Jonan Klaim Milenial Tak Tertarik Terjun ke Industri Tambang

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 25 April 2019
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan soal ketertarikan generasi muda untuk menjadi pengusaha tambang sudah ditinggalkan.
tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan soal ketertarikan generasi muda untuk menjadi pengusaha tambang sudah ditinggalkan.

Menteri Jonan mengatakan generasi milenial saat ini tidak menyukai industri-industri rumit seperti tambang.

"Generasi muda tidak lagi tertarik untuk bekerja di sektor yang sangat sulit seperti pertambangan, minyak, gas, pembangkit listrik jika lingkungan kesehatan dan keselamatannya tidak bisa mengimbangi industri baru," kata dia saat membuka Konferensi Internasional tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Ballroom Hotel JS Luwansa Jakarta Selatan, Kamis (25/4/2019).

Ia menjelaskan, generasi milenial lebih tertarik untuk bekerja di industri digital. Hal ini tentu, kata Jonan, berat dilakukan di sektor energi. Peralihan daya tarik generasi milenial ini akan mengarah ke sektor jasa, dengan mengikuti perkembangan revolusi industri 4.0.

Kedua hal ini tentu tidak bisa dibandingkan, bahkan Jonan menyebut industri energi akan ditinggalkan oleh generasi muda.

"Ada banyak tantangan di industri di sektor ESDM. Salah satunya industri ini tidak diminati anak muda lagi. Oleh karena itu, kita butuh mencari beberapa solusi bersama industri dan bisnis," ujar dia.

Berdasarkan pergeseran minat para pekerja muda, industri ESDM perlu juga berinovasi dan segera menyesuaikan diri dengan perkembangan industri lainnya.

Ia mengatakan, paling tidak ada lima perusahaan dari sektor energi yang berada dalam daftar perusahaan terbesar dan paling diminati oleh para pencari kerja.

Lima perusahaan itu yakni Exxon, Sinopec PetroChina, Gazprom dan Royal Dutch Shell. Namun, Jonan menyebut dari lima perusahaan energi tersebut tidak ada yang masuk dalam 10 perusahaan terbesar di dunia.

Di sisi lain, perusahaan yang berbasis jasa dan teknologi belakangan menjadi orang-orang kaya baru. Seperti Alibaba, Google, Microsoft, Amazon, Apple sampai Facebook.

"Jika lihat di 2008, tidak ada dari perusahaan itu ada dalam 10 perusahaan terbesar di dunia. Ini fakta," jelas dia.


Baca juga artikel terkait PERTAMBANGAN atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Maya Saputri
DarkLight