Kala Startup dan Gig Economy Rontok Akibat COVID-19

Ilustrasi Startup. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 14 Mei 2020
Dibaca Normal 3 menit
Corona menghantam dunia startup. Mana yang bertahan?
“Kami telah melakukan upaya terbaik untuk mengatasi dampak dari bencana (virus corona) ini,” terang Airy, startup yang merangkul hotel-hotel bertarif murah dan menawarkannya kepada masyarakat melalui aplikasi. Pernyataan Airy menanggapi hancurnya bisnis wisata dan akomodasi atas pandemi COVID-19 dimuat dalam email yang dikirim pada para mitra bisnis, sebagaimana diungkap Tech in Asia (8/5/2020).

“Namun, mengingat penurunan teknis yang signifikan dan pengurangan sumber daya manusia, kami telah memutuskan untuk menghentikan operasional bisnis kami secara permanen,” lanjut Airy. “Setelah 31 Mei 2020 kami tidak dapat menyediakan layanan untuk semua mitra.”

Airy yang awalnya bernama AiryRooms didirikan pada 2015 oleh Danny Handoko dan Samsu Sempena, dua orang mantan pegawai Traveloka. Dalam wawancara dengan Marsya Nabila untuk DailySocial di akhir 2019 lalu, Danny mengaku bisnis Airy terbilang tokcer. Startup dengan lebih dari 300 karyawan itu, aku Danny, memiliki pertumbuhan bisnis di angka 50 hingga 60 persen.

“Dari tahun pertama ke tahun kedua Airy kami tumbuh cukup signifikan, bahkan bisa hit dua kali lipat,” ujar Danny.

Sayangnya, COVID-19 meledak di awal 2020. Setelah lebih dari empat bulan menyebar ke seluruh dunia, virus SARS-CoV-2 membunuh 270 ribu jiwa (data per 8 Mei 2020) dan meruntuhkan banyak bisnis. Salah satu korbannya adalah Airy.


Airy tidak sendiri. Startup-startup besar berlabel “Unicorn” pun tak luput dari hantaman Corona. Uber, misalnya, menyatakan hendak melakukan PHK terhadap 3.700 karyawannya atau setara dengan 14 persen total jumlah pekerja.Startup akomodasi dan wisata Airbnb telah melakukan mem-PHK 1.900 karyawannya atau sekitar 25 persen dari tenaga kerja perusahaan.

“Kita bersama-sama hidup dalam krisis yang paling mengerikan yang menyebabkan perjalanan global (inti bisnis Airbnb) terhenti. Bisnis Airbnb terpukul sangat keras,” tulis CEO Airbnb Brian Chesky dalam surat yang dikirimkannya kepada seluruh karyawannya.

CEO Uber Dara Khosrowshahi menyatakan bahwa COVID-19 memporak-porandakan dunia transportasi. Menurut Khosrowshashi, bisnis ride-sharing Uber turun hingga 80 persen di bulan April lalu.

Secara terpisah, Logan Green, CEO Lyft, startup ride-sharing yang telah melakukan PHK terhadap 982 karyawannya, menyatakan bahwa kehancuran banyak bisnis akibat pandemi Corona “adalah kenyataan pahit yang mesti diterima”.

Tentu saja, fenomena ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di rentang yang sama setahun sebelumnya. Uber, misalnya, di tiga bulan pertama 2019, mengantongi pendapatan senilai $3,10 miliar, naik dari pendapatan senilai $2,58 miliar setahun sebelumnya.

“Ekonomi Mitra” yang Dulu Dipuja Pengusaha, Kini Merana

Tapi tak semua bisnis hancur gara-gara Corona. Tidak sedikit startup yang bahkan mendulang untung. Nuraini Razak, VP of Corporate Communication Tokopedia, sebagaimana diungkapkannya pada Katadata, menyebut angka penjualan di kategori kesehatan, keperluan rumah tangga, hobi, serta makanan dan minuman "meningkat signifikan”. Sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak mengalami kenaikan permintaan penjualan sembako hingga 400 persen, seminggu pasca-status PSBB diumumkan pemerintah, dengan nilai transaksi mencapai Rp4,1 miliar.

