Kancah Musik di Ponorogo Menolak Mati

Ilustrasi Seri Musik Tradisi Jawa dalam Distorsi. tirto.id/Sabit
Oleh: Faisal Irfani - 30 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Tinggal di wilayah yang acapkali disebut sebagai "daerah kelas dua" tak menyurutkan antusiasme anak-anak muda Ponorogo untuk membangun kancah musiknya sendiri.
Ponorogo? Jelas reog.

Band Ponorogo? Memang ada?

Nyatanya, kota Ponorogo, berjarak 220 kilometer dari Surabaya, memang punya potensi band-band bernas. Sekilas melihat di permukaan, tak tampak geliat musik di sana. Namun, jika sedikit melongok lebih dalam, Ponorogo punya kancah musik yang menarik. Usaha membangun ekosistem musik di Ponorogo itu tak instan. Jalannya begitu panjang dan tak jarang banyak meninggalkan kekecewaan bagi para pelaku kancah di sana. Akan tetapi, banyak yang tetap jalan terus.


Semangat itulah yang terpancar jelas dari sosok Amirul Romadhon. Ia adalah orang yang tepat untuk diajak berbincang tentang kancah Ponorogo. Reputasinya di Ponorogo sebagai pelaku kancah sudah menancap kuat. Ia merupakan pendiri situs musik independen bernama benbenan.com, pentolan event Rock In Reyog, serta anggota band psikedelik, Tuhkasutra. Dari Amirul, saya menangkap letupan antusiasme yang tinggi jika bicara musik di Ponorogo.

“Kita babat alas saja, mas,” kata Amirul kepada saya di sebuah kedai kopi dekat pusat Kabupaten Ponorogo. “Sebab kalau bukan anak-anak ini, siapa lagi yang mau menghidupi kancah Ponorogo?”

Dipicu Pensi, Dimantapkan Festival

Pada 2009, muncul band pop punk di Ponorogo bernama Fun Fun For Me. Dibantu oleh tren musik pop punk dan emo, Fun Fun For Me dengan cepat melejit di kancah lokal. Nyaris di setiap panggung musik Ponorogo, ada nama mereka. Begitu pula di acara-acara pentas seni sekolah. Saking dominannya, Fun Fun For Me diberi julukan "Raja Pensi."

Sebelum itu, musik death metal maupun black metal—gagrak musik yang kerap disebut underground—lebih dulu merajai kancah musik Ponorogo. Antara 2006 hingga 2007, scene bawah tanah di sana sedang panas-panasnya. Salah satunya dibuktikan dengan lahirnya Ponorogo Underground Scene, sebuah medium yang dibikin atas dasar kesamaan visi dan misi untuk membangun Ponorogo yang cadas.

Ponorogo Underground Scene menaungi banyak komunitas. Dari penyuka death metal, punk, hardcore, sampai post-punk. Kontribusi mereka untuk perkembangan underground dapat dilihat lewat helatan Ponorogo Tremble Again, yang disebut-sebut sebagai festival underground pertama di Ponorogo. Acara ini berlangsung hingga lima edisi.

Kehadiran (dan kesuksesan) Fun Fun For Me praktis mendorong anak-anak muda Ponorogo untuk mengikuti jejak mereka. Upaya tersebut terbantu dengan internet yang membuat anak-anak muda di sana lebih mudah memperoleh informasi musik, juga mempermudah dalam mengunggah musik mereka.

Sayangnya, kesuksesan Fun Fun For Me hingga ke kancah nasional menjadi serupa kutukan di Ponorogo. Sebagian besar band-band baru yang bermunculan di Bumi Reog mengekor Fun Fun For Me. Nyaris tak ada keberagaman genre yang ditawarkan anak-anak muda Ponorogo kala itu. Kejumudan ini akhirnya pelan-pelan membuat kancah musik di Ponorogo seolah mati suri.

Namun, kutukan itu sudah berhasil dipatahkan oleh generasi baru pegiat musik Ponorogo.

Membicarakan scene Ponorogo sekarang berarti berbicara soal betapa variatifnya ragam musik yang dimainkan. Genre pop punk dan musik-musik underground tak lagi mendominasi.

Ada beberapa faktor yang membikin musik di Ponorogo menjadi lebih variatif. Pertama, keberadaan Spotify dan YouTube yang menyediakan referensi musik melimpah. Kedua, gig yang mulai rutin diadakan di tempat-tempat kecil maupun gelanggang olahraga. Ketiga, relasi yang dijalin dengan kota-kota sekitar, seperti Madiun, Yogyakarta, sampai Solo. Terakhir, kedatangan musisi dari luar yang mendorong terciptanya transfer kreasi kepada musisi-musisi lokal.


Kombinasi empat faktor itu lantas menciptakan kancah dinamis dengan band-band bernas sebagai penopang pilarnya. Ada Lokapala, yang memainkan heavy metal era 80-an dengan begitu paripurna. Howlerness yang kementahan sound-nya seolah kembali mengusung era kejayaan garage rock. Vanagandr, yang sepintas mengingatkan saya akan Sigmun, kuartet stoner rock asal Bandung. Ada pula Tuhkasutra yang piawai meleburkan senyawa psikedelik.

Tapi, di antara itu semua, yang menarik dan nyaris tak terduga adalah kemunculan hip hop dan eksperimental. Di ranah hip hop, Ponorogo punya kolektif Reyogland Hip Hop. Kolektif ini berdiri pada 2010 dan terdiri dari beberapa crew macam Mastaplaya, Ganz, Alfa Debeatta, Historical, sampai Scape Decrypt.

“Dulu, waktu awal terbentuk, kami masih memakai format band karena belum ada MIDI. Lambat laun, setelah MIDI ada, kami ikut menyesuaikan,” ujar Muhaeim, pentolan Reyogland Hip Hop kepada Tirto. “Reyogland sebetulnya tak hanya menaungi hip hop, melainkan juga dance hingga disc jockey.”


Inspirasi Reyogland datang dari rapper lokal seperti Iwa K, Saykoji, Senartogok, sampai Homicide. Lagu-lagu mereka banyak berbicara tentang fenomena sosial sehari-hari, dunia politik, dan tak ketinggalan kebanggaan akan Ponorogo. Untuk poin terakhir ini, mereka bahkan tak ragu untuk memasukkan unsur tradisi reog ke dalam lagu.

Sementara untuk musik eksperimental, Ponorogo punya Gigih Kurnia yang tampil secara solo. Perkenalan Gigih terhadap musik eksperimental terjadi waktu ia sedang kuliah di Yogyakarta pada 2011. Saat itu, di Yogya, terdapat Jogja Noise Bombing, komunitas noise yang namanya sudah besar dan melegenda. Gigih mengaku hendak bergabung, tapi urung karena kurang berani.

Dari situ, Gigih lantas mengulik sendiri semua hal yang berbau musik eksperimental. Mulai dari teknik, perangkat, efek, dan komposisi. Gigih melibasnya secara otodidak. Aksi Gigih mencuri perhatian ketika ia bermain dalam Ngalone Tour 2015 edisi Ponorogo bersama Satya Prapanca, musisi noise sekaligus pendiri kolektif Kebun Binatang Film yang berbasis di Yogyakarta.

Gigih mengakui, minat anak-anak Ponorogo terhadap musik eksperimental masih sedikit. Ini dibuktikan dengan minimnya audiens yang hadir dalam pertunjukkan musik eksperimental. Memang dalam satu kesempatan, pementasan noise cukup banyak mengundang penonton. Tapi, Gigih bilang, mereka datang karena yang bikin acara adalah teman-teman satu lingkaran, bukan sebab mereka minat terhadap musik eksperimental.

Perkembangan scene Ponorogo makin lengkap dengan hadirnya situs musik independen benbenan.com. Situs ini berdiri pada 2017. Dalam perjalanannya, benbenan.com memegang peran penting dalam pertumbuhan scene Ponorogo.

“Kami enggak berfokus pada satu genre tertentu. Kami terbuka dengan semua genre yang dibawakan temen-temen di sini,” kata Neoan Perdana Timor, salah satu pendiri benbenan.com. “Istilahnya, benbenan.com itu ngemong [merawat] band-band Ponorogo.”



Pendapat serupa dilontarkan Amir. Menurutnya, kehadiran benbenan.com cukup membantu teman-teman di scene Ponorogo untuk lebih adaptif terhadap dinamika musik independen. Salah satu cara yang mereka tempuh ialah dengan mendorong musisi-musisi lokal untuk membikin press release untuk publikasi karya mereka.

Selain itu, benbenan.com juga berupaya ikut andil dalam menciptakan iklim persaingan antar band yang sehat di samping memotivasi band-band ini untuk berani ekspansi karya ke luar Ponorogo.

Kontribusi benbenan.com dalam upaya membangun ekosistem scene di Ponorogo ialah dengan mengadakan program pementasan bertajuk “Benbenan Showcase.” Pementasan ini ditujukan untuk mensosialisasikan tentang pentingnya keberadaan media, minimal bagi para pelaku industri musik di Ponorogo.

Edisi pertama Benbenan Showcase berlangsung pada Maret lalu. Mereka menjadi tuan rumah bagi duo folk asal Nova Scotia, Kanada, Mama’s Broke. Sampai sekarang, total, Benbenan Showcase sudah diadakan sebanyak tiga kali.

Kunci Utama: Solidaritas


Ekosistem sudah mulai terbentuk, band-band baru muncul secara masif. Lantas ganjalan apa yang menghambat tumbuh kembang scene Ponorogo?

Menurut Amir, tinggal di kota kecil seperti Ponorogo, yang sering dianggap sebagai “wilayah kelas dua,” mau tak mau, suka tak suka, membuat anak-anak muda di sini mudah dipandang sebelah mata. Asumsi bahwa musik di Ponorogo tak maju, tak bagus, dan segala keminusan lain, adalah omongan yang harus mereka terima.

“Pernah satu waktu, ada band dari sini mencoba menitipkan album mereka ke salah satu store independen ternama di Bandung. Tapi, gelagat mereka seperti menolak karena band itu berasal dari Ponorogo. Padahal, cuma beberapa keping saja yang ingin dititipkan," ungkap Amir.



Sikap semacam itu kemudian berdampak pada mentalitas musisi-musisi independen Ponorogo. Banyak dari mereka yang minder, merasa karyanya bakal tak diterima di luar Ponorogo. Walhasil, setelah membikin karya, entah single maupun album, mereka seperti tak tahu mesti ke mana dan mengambil langkah apa setelahnya.


Sedangkan ganjalan dari internal, menurut Anggient Yudhistira, gitaris dan vokalis Howlerness, datang dari sedikitnya kesempatan band-band indie Ponorogo untuk tampil di ajang pentas seni (pensi) SMA. Alih-alih menyediakan ruang bagi band-band indie untuk unjuk gigi, anak-anak SMA di Ponorogo lebih memilih mengundang band-band “nasional” atas nama gengsi sekolah. Beberapa band luar yang pernah manggung di pensi SMA Ponorogo antara lain Barasuara dan Fourtwenty.

“Miris aja ketika melihat yang diutamakan itu band-band luar. Band-band dalam kota yang karyanya juga patut disimak, justru jarang diundang,” tegasnya.

Pernyataan Anggient memperlihatkan ironi, mengingat kancah independen di Ponorogo berkembang dari lapangan-lapangan pensi SMA. Sekarang, yang terjadi malah sebaliknya: kesempatan untuk mengenalkan karya musisi kotanya sendiri dipersempit oleh euforia band-band Jakarta.

Sedangkan bagi Gigih dan Muhaeim, tantangan scene Ponorogo ialah bagaimana mewujudkan sinergi dan kolaborasi antar musisi di dalamnya.

“Potensi musik di Ponorogo itu berlimpah. Sayangnya, kurang sinergi dan minim kolaborasi. Ini yang harus segera diatasi,” tandas Muhaeim.

Kendati demikian, para pelaku kancah Ponorogo terus melaju. Semangat mereka tak patah, komitmen mereka untuk membangun scene terus tumbuh.

“Kami di sini saling menguatkan. Prinsipnya adalah senang bareng, sedih bareng. Semua saling support satu sama lain,” ujar Amir.

========================

Tulisan ini adalah bagian dari serial liputan Musik dan Kota. Dalam beberapa hari ke depan, Tirto akan menurunkan liputan kancah musik di kota-kota luar Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Baca juga artikel terkait PONOROGO atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight