Juventus di Tangan Pirlo Inkonsisten, Serie A Menanti Juara Baru?

Oleh: Hendi Abdurahman - 27 Februari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Skuad Juventus di bawah asuhan Pirlo masih dihantui inkonsistensi performa. Tim rival memanfaatkan situasi dan berpeluang merebut Scudetto.
tirto.id - Sejak Andrea Pirlo resmi menukangi Juventus pada 8 Agustus 2020 lalu, beberapa pengamat sepak bola dan tifosi terbagi menjadi dua kubu. Sebagian percaya bahwa Pirlo adalah sosok yang tepat untuk menggantikan Maurizio Sarri. Sementara itu, separuh lainnya menilai penunjukkan Pirlo adalah kekeliruan.

Kini, setelah tujuh bulan Pirlo membesut Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan, kubu mana yang berhak mendaku kebenaran belum bisa dipastikan.

Pirlo membuktikan diri dengan keberhasilannya membawa La Vechia Signora merengkuh trofi Supercoppa Italia. Namun, gelar tersebut tidak lebih prestisius dibandingkan Scudetto—apalagi trofi Liga Champions.

Dari sisi individual, Pirlo telah memenuhi apa yang diharapkan. Ketika memastikan melaju ke partai puncak Coppa Italia musim ini, Pirlo menyebut bahwa pencapaiannya pada musim perdana sebagai pelatih telah berhasil.

“Sebagai debutan, saya memang merencanakan untuk memenangi Supercoppa, mencapai final Coppa Italia, dan menembus babak 16 besar Liga Champions,” katanya sebagaimana dikutip Football Italia.

Akan tetapi, apakah torehan itu sudah cukup memuaskan ambisi klub? Jawabannya mudah belaka, belum. Lagi pula, bukankah memburu gelar juara di ajang-ajang besar memang sudah menjadi “keharusan” bagi tim sebesar Juventus?

Ekspektasi Tinggi

Sebagai pelatih kemarin sore, langkah-langkah yang diambil Pirlo sejauh ini relatif bagus. Dalam The Football I Woluld Like—tesis yang ditulisnya untuk memenuhi syarat lisensi kepelatihan UEFA Pro, Pirlo menuturkan bahwa peran pemain sudah berganti dalam sepak bola modern. Ia tidak lagi mengenai posisi, melainkan memiliki fungsi yang berbeda.

Sekilas, tesis itu menunjukkan potensi Pirlo menjadi pelatih hebat. Lagi pula, Pirlo memang dikenal cerdas sejak dia masih berstatus pemain. Menurut Transfermarkt, Pirlo mampu mencetak 73 gol dan 120 asis dalam total 756 penampilan di level klub. Dia berperan sebagai trequartista dan kemudian beralih menjadi regista.

Kedua peran itu mensyaratkan teknik, kreativitas, juga visi yang mumpuni. Jadi, pengalaman Pirlo dalam peran itu boleh jadi dapat memengaruhi sudut pandangnya sebagai pelatih. Dengan modal itu, Pirlo berpeluang meraih sukses sebagaimana Antonio Conte dan Zinedine Zidane—eks penggawa Juventus yang kini juga menjadi pelatih.

Meski begitu, nasib Pirlo bisa pula mengarah sebaliknya. Lagi-lagi harus diakui bahwa Pirlo masihlah pelatih kemarin sore. Inilah titik perbedaan mencolok antara Pirlo dan Conte atau Zidane. Ketika baru sekitar seminggu melatih Juventus U-23, dia tiba-tiba ditunjuk melatih Juventus senior dengan beban dan ekspektasi tinggi.

Sementara itu, Conte dan Zidane memulai karier kepelatihannya dari bawah. Conte memulai karier kepelatihannya dari tim Serie B, Arezzo, sedangkan Zidane bergumul di Real Madrid Castilla dari 2014 hingga 2016. Lantaran tempaan dan pengalaman mendaki dari bawah itu, keduanya kini mampu menanggung beban berat melatih klub raksasa.

Jurnalis Tuttosport Guido Vaciago menunjuk kekalahan Juventus dari Porto di laga pertama babak 16 besar Liga Champions 2020/2021 sebagai contoh minimnya pengalaman Pirlo dalam memilih pemain.