Situasi yang sama tak hanya berlaku di Indonesia. Menurut riset Choueiri Group, firma analisis bisnis yang berkantor pusat di Dubai, terjadi peningkatan pembelian sembako secara online di Arab Saudi. Sebelum pandemi muncul, hanya 6 persen populasi Arab Saudi yang membeli sembako secara online. Namun, di bulan April kemarin, 55 persen populasi Saudi membeli kebutuhan pokoknya secara online. Peralihan dari berbelanja fisik ke online itu dinikmati terutama oleh BinDawood dan Danube, platform e-commerce di Arab Saudi.

Startup di segmen bisnis mana sesungguhnya yang paling terdampak pandemi?

Dalam laporannya untuk The New York Times, Kate Conger punya jawaban singkat: “sharing economy". Sharing economy merupakan konsep lama: membagi aset secara peer-to-peer dengan transaksi yang dilakukan secara terdesentralisasi antar individu.

Dalam kerangka teknologi, sharing economy kini bertransformasi setelah "ditunggangi" sentuhan teknologi, dalam hal ini aplikasi. Dalam laporan Komisi Perdagangan Federal AS yang bertajuk “The ‘Sharing’ Economy Issues Facing Platform, Participants and Regulators" (2016) menyebutkan bahwa dalam konteks kerangka teknologi, sharing economy merupakan marketplace yang dikelilingi tiga pemain utama: platform (aplikasi), sebagai tempat berlangsungnya sharing economy, penjual, dan pembeli.

Laporan tersebut menyatakan platform atau aplikasi berguna “untuk mempertemukan individu yang memiliki suatu barang dengan seseorang yang menginginkan barang tersebut”. Di waktu-waktu normal, ini tidak jadi soal. Namun, di masa pandemi, pertemuan antar pengguna platform atau aplikasi--baik yang menawarkan jasa maupun pengguna jasa--sukar dilakukan.

Selama vaksin belum ditemukan, menjaga jarak fisik (physical distancing) sangat perlu dilakukan. Ditambah lagi, pemerintah di banyak belahan dunia memberlakukan karantina wilayah. Masyarakat hanya diperbolehkan keluar rumah untuk urusan-urusan esensial semata.

Programmer Uber, Grab, Gojek, Airbnb, dan startup teknologi lainnya dapat bekerja dari rumah tatkala karantina dilakukan. Namun, pengemudi Uber, Grab, Gojek, atau akomodasi yang ditawarkan via Airbnb, atau pengantar makanan di FoodPanda, tidak akan dapat bekerja dari rumah. Pekerjaan mereka memang mengharuskan pertemuan langsung antara pemilik jasa dan orang yang membutuhkan jasa.



Walhasil, transaksi jasa sukar dilakukan karena pandemi COVID-19. Mengutip Statista, dunia pariwisata dunia diperkirkan jatuh dari $685 miliar di tahun 2019 ke $396 miliar di tahun 2020. Sebagaimana diwartakan Reuters, dunia penerbangan internasional kini kehilangan 1,2 miliar penumpangnya akibat pandemi. Platform sharing economy di bidang lain--misalnya Airbnb dan Airy yang mempertemukan pemilik akomodasi dengan konsumen--juga ikut terpukul.


Secara menyeluruh, di 2019, bisnis ride-sharing menghasilkan pendapatan total senilai $302 miliar bagi berbagai pemainnya di seluruh dunia. Pendapatan bisnis ride-sharing diyakini akan terjun ke angka $192 miliar karena pandemi COVID-19. Di dunia pariwisata, tempat di mana Airbnb dan Airy dan OYO dan RedDoorz hidup, proyeksi pendapatan tahun 2020 diubah, dari $711 miliar menjadi hanya $447 miliar.

Menurut Direktur Wedbush Securities Daniel Ives, dunia sharing economy atau yang acap disebut gig economy, bisnis ini akan kehilangan 30 persen pendapatannya dalam satu hingga dua tahun mendatang. Dengan kata lain, bisnis yang dipelopori Uber ini akan tertatih-tatih.

Mengutip laporan AppJobs, platform komparasi aplikasi kerja yang melakukan survei pada 1.400 pekerja gig economy (semisal pengemudi Uber) yang terdampak pandemi COVID-19, 52 persen responden menyatakan sudah kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Yang paling menyedihkan, hanya 23 persen responden yang mengaku memiliki tabungan untuk bertahan hidup.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight