Jurnalis Rusia Arkady Babchenko Memanipulasi Pembunuhannya Sendiri

Oleh: Yuliana Ratnasari - 31 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Kematian jurnalis Rusia Arkady Babchenko telah dimanipulasi sedemikian rupa untuk menangkap orang-orang yang mencoba membunuhnya.
tirto.id - Seorang wartawan perang Rusia dilaporkan tewas di Kiev, ibu kota Ukraina pada 29 Mei waktu setempat. Arkady Babchenko ditembak sebanyak tiga kali di punggungnya. Nyawanya tak tertolong dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Media-media mengharap adanya kabar terbaru dalam penyelidikan kasus pembunuhan jurnalis ini. Namun, publik dikejutkan dengan kehadiran Babchenko yang muncul dalam keadaan hidup saat konferensi pers polisi, Rabu (30/5/2018) waktu setempat.

Mengutip The Guardian, kepala dinas keamanan Ukraina, Vasily Gritsak, mengatakan bahwa kematian Babchenko telah dimanipulasi sedemikian rupa untuk menangkap orang-orang yang mencoba membunuhnya.

Pemalsuan pembunuhan yang dikoordinasikan dengan polisi Ukraina itu merupakan bagian dari penyelidikan terhadap ancaman yang menimpa hidup Babchenko. Operasi itu sudah direncanakan selama lebih dari satu bulan.

Skenario kematian itu untuk menangkap pembunuh yang dibayar oleh pasukan Rusia. Polisi Ukraina mengatakan mereka telah melakukan satu penangkapan sehubungan dengan operasi itu.

Gritsak menyatakan, pihak berwenang Rusia telah merekrut seorang mantan pejuang di timur Ukraina dengan menawarkannya $30.000 (£ 23.000) untuk melakukan pembunuhan terhadap Babchenko.

Ada napas tertahan dan tepuk tangan saat Babchenko memasuki ruangan konferensi pers. Dia mengucapkan terima kasih kepada dinas keamanan Ukraina karena menyelamatkan hidupnya. Babchenko mengatakan dia tidak punya pilihan selain mengambil bagian dalam operasi itu.

"Saya melakukan pekerjaan saya," kata dia
. " Aku masih hidup."

"Saya telah mengubur banyak teman dan kolega berkali-kali dan saya tahu perasaan yang memuakkan itu," tambahnya. "Aku menyesal kamu harus mengalaminya. Tapi tidak ada jalan lain."

"Permintaan maaf khusus untuk istri saya, Olechka - tidak ada pilihan lain," kata Babchenko. "Operasi sedang dalam persiapan selama dua bulan."

Beberapa jam setelah berita itu pecah, Babchenko menuliskan cutan yang mengatakan dia akan "mati pada usia 96" setelah "menari di atas kuburan Putin", mengacu pada Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Babchenko dinilai telah sangat kritis terhadap pemerintah Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Dia mengkritik pencaplokan Vladimir Putin atas Krimea dan dukungannya bagi separatis dari Ukraina tenggara.

Ia kemudian memutuskan meninggalkan Rusia pada Februari 2017 karena menerima ancaman dan khawatir akan dipenjara. Babchenko menulis bahwa Rusia adalah "negara yang saya tidak lagi merasa aman."

Beberapa artikel dan tulisan Babchenko telah membuat marah banyak orang Rusia. Dia pernah menyatakan tidak merasa menyesal tentang kematian anggota paduan suara tentara Rusia dalam kecelakaan pesawat Desember 2016. Beberapa anggota parlemen Rusia bahkan menyerukan untuk menghapus Babchenko dari kewarganegaraannya atas komentar tersebut.

Babchenko pernah bertugas di militer Rusia dan bertempur selama perang separatis pertama di Chechnya selama tahun 1990-an. Dia kemudian menjadi seorang wartawan dan bekerja sebagai koresponden militer untuk beberapa media Rusia.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia mengutuk pembunuhan yang dimanipulasi itu, menyebutnya "jelas merupakan provokasi anti-Rusia."

Juru bicara Kemenlu Maria Zakharova menggambarkan operasi itu sebagai "penyamaran" yang dilakukan untuk "efek propaganda". Namun, dia menambahkan bahwa Rusia senang bahwa Babchenko masih hidup: "Saya berharap itu selalu seperti itu," demikian sebagaimana dilansir BBC

Sementara itu, Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan, negaranya akan menawarkan perlindungan kepada Babchenko. "Tidak mungkin Moskow akan tenang," kata dia melalui Twitter. "Aku sudah memberi perintah untuk memberi Arkady dan keluarganya perlindungan."




Baca juga artikel terkait RUSIA atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Politik)


Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari