

Mengacu pada pernyataan di atas, sebagian orang tua tentu bertanya-tanya tentang apakah masih ada gunanya mengajarkan pola hidup sehat kepada anak-anak. Jawabannya: pola hidup sehat tetap harus diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Tujuannya bukan untuk mencegah kanker pada anak, namun untuk mencegah kanker yang dapat timbul saat anak dewasa.

Mengacu pada data yang diperoleh dari Rumah Sakit Kanker Dharmais pada tahun 2014, ada sekira 50 persen pasien datang dalam keadaan stadium lanjut. Salah satu sebabnya adalah orangtua yang kurang pengetahuan soal kanker anak. Inilah pentingnya penyuluhan pada orangtua, agar mereka dapat mengetahui dan mengenali gejala-gejala yang harus diwaspadai pada anak.

Infografik Kanker Anak Usia Dini

Kanker Pada Anak Bisa disembuhkan

Menurut dr. Endang Widiastuti, Sp.A., kanker tidak mengenal usia. Muda atau tua, bahkan bayi baru lahir pun sudah bisa terserang kanker. "Bayi baru lahir sudah terkena kanker kira-kira angkanya mencapai 4 persen," ujar dokter yang kesehariannya bekerja di RS. Cipto Mangunkusumo tersebut.

Kemudian, dr. Endang menjelaskan bahwa kanker anak terbagi ke dalam 2 jenis, yaitu kanker padat dan kanker darah. Solid dan nonsolid. Solid tumor atau tumor padat yaitu tumor yang terjadi akibat terbentuknya benjolan yang padat contohnya adalah kanker hati, kanker payudara, kanker paru-paru, dan salah satunya kanker tulang yang kerap menimbulkan pembengkakan.

Tumor nonsolid adalah kanker yang tidak membentuk benjolan yang padat. Kanker ini terjadi pada cairan-cairan tubuh seperti darah dan getah bening. Contoh paling umum adalah kanker darah atau leukemia, yaitu kelainan pada sel darah putih yang berbentuk seperti bulan sabit. Serta limfoma, yakni kanker yang terjadi pada kelenjar getah bening (limfosit).

Sejauh ini, kanker yang paling banyak diderita anak adalah kanker nonsolid, yakni leukemia. Angkanya mencapai 60 persen. Penyebab apa yang membuat seorang anak terserang kanker? Banyak faktor, jawab Endang. Bisa genetik, infeksi virus, atau kelainan sejak lahir, dan bawaan lingkungan.

"Jadi banyak sekali ya kalau bicara penyebab. Yang terpenting adalah pengetahuan akan penyakit kanker itu sendiri," katanya.

Lebih lanjut, Endang menjelaskan bahwa kanker, termasuk yang terjadi pada anak, bisa diobati. Syaratnya: “Semakin cepat terdeteksi, semakin mudah kami mengobati."

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Nur Fitria
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Nur Fitria
Penulis: Nur Fitria
Editor: Maulida Sri Handayani