Pirlo memasang banyak pemain muda sebagai starter saat itu. Sebutlah di antaranya Federico Chiesa, Dejan Kulusevski, Rodrigo Bentancur, dan Weston McKennie. Dalam timbangan Vaciago, itulah salah satu faktor kunci kekalahan Juventus.

“Chiellini mesti ditarik keluar ketika laga baru berjalan setengah jam. Jadi, di antara para pemain utama, hanya ada Danilo, Ronaldo, dan Alex Sandro yang berusia di atas 25 tahun. Dalam kompetisi Liga Champions, minimnya pengalaman bermain bisa menjadi masalah yang fatal,” tulis Vaciago.

Ketidakseimbangan jumlah antara pemain muda dan senior yang turun di starting eleven membikin kekuatan Juventus goyah. Vaciago bahkan menyebut permainan Juventus dalam laga tersebut seperti sekumpulan bocah.

Bagi Fabio Cannavaro, mantan bianconero yang kini melatih klub Cina, Juventus saat ini jelas belum sesuai dengan ideal yang ingin dicapai Pirlo sendiri. Cannavaro juga mengatakan bahwa Pirlo belum seberhasil Gattuso dalam membentuk tim yang dilatihnya. Meski begitu, Cannavaro yakin Pirlo tetap akan berhasil.

Andrea memiliki pengetahuan dan pengalaman. Jadi, saya yakin dia akan keluar dari situasi sulit ini,” kata Cannavaro seperti dikutip Tuttosport.


Perlu Mengasah Strategi dan Pengalaman

Dalam laga debutnya sebagai pelatih ketika melawan Sampdoria di Stadion Allianz, Pirlo menawarkan optimisme. Selain menang tiga gol tanpa balas, Pirlo juga menunjukkan gaya permainan yang berbeda dibandingkan Maurizzio Sarri, pelatih terdahulu.

Alih-alih menerapkan 4 bek sejajar, Pirlo memilih untuk mengusung skema dasar 3-5-2 yang bisa juga berubah menjadi 3-4-2-1. Lalu, McKennie dan Gianluca Frabotta diturunkan sejak sepak mula.

Turunnya Frabotta sebagai starter adalah kejutan dari Pirlo. Pasalnya, sejak bergabung dengan Juventus pada 2019, dia termasuk jarang tampil untuk tim senior. Sebelumnya, Frabotta bermain di Serie C bersama Juventus U23.

Kemenangan Pirlo di laga pertama itu terhitung lebih gemilang jika dibandingkan dengan capaian Sarri. Kala itu, Bianconeri hanya meraih kemenangan tipis 0-1 atas Parma. Namun, Sarri lebih mampu menjaga rekor tak terkalahkan daripada Pirlo.

Sarri mampu melewati 20 laga awal tanpa sekali pun kalah, sementara Pirlo yang minim pengalaman hanya bisa bertahan di 5 laga awal. Pada laga keenam, Juventus-nya Pirlo kalah 0-2 kala melawan Barcelona di fase grup Liga Champions.

Selama menukangi Juventus, Sarri tercatat kalah dalam 9 pertandingan dari 51 laga. Sementara itu, sejauh ini, skuad Pirlo telah kandas sebanyak 5 kali dan boleh jadi catatannya masih akan bertambah lagi jika menilik inkonsistensinya.

Benar belaka bahwa konsistensi adalah satu hal yang belum dimiliki skuad asuhan Pirlo. Padahal, konsistensi merupakan faktor penting untuk mengarungi kompetisi yang panjang dan meraih juara.

Dari segi permainan, penguasaan bola tetap jadi andalan Pirlo. Dari catatan Whoscored, Juventus adalah tim terbaik kedua dalam hal ball posession di Serie A. Juventus tercatat meraih rata-rata 56,8 persen penguasaan bola per pertandingan. Ia hanya kalah dari Sassuolo mencatat rata-rata 57,4 persen di peringkat pertama.

Infografik Inkonsistensi Juventus
Infografik Inkonsistensi Juventus di Tangan Pirlo. tirto.id/Quita


Ashwin Ballal dari Total Football Anlysis menyimpulkan, laga Juventus melawan Napoli pada pekan ke-22 Serie A bisa dijadikan contoh pendekatan permainan Pirlo. Pada laga itu, Juventus menang dalam penguasaan bola yang menyentuh 62,4 persen. Juventus juga unggul dalam hal jumlah tembakan (24) dibanding Napoli (8).

Namun, keunggulan statistik itu tidak berbanding lurus dengan hasil akhir. Juventus kalah 1-0 dan itu mempertipis peluangnya meraih Scudetto untuk kali kesepuluh secara beruntun.

Ballal menyebut, meski sama-sama mengusung formasi 4-4-2, Pirlo kerap mengubah cara bermain—terutama ketika menyerang. Pirlo menginginkan Juan Cuadrado dan Danilo, yang dipasang di posisi fullback kanan dan kiri, untuk sering-sering naik ke depan. Pilihannya ini berbeda dibanding Sarri yang hampir selalu menginstruksikan fullback agar menahan diri.

Dalam situasi diserang dan transisi masih belum optimal, salah satu gelandang ditugaskan untuk turun sehingga formasi berubah menjadi tiga pemain di lini belakang. Tapi, skema ini tak selalu berjalan mulus. Terlebih, menurut Ballal, para pemain Juventus juga buruk dalam pengambilan keputusan. Intinya, Juventus gagal menciptakan peluang berkualitas.

Situasi serupa juga terlihat ketika Si Nyonya Tua kalah dari Porto. Juventus memang mendominasi penguasaan bola dalam laga itu seperti telah diprediksi. Dengan penguasaan bola 65 persen, tim asuhan Pirlo melakukan 12 kali percobaan tembakan ke gawang Porto. Sementara itu, tuan rumah Porto hanya menghasilkan 8 ancaman ke gawang Juventus. Namun, lagi-lagi Juve dipaksa menyerah dengan skor 1-2.

Bahkan, momentum Ronaldo yang bertubrukan dengan Danilo di sisi kanan pertahanan lawan mengindikasikan bahwa faktor komunikasi—yang selama ini digadang-gadang menjadi kelebihan Pirlo dalam membangun tim—mulai tidak berjalan sebagaimana mestinya.


Serie A Kembali Menarik?

Masa transisi Juventus di bawah Andrea Pirlo nyatanya bisa dimanfaatkan tim rival untuk merusak dominasi si Zebra di Serie A. Dua klub asal Kota Milan, Internazionale dan AC Milan, saling sikut untuk menjadi yang terdepan dalam misinya mengakhiri puasa gelar.

Kendati kerap bergonta-ganti pelatih, La Vecchia Signora tetap mampu mendominasi liga dan merengkuh sembilan kali juara secara beruntun. Hal ini membuat Serie A terkesan tak menarik.

Kini, fakta bahwa duo Milan bercokol di peringkat 1 dan 2 membuktikan bahwa persaingan juara Serie A musim ini lebih berwarna. Belum lagi, AS Roma, yang bercokol di urutan 3, bisa saja memberikan kejutan.

Dalam sebuah survei yang dilakukan ItaSportsPress dan dilaporkan Football Italia, sejumlah pelatih Serie A menjagokan Inter Milan bakal juara musim ini.

Dari 16 suara yang masuk, 11 di antaranya memilih skuad arahan Antonio Conte. Nama-nama seperti Gian Piero Gasperini, Filippo Inzaghi, Eusebio Di Francesco, hingga Gennaro Gattuso percaya Nerazurri berpeluang besar meraih Scudetto. Internazionale terakhir merengkuh gelar itu pada 2009/2010.

Meski begitu, kesempatan Juventus belum sepenuhnya pupus. Masih ada sejumlah pertandingan dan segala kemungkinan masih bisa terjadi, asalkan Pirlo bisa menjaga performa timnya tetap konsisten. Jika tetap seperti sekarang, kehadiran juara baru Serie A boleh jadi akan jadi nyata.

Baca juga artikel terkait JUVENTUS atau tulisan menarik lainnya Hendi Abdurahman
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Hendi Abdurahman
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight