Menuju konten utama

Jokowi Didesak Atasi Kronisme dan Ekonomi Tak Produktif

Ekonom Faishal Basri mendesak pemerintahan Presiden Joko Widodo atasi masalah tingginya indeks kronisme di sektor bisnis

Jokowi Didesak Atasi Kronisme dan Ekonomi Tak Produktif
Faisal Basri. Antara foto/wahyu putro.

tirto.id - Ekonom Faisal Basri berpendapat pemerintahan Presiden Joko Widodo perlu serius menangani masalah tingginya indeks kronisme di Indonesia.

Menurut dia masih tingginya indeks keterkaitan antara sektor bisnis dengan kepentingan politik di Indonesia ini bisa melemahkan produktivitas nasional dan memperlebar kesenjangan.

Basri mencatat, pada 2004, indeks kronisme ekonomi di Indonesia menempati peringkat ke-16 di dunia. Pada 2014, peringkat itu naik menjadi ke-8. Sementara di 2016 lalu, posisi Indonesia naik satu peringkat ke posisi 7.

“Kita top, tapi top jelek,” kata Basri dalam Diskusi “Sara, Radikalisme, dan Prospek Ekonomi Indonesia 2017”, yang digelar Dewan Pertimbangan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), di Graha CIMB Niaga, pada Senin (23/1/2017).

Rendahnya produktivitas nasional, menurut Basri, terlihat dari besarnya dominasi sektor jasa di industri domestik. Kondisi demikian, menurut dia, terus mengerek angka impor di tengah pertumbuhan ekspor nasional yang lamban.

“Coba Cina, sektor (produksi) barang gede, mau ningkatin jasa. Udah ditingkatin, tapi tetap masih 50-50. Tapi Indonesia miskin, sektor jasanya 60%,” kata Basri.

Rendahnya produktivitas di sektor pertanian, menurut Basri, juga masalah berat yang menghantui perekonomian Indonesia sekarang. Padahal, kata dia, anggaran pemerintah untuk mendukung sektor pertanian sangat besar. Kinerja kementerian pertanian, menurut Basri, patut dievaluasi.

Indeks kapitalisme kroni, yang dirilis oleh The Economist pada (5/5/2016), memang menempatkan Indonesia di posisi ketujuh. Tapi, peringkat Indonesia itu masih di bawah posisi Rusia, Malaysia, Filiphina, Singapura, Ukraina dan Meksiko yang berada di ranking 1-6. Indeks ini memasukkan daftar 22 negara dengan masalah kapitalisme kroni yang terberat dan memposisikan Jerman di urutan terbawah.

Berdasar indeks tersebut, nilai kekayaan konglomerat dari kalangan kapitalisme kroni di Indonesia masih hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan mereka yang berbisnis tanpa dukungan koneksi politik.

Masa 20 tahun terakhir merupakan periode keemasan bagi kapitalis kroni di banyak negara. Indeks itu mencatat, selama 2004 sampai 2014, nilai kekayaan kapitalis kroni melonjak sebesar 385 persen jadi $2 triliun.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI atau tulisan lainnya dari Addi M Idhom

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom