Sulastomo:

"Kalau Kami Terus yang Bangun Masjid, Kami Dikira Memonopoli Amal"

Oleh: Husein Abdulsalam - 26 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Melalui Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP), Soeharto mendirikan 999 masjid.
tirto.id - Sulastomo telah menjadi bagian Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) sejak yayasan tersebut didirikan pada 1982. Sulastomo ingat, yang mengajaknya pertama kali untuk bergabung adalah Ginanjar Kartasasmita atas arahan Presiden Soeharto.

“Yang telepon saya untuk menjadi pengurus YAMP ini Pak Gin (Ginanjar Kartasasmita). Dia bilang, 'Pak Tom, apa berkenan jadi pengurus YAMP?' Saya bilang, boleh. Beliau mungkin melihat saya sebagai pengurus HMI (Himpunan Mahasiswa Islam),” ujar Sulastomo.

YAMP adalah salah satu yayasan yang diketuai Soeharto. Ia didirikan dengan misi membangun 999 masjid di Indonesia. Untuk itu, ia menghimpun dana melalui sumbangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (Korpri) yang diperoleh dari sebagian kecil gaji bulanan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Pada 1998, skema tersebut dihentikan. Saat itu, total dana yang berhasil dikumpulkan YAMP berjumlah Rp137 miliar.


“Ke mana-mana saya ditanya, kenapa dihentikan, kenapa dihentikan. Pak Harto itu nggak semuanya tentang yang jelek. Banyak yang bagus. Jadi jangan lupa itu. Makanya itu, Jaya Suprana memberi piagam rekor untuk kita, kategori presiden di dunia yang membangun masjid terbanyak,” ujar Sulastomo saat ditemui reporter Tirto pada Rabu (17/1/2018).

Meski mampu menyalurkan dana tersebut untuk mendirikan masjid dan pada 2009 masjid ke-999 berhasil didirikan, George Aditjondro dalam Harta Jarahan Harto (1998) menyebut, YAMP menjadi sumber utama pembiayaan Golongan Karya (Golkar). Selama berkantor di Sekretaris Negara (Setneg), YAMP ikut mengelola proyek-proyek Bantuan Presiden (Banpres). Pengusaha yang ingin dapat jatah proyek Banpres, kata George, “Mau tidak mau harus menyumbang yayasan ini” (hlm. 69).

Awalnya, Sulastomo menjadi pengurus biasa di YAMP. Kemudian, dia menjadi Wakil Pembina. Setelah Soeharto meninggal, Sulastomo menjadi Ketua Pengurus YAMP. Kepada Tirto, ia mengisahkan perjalanan lembaga yang dipimpinnya.

Anda termasuk orang yang dekat dengan Soeharto. Seperti apa sosok Soeharto menurut pengalaman Anda berinteraksi dengan dia?

Orang mungkin banyak yang tidak tahu kalau Pak Harto itu orang yang sangat sederhana. Terlihat kalau Anda pergi ke rumahnya di Jalan Cendana. Kursi ruang tunggu tamu tidak berubah-ubah sejak saya mahasiswa menghadap Pak Harto tahun 1966. Bentuk rumahnya juga begitu-gitu aja. Tidak tambah macam-macam.

Waktu Pak Mahathir Mohamad (Perdana Menteri Malaysia) ke sini, dia dijamu Mbak Tutut ke Cendana. Di sana, para delegasi heran, kok rumah Pak Harto kaya gini sederhananya.


Dia juga sangat memikirkan anak buah. Mikirin anak buahnya yang meninggal, dia bikin Yayasan Trikora. Soeharto juga bikin Dharmais untuk yatim piatu. Lalu Supersemar, berapa ratus ribu pelajar dibiayai? Itu tanpa menonjolkan diri. Anda tidak pernah kan baca berita “Pak Harto telah menyantuni sekian ribu orang?” Itu karena Pak Harto tidak suka publikasi. Itu buktinya dia sederhana.

Dikasih gelar Doktor Honoris Causa (HC) pun Pak Harto enggak mau. Kalau sekarang, kan, orang mencari gelar Doktor HC semua. Pak Harto kalau mau gelar Doktor Honoris Causa, barangkali dia sudah dapat puluhan gelar itu.


Sebagai presiden, yayasan-yayasan itu ada untuk membantu masyarakat. Apa yang membuat Soeharto mendirikan yayasan ketimbang bikin lembaga negara yang mengurusi hal-hal itu?

Karena kalau lembaga negara itu, kan, formal, tetapi kalau sedekah, kan, informal. Jadi menurut Pak Harto, justru ini yang harus ditangani.

Pak Harto sebagai seorang Muslim menyadari bahwa Islam perlu dana untuk membangun masjid, tetapi, kan, tidak punya. Satu-satunya cara adalah dengan bergotong-royong. Itu dimulai dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tergabung dalam Korpri.

Mereka yang masuk dalam Golongan I menyumbang iuran 50 rupiah per bulan, golongan II iuran 100 rupiah, golongan III 500 rupiah, dan Gologan IV 1.000 rupiah. Terkumpul dana besar. Itu untuk bikin masjid. Sederhana. Kalau diteruskan, kan, bagus itu.


Itu dikumpulkan sedekah semua orang, jadilah masjid yang berjumlah 999 ini. Pernah mikir enggak, Pegawai Negeri Sipil itu kalau ikut sedekah 50 perak, 100 perak, 500 perak, sampai 2000 perak per bulan, itu, kan, tidak ada artinya.

Jadi, masyarakat yang masjidnya dibangun YAMP hanya perlu diam dan tonton saja. Tiga bulan kemudian, tinggal terima kunci. Siap pakai. Setelah itu, kita serahkan ke mereka.

Tetapi kemudian yayasan-yayasan itu digunakan untuk memutar kekayaan keluarga Soeharto. Seperti disebut dalam pengadilan tahun 2000, Soeharto menggelapkan uang yayasan. Apa tanggapan Anda soal itu?

Pak Harto bebas, kan? Artinya, dia enggak salah.

Dana ini diaudit setiap tahun. Di bawah saya, audit keuangan YAMP dipublikasikan di koran. Biar orang tahu larinya duit ke mana. Itu diaudit, tidak seenaknya.

Tapi bukankah ada juga beberapa uang yayasan yang diinvestasikan di perusahaan?


YAMP enggak ada. Tidak. YAMP enggak ada.

Bukannya dana YAMP ada yang diinvestasikan di Graha Dana Abadi (Granadi)?

Ini, kan, setengah kewajiban. Masak YAMP tidak punya kantor. Jadi, kami tanam saham ke Granadi. Jadi pantes kan? Tanam ke Bank Muamalat juga pantas, kan? Itu bukan korupsi. Bank Muamalat yang mendirikan Pak Harto juga. Tetapi ingat, ya, yang mendorong berdirinya Bank Muamalat itu Pak Harto, tetapi Pak Harto bukan pemiliknya.

Di Granadi, YAMP pegang saham 10 persen. Setiap tahun dapat dividen. Itu menguntungkan. Kantor-kantor Granadi juga penuh. Semakin penuh semakin menguntungkan.

Pada 2009 YAMP berhenti mendirikan masjid, itu karena target 999 masjid sudah tercapai atau karena YAMP tidak punya uang lagi?

Karena sudah tercapai 999. Amanahnya memang sampai 999 masjid. Bagaimana masjid yang lain? Ya, biar orang lain yang mendirikan. Biar orang lain yang beramal. Kalau kami terus yang bangun masjid, kami dikira monopoli amal.

Jadi sudah cukup 999. Itu ada artinya. Angka 99 itu simbol asmaul husna. Angka 9 itu angka tertinggi yang bisa dicapai manusia. Sedangkan angka 10 itu miliknya Tuhan.


Setelah YAMP tidak mendirikan masjid lagi. Dana yang ada keperluannya untuk apa?

Ada pelatihan manajemen masjid. Ada renovasi masjid yang sudah lama. Kami teruskan, ya semampu kami. Jadi masjid yang berdiri sejak 1982 itu gentengnya mungkin sudah bocor, lantas kami ganti.

Lebih ke maintenance saja ya?

Iya. Itu pun diperuntukkan bagi masjid yang tidak mampu. Kalau mampu ya urus sendiri.

Dulu, Sudharmono menjadi Ketua Umum Golkar sekaligus menjadi Sekretaris YAMP. Disebutkan bahwa dana YAMP mengalir untuk membiayai Golkar.

Siapa bilang? Anda lihat saja buku-buku YAMP. Anda bisa tahu ke mana larinya duit YAMP.

Jadi, kaitan antara YAMP dan Golkar itu seperti apa?

Enggak ada kaitan. Orang YAMP aktif di Golkar, kan, tidak masalah.


Menurut Anda, tidak ada dana YAMP yang masuk Golkar?

Tidak ada. Kalau itu bisa saya jamin, 1 sen pun tidak ada. Ini isu yang masyarakat percaya, seperti halnya isu rumah Pak Harto ada ruang bawah tanahnya. Coba Anda lihat sana. Ini saya beri tahu saja. Itu, kan, aneh.

Atau Pak Harto punya uang di luar negeri. Itu, kan, aneh bagi saya, tetapi rakyat percaya. Ini pengaruhnya wartawan yang niatnya enggak baik. Gimana mau ada ruang bawah tanahnya, mau benerin rumahnya aja dia enggak punya duit.


Dulu, YAMP juga berkantor di Sekretaris Negara. Disebutkan bahwa ada modus perusahaan yang menyumbang ke YAMP agar dapat Bantuan Presiden (Banpres).

Sumber keuangan YAMP itu dari PNS. Isunya itu, kan, enak sekali: perusahan-perusahaan menyumbang ke YAMP. Enak benar.

Jadi, menurut Anda, tidak ada catatan perusahaan menyumbang ke YAMP?

Mereka menyumbang tetapi berdasarkan pegawainya. Ada beberapa perusahaan swasta yang ikut-ikutan sedekah seperti PNS. Karena sedekahnya ini hanya untuk PNS, ada karyawan swasta yang iri. Iri ingin ikut sedekah, kan, baik. Jangan terus dilihat oh ini karena Pak Harto. Kalau pikirannya butek, ya seperti itu.

Perusahaan diuntungkan dengan menyumbang ke YAMP?

Kalau perusahaannya sudah untung dengan sendirinya bagaimana? Perusahaan ini sudah untung, kemudian karyawannya ingin menyumbang. Masak ditolak?

Pak Harto, kan, mengeluarkan izin perusahaan macam-macam. Kemudian, orang yang dibantuin ingin balas budi, kan, boleh saja. Asal sukarela, loh, ya. Saya melihatnya begitu.

Seperti Benny Moerdani. Awalnya, kan, hanya PNS yang menyumbang ke YAMP. Iuran anggota militer untuk YAMP itu Pak Benny yang memutuskan. Pak Benny itu orang Katolik. Artinya orang Katolik pun iri ingin menyumbang.


Selain YAMP, ada banyak yayasan lain yang terkait keluarga Cendana. Mereka disebut menanam saham di perusahaan, misalnya Yayasan Harapan Kita atau Yayasan Trikora?

Kalau soal yayasan lain tanya ke yayasan yang bersangkutan. Saya enggak mau jadi juru bicara yayasan lain.

Pak Harto sudah wafat. Begitu pula dengan Bu Tien. Bagaimana keberlanjutan YAMP di tangan anak-anak dan cucu-cucu Soeharto?

Di YAMP ada Pak Sigit. Dia setuju saja semuanya. Di YAMP tidak ada cucu-cucu Soeharto.

Baca juga artikel terkait HAUL SOEHARTO atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Husein Abdulsalam & Mawa Kresna
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan