Jualan Kemudahan Cara Belajar dengan Bimbel Online

Oleh: Ahmad Zaenudin - 1 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Layanan aplikasi belajar online bermunculan dengan tawaran kemudahan belajar di tengah berkembangnya ponsel pintar.
tirto.id - Aplikasi belajar online sedang marak. Para pembuatnya mencoba memanfaatkan masifnya penggunaan gawai di kalangan pelajar. Mereka menawarkan aneka program untuk membantu belajar.

Secara keseluruhan pasar aplikasi belajar online memang menggiurkan. Pada 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui “Indonesia Educational Statistics in Brief 2015/2016” menyatakan bahwa ada 109,2 juta penduduk usia sekolah di Indonesia.

Para penyedia aplikasi belajar online itu antara lain Quipper, Zenius Education, Ruang Guru, Prime Mobile, dan banyak lainnya. Biasanya aplikasi belajar menampilkan video tutorial materi-materi dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pada laman resmi Zenius, mereka mengklaim video tutorial telah ditonton 38,3 juta kali secara online dan telah mengantarkan 78,8 persen pengguna lulus SBMPTN. Shintia, Customer Service Zenius menuturkan video tutorial yang ada di Zenius bersumber dari guru-guru atau pemateri yang direkrut secara khusus.



Sementara itu, Tri Nuraini, Public Relation & Marketing Manager Quipper mengklaim telah ada 3 juta siswa di seluruh Indonesia yang menggunakan Quipper. Pemateri pada video-video Quipper juga direkrut khusus. Seorang guru di video Quipper harus “berpengalaman mengajar minimal 5 tahun.”

Sementara itu, Ruangguru, melalui laman blog resmi mereka, mengklaim bahwa telah ada 6 juta pengguna semenjak didirikan pada 2014 lalu. Startup yang telah mengalami 4 kali funding rounds dan salah satunya disokong oleh East Ventures itu, mengklaim pula mengelola 150.000 guru yang menawarkan 100 bidang pelajaran di platform buatan mereka.

Zenius, Quipper, Ruangguru, dan layanan sejenis, bukan layanan yang bisa digunakan secara gratis. Para pengguna harus mengeluarkan biaya Rp165 ribu per bulan sebagai pelanggan Zenius. Sebagai promo, biasanya pengguna baru akan mendapatkan beberapa video secara cuma-cuma. Selain layanan akses bagi pelanggan, ada layanan Zenius Xpedia sebagai paket lengkap DVD tutorial untuk belajar secara offline, online, hingga forum Zenius Club.

Quipper juga mematok biaya bagi pelanggannya. Uang Rp440 ribu harus dirogoh konsumen untuk berlanggan paket reguler selama enam bulan. Sedangkan untuk paket-paket khusus, Ujian Nasional, dan SBMPTN dijual lebih mahal. Quipper juga menawarkan layanan bernama Quipper School dan Quipper Campus yang masing-masing menyasar kalangan pengajar dan mahasiswa.

Ruangguru, pada paket Ruang Belajar SBMPTN mematok tarif sebesar Rp225 ribu untuk berlangganan layanan itu selama 1 bulan. Lalu, ada pula Prime Mobile yang memasang tarif Rp350 ribu untuk paket belajar reguler yang mereka buka.

Biaya berlangganan Zenius, Quipper, maupun Ruangguru memang lebih murah dibandingkan dengan bimbingan belajar konvensional seperti Ganesha Operation. Program Super Intensif SBMPTN misalnya dipatok Rp3.650.000. Siswa juga harus membayar Rp200 ribu untuk biaya pendaftaran.


infografik layanan pendidikan online di indonesia


Ceruk Pasar dari Belajar Mandiri

Zenius, Quipper, serta layanan sejenis lainnya adalah layanan yang menuntut para pengguna untuk belajar mandiri. Sistem ini berkebalikan dari belajar secara langsung, karena tak ada kegiatan tatap muka dengan guru atau pengajar, kecuali dengan video tutorial.

Puspita Dwi Permatasari, seorang guru pada salah satu sekolah yang ada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan mengatakan belajar secara mandiri salah satu tujuan dari pendidikan. Ia berpendapat proses belajar yang baik tak hanya duduk manis mendengarkan kata-kata para guru.



“Orang itu berhasil belajar kalau tanpa guru dia mampu belajar,” kata Puspita.

Menurut Puspita “Tugas guru itu kalau ada murid tanya, ya balik tanya.” Artinya, siswa sudah sepatutnya untuk dapat belajar secara aktif, bahkan jika tanpa ada guru yang membimbing.

Namun, ia mewanti-wanti agar para siswa, seperti pengguna Zenius maupun Quipper, aktif memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran lainnya kala memilih belajar mandiri.

Pendapat lain disampaikan oleh Nuning Tejaningrum, mantan guru bimbingan belajar pada sebuah pusat bimbingan belajar asal Yogyakarta. Belajar secara tatap muka punya keunggulan karena bisa memantau kemajuan siswa dalam menyerap materi pelajaran, kondisi sebaliknya pada pembelajaran secara mandiri atau online.

Nuning berpendapat belajar secara mandiri secara online akan menimbulkan kesulitan ihwal interaksi pengajar dan murid saat ada kesulitan menangkap materi.

Pendapat Nuning seakan diamini oleh Ramdhani Ilham (25), pemuda yang lebih memilih mengikuti bimbingan belajar pada Prosus Inten dibandingkan membeli paket video tutorial.

"Bimbel menyediakan interaksi dua arah, sehingga kalau tidak mengerti bisa nanya dan diulang dengan contoh kasus berbeda. Kalau pakai program, ya sudah gitu-gitu aja," ungkap Ramdhani.

Alda (18), mahasiswi Vokasi Universitas Indonesia pun mengamini. Perempuan yang memilih bimbingan belajar guna menghadapi SBM itu merasa bahwa layanan seperti Zenius, Quipper, dan sejenisnya "kurang efektif."

"Enggak ada yang ngajarin gitu, karena kita cuma baca (dan nonton) aja. Di Bimbel apa yang enggak ngerti kami bisa nanya, bisa diulang. Bisa ngerti," tuturnya.

Kritikan semacam ini mendapat respons pengembang dari aplikasi. Tri Nuraini dari Quipper mengatakan layanan video tutorial Quipper memang dirancang untuk belajar mandiri. Saat siswa kurang paham, ia bisa mengulang kembali video yang telah ditonton.



Tri mengungkapkan proses tanya-jawab bisa dilakukan melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Selain itu, mereka pun memiliki fitur bernama live session sebagai sarana untuk bertanya langsung bertanya kepada guru. Pada layanan Zenius, proses tanya-jawab melalui forum mereka bernama Zenius Club yang ada pada paket Zenius Xpedia.

Pendapat Tri seakan diamini oleh Luthfan (21), mahasiswa Fisika UI angkatan 2014. Ketika ditemui di asrama mahasiswa UI, Luthfan mengatakan bahwa Zenius, layanan yang dipilihnya, mengajarkan materi dengan interaktif.

"(Zenius) ngajarin lebih terkonsep, enggak hanya rumus, tapi memahami konsep. Menjelaskan bagaimana menyelesaikan yang baik dan benar, urutannya bagaimana. Ngga asal harus jawab. Dia ngejelasin sudah bagus, (saat tercetus pertanyaan) sudah kejawab sendiri (dengan tutorial yang mereka buat)," kata Luthfan menambahkan.

Pasar belajar online menggairahkan. Studi yang dilakukan Research and Markets, yang dilaporkan The Journal, mengungkapkan bahwa kepopuleran aplikasi pendidikan terutama karena tingkat adopsi smartphone dan tablet oleh kalangan pelajar tinggi. Aplikasi-aplikasi tersebut, dapat mudah dimanfaatkan para pelajar karena mereka memiliki gawai yang menjadi teman sehari-hari.

Aplikasi belajar online memang jadi salah satu alternatif bagi para pelajar memahami pelajaran. Namun, para pengembang aplikasi ini memang punya tantangan menyediakan layanan yang bisa menjawab kebutuhan penggunanya tak hanya sebatas membantu memberi pemahaman. Namun, memberi kemudahan dengan materi-materi yang lebih singkat dan sesuai kebutuhan dari sisi para penggunanya.

Baca juga artikel terkait SEKOLAH atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra