Menuju konten utama

Jokowi: Cuti Bersama Akhir Oktober Jangan Picu Naiknya Kasus COVID

Presiden Jokowi meminta libur panjang dan cuti bersama 28-30 Oktober 2020 tidak memicu terjadinya kenaikan kasus COVID-19.

Jokowi: Cuti Bersama Akhir Oktober Jangan Picu Naiknya Kasus COVID
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat acara penyaluran dana bergulir untuk koperasi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (23/7/2020). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).

tirto.id - Presiden Jokowi menggelar rapat terbatas tentang antisipasi COVID-19 berkaitan libur panjang pada akhir Oktober 2020. Jokowi tidak ingin libur panjang kali ini sama seperti liburan panjang sebelumnya di mana terjadi kenaikan kasus COVID-19.

"Kita memiliki pengalaman kemarin libur panjang pada satu setengah bulan yang lalu mungkin setelah itu terjadi kenaikan yang yang agak tinggi. Oleh sebab itu, ini perlu kita bicarakan agar kegiatan libur panjang dan cuti bersama ini jangan sampai berdampak pada kenaikan kasus COVID," kata Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2020).

Jokowi memaparkan perkembangan kasus COVID-19 per 18 Oktober 2020. Rata-rata kasus aktif Indonesia berada di 17,69 persen. Angka tersebut lebih rendah daripada rata-rata kasus aktif dunia di angka 22,54 persen. Jokowi pun mengatakan, "Ini bagus sekali."

Kemudian, rata-rata kematian Indonesia turun dari 3,94 persen menjadi 3,45 persen. Namun, Jokowi tidak menyinggung persentase rata-rata kematian dunia.

Persentase kesembuhan Indonesia mencapai 78,84 persen. Angka ini lebih tinggi dari angka dunia sebesar 74,67 persen. Mantan Wali Kota Solo itu berharap angka kasus bisa terus berkurang dan ditekan.

"Saya kira hal-hal seperti ini yang terus harus kita perbaiki sehingga kita harapkan tren kasus di Indonesia akan semakin membaik," kata Jokowi.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan pemerintah memutuskan agar libur pada 28-30 Oktober yang jatuh pada Rabu hingga Jumat tetap dilanjutkan.

"Sesuai dari arahan presiden menetapkan bahwa cuti dan libur dalam kaitannya dengan peringatan Maulid Nabi tetap dilaksanakan, jadi tidak ada perubahan," kata Muhadjir dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2020).

Kedua, pemerintah memutuskan agar liburan kali ini tidak sampai meningkatkan kasus COVID-19. Jokowi tidak ingin liburan menjadi pemicu kenaikan kasus. "Bapak Presiden sudah menyampaikan supaya kegiatan libur dan cuti bersama ini jangan sampai nanti menjadi faktor naiknya angka kasus dan juga peningkatan masalah COVID-19," kata Muhadjir.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menuturkan, liburan seringkali menjadi ajang bagi masyarakat untuk pulang kampung, kumpul keluarga atau berekreasi. Aksi masyarakat dikhawatirkan berpotensi menimbulkan penularan. Oleh karena itu, pemerintah mengimbau kepada warga agar tetap di rumah apabila berada di zona merah.

"Bagi rekan-rekan bapak ibu yang di daerahnya merah, daerahnya rawan penularan kalau memang bisa tidak pulang, dan tidak berlibur lebih baik mungkin mengisi waktu di tempat masing-masing, beres-beres rumah atau tempat tinggal, menikmati liburan bersama keluarga di kediaman masing-masing. Itu yang diharapkan," kata Tito dalam konferensi pers usai ratas.

Kedua, masyarakat yang ingin bepergian ke luar kota harus melakukan tes PCR dan dalam status negatif. Ia ingin agar tidak ada penularan kasus dari daerah ke daerah lain.

"Untuk pengaturan lalu lintasnya akan diatur oleh Polri, [Kementerian] Perhubungan, dan lain-lain," kata Tito.

Ketiga, pemerintah pusat mendorong agar daerah menggelar Forkopimda pada Rabu, (21/10/2020) atau Kamis (22/10/2020). Dalam rapat tersebut Kemendagri akan mendorong kembali program pertahanan daerah dari COVID-19 seperti kampung sehat, kelurahan sehat dalam menghadapi warga yang datang dari luar daerah.

Terakhir, pemerintah mendorong agar masyarakat menghindari kerumunan. Tito kembali mengajak masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. Kemudian tempat wisata harus diatur agar tidak melebihi kapasitas maupun hal lain.

"Kerawanan mungkin akan terjadi di tempat-tempat wisata. Oleh karena itu, tempat-tempat wisata ini harus betul-betul dibuat dibicarakan oleh kepala daerah, dengan Forkompimda, pengelola tempat wisata akan tidak terjadi kerumunan masif," kata Tito.

Terakhir, Tito berharap agar kegiatan tradisi dan budaya tidak dilakukan dengan menimbulkan kerumunan. Mantan Kapolri itu bahkan meminta agar daerah membangun komunikasi untuk pelaksanaan kegiatan kebudayaan tidak digelar di masa COVID-19.

Baca juga artikel terkait LIBUR PANJANG atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Maya Saputri