Kampanye Bersih-Bersih Gunung Everest Kumpulkan 100 Ton Sampah

Oleh: Yuliana Ratnasari - 19 Maret 2018
Dibaca Normal 1 menit
Sebagian besar limbah yang tersisa di Everest adalah botol dan kaleng bir kosong, kaleng makanan kosong, dan peralatan pendakian yang dibuang.
tirto.id - Gunung Everest mulai dibersihkan dari sampah yang ditinggalkan wisatawan dan pendaki gunung tertinggi di dunia itu. Kampanye bersih-bersih ini bertujuan untuk mengangkut sekitar 100 ton sampah.

Pendaki gunung sudah diharuskan membawa kembali limbah yang mereka hasilkan saat mendaki. Sejak 2014, pendaki telah didenda jika mereka tidak membawa cukup banyak sampah kembali setelah mendaki puncak. Namun setiap tahun, pemandu lokal masih mengumpulkan ratusan kilogram sampah.

Everest kini kerap digambarkan sebagai tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia. Yang terburuk, limbah pernah ditemukan di Camp Two, sekitar 21.000 kaki di atas permukaan laut. Helikopter pun digunakan untuk mengangkut sampah, yang mencakup tangki oksigen, tenda, peralatan makan dan bahan berkemah lainnya.

Dulu, sekitar 16 ton sampah telah dikeluarkan dari gunung tapi belum diketahui berapa yang masih di atas sana.


Seperti dikutip BBC, pada hari pertama kampanye tahun ini sebanyak 1.200 kilogram limbah telah diterbangkan dari bandara Lukla ke Kathmandu untuk didaur ulang.

Kampanye bersih-bersih Everest tahun ini difokuskan pada barang-barang yang bisa didaur ulang di ibu kota, dengan maskapai Yeti milik swasta yang membantu transportasi. Mereka akan terus mengirimkan tumpukan sampah daur ulang sepanjang tahun.

Sebagian besar limbah yang tersisa di Everest adalah botol dan kaleng bir kosong, kaleng makanan kosong, serta peralatan pendakian dan
trekking yang dibuang. Sampah-sampah tersebut juga termasuk botol oksigen, yang penting jika mendaki ke posisi tertinggi.

Program pembersihan telah dijalankan oleh para pemandu lokal, yang dikenal dengan sebutan Sherpa, selama beberapa dekade. Namun, kini agenda bersih-bersih itu dikoordinasikan oleh Komite Kontrol Pencemaran Sagarmatha (SPCC), dinamai sesuai nama Nepal untuk gunung Everest.

Meski begitu, Sherpa masih bertugas mengumpulkan limbah dataran tinggi.


Menurut SPCC, lebih dari 100.000 orang mengunjungi kawasan itu tahun lalu. Sekitar 40.000 di antaranya adalah pendaki gunung atau
trekker.

Selain mengelola limbah industri yang ditinggalkan oleh pengunjung, SPCC dan pemandu lokal harus berurusan dengan limbah biologis yang ditinggalkan oleh banyak orang. Sebab pada 2015 lalu, asosiasi pendakian di Nepal telah memperingatkan bahwa kotoran manusia menjadi bahaya kesehatan.

Menurut Grinnell College pada 2015 yang dikutip Washington Post, terdapat sekitar 26.500 pon kotoran manusia setiap musim pendakian. Sebagian besar dikantongi dan dibawa oleh Sherpa asli ke lubang tanah di dekat Gorak Shep, dengan ketinggian 16.942 kaki.

Sejak saat itu, SPCC telah membangun toilet portabel di sekitar kamp gunung utama.

Tingginya jumlah pendaki juga meningkatkan masalah keamanan. Kondisi ini menghasilkan peraturan baru akhir tahun lalu yang melarang pendaki solo dan memaksa pemanjat asing untuk pergi dengan pemandu.


Baca juga artikel terkait PENDAKIAN GUNUNG atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari