Johnny G. Plate Tak Usah Gelisah: Netflix Memang Butuh Konten Lokal

Ilustrasi Netflix. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 Januari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Netflix menghasilkan film melalui dua cara; membuat sendiri dan membeli lisensi.
tirto.id - Sebelum 2019 berlalu dan panitia Oscar 2020 masih mengumpulkan film-film yang layak diseleksi, Martin Scorsese, sutradara kawakan yang melahirkan Taxi Driver (1976), Goodfellas (1990), Gangs of New York (2002), The Aviator (2004), hingga Shutter Island (2010), merilis film berjudul The Irishman.

The Irishman adalah kisah tentang Frank Sheeran (Robert De Niro), mantan serdadu di Perang Dunia II, yang kemudian menjadi kaki-tangan Russell Bufalino (Joe Pesci), yang akhirnya memperkenalkannya dengan Jimmy Hoffa (Al Pacino) berseteru dengan mafia dan elite politik.

Irishman, tulis rekan saya Faisal Irfani dalam resensinya di Tirto, berbeda dari film-film Scorsese lainnya. “Kendati berjalan begitu lambat, The Irishman nyatanya tak semembosankan Silence (2016). Di lain sisi, walaupun tak sebrutal Goodfellas, Taxi Driver, atau The Departed (2006), The Irishman tetap saja mengundang ketakutan dalam versi yang elegan. Darah dan pembunuhan sadis masih dimainkan Scorsese, namun dalam kadar yang tak berlebihan.”

Namun, sesungguhnya ada yang lebih spesial dibandingkan jalan cerita The Irishman sendiri. Nilai spesial itu, alih-alih tayang di bioskop, film yang berdurasi 3 jam dan 29 menit ini memilih tayang di Netflix, platform video-on-demand (VoD).



“Karena situasi Netflix, kami dapat bereksperimen lebih banyak,” papar Martin Scorsese, sutradara The Irishman, dalam wawancaranya bersama Andrew Pulver dari The Guardian.

Maksud dari “situasi Netflix” itu adalah Netflix tidak menghadirkan pengalaman yang sama antar penggunanya. Menonton film atau serial melalui Netflix artinya menonton dengan ponsel, tablet, atau komputer, yang sangat beragam dari segi ukuran, kerapatan piksel di layar, hingga teknologi suaranya.

“Apa ada satu tempat untuk menonton film sekarang? Saya dibesarkan ketika hanya ada satu tempat untuk menonton film,” ujar Scorsese merujuk bioskop.

Communication Manager Netflix Kooswardini Wulandari mengatakan salah satu alasan yang membuat pencipta konten mau bekerjasama sama dengan Netflix adalah "creative freedom” yang diberikan Netflix kepada sineas. Menurut Kooswardini inilah yang membuat Martin Scorsese punya film khusus di Netflix.

Netflix, sebagaimana Uber dan AirBnb, adalah aktor utama disrupsi bisnis konvensional hari ini. Namun, meski berstatus “disruptor” hari ini, awalnya bisnis Netflix sangat konvensional. Didirikan oleh Reed Hasting dan Marc Randolph pada 29 Agustus 1997, Netflix menyewakan dan menjual DVD yang kemudian dikirim ke pelanggan melalui pos. Namun, seperti dilaporkan The New York Times pada 2007 silam, bisnis Netflix itu ditiru banyak pihak, misalnya oleh Wal-Mart dan Amazon yang membuka bisnis penyewaan DVD pada 2005.

Perusahaan yang memiliki 6,3 juta pelanggan dan memperoleh pendapatan sebesar $1 miliar pada 2006 ini tak bisa tinggal diam. Reed Hastings, sang CEO, menyebut “karena DVD bukanlah format yang dapat bertahan seribu tahun, orang-orang selalu bertanya apa langkah Netflix selanjutnya.”

Langkah selanjutnya: Netflix, tidak lagi mendistribusikan film melalui pos, melainkan melalui internet langsung ke perangkat pelanggan. Di kantor pusat mereka di Los Gatos, California, The World's Fastest Indian menjadi konten streaming pertama Netflix yang diketahui publik. Sebanyak 1.000 film dan serial kemudian masuk dalam katalog perdana yang disuguhkan bagi untuk pelanggannya yang rela merogoh uang $18 per bulan.

Peralihan ini awalnya tak direspons baik oleh pasar. Saham Netflix kala itu turun 6,3 persen menjadi $22,71 per lembar saham. Namun, waktu membalikkan keadaan. Mengutip data Statista, Netflix sukses mendulang 122 juta pengguna baru sejak 2012 hingga 2018. Total ada 150 juta pengguna di akhir 2018. Dengan kekuatan tersebut, sebagaimana dilaporkan The New York Times, nilai kapitalisasi perusahaan yang belum genap berumur 22 tahun pada 2018 ini berada di angka $156 miliar. Sebagai perbandingan, Disney yang telah seabad berdiri memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar $174 miliar di tahun yang sama.

Sayangnya, di Indonesia, Netflix dibayangi bermacam kontroversi. Bukan cuma PT. Telkom yang melalui Telkomsel memberikan bonus kuota bagi pelanggan untuk mengakses Maxstream alih-alih Netflix, tetapi juga soal sengketa pajak antara Netflix dan Kementerian Keuangan. Yang belakangan mencuat, keinginan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate agar Netflix mengutamakan film-film lokal.

Konten Lokal

Mengutamakan film lokal dibandingkan film asing sebetulnya tidak hanya digaungkan Johnny G. Plate. Laporan berjudul “Asia-on-Demand: The Growth of VoD Investment in Local Entertainment Industries” (Oktober 2019) yang dirilis konsultan pemasaran digital AlphaBeta menyebut konten lokal paling banyak dikonsumsi pelanggan di negara-negara Asia, khususnya Indonesia dan India.

Di Indonesia, 44 persen dari total pelanggan VoD mengkonsumsi konten lokal. Di India jumlahnya lebih besar, yakni mencapai angka 53 persen.

Karena permintaan pasar atas konten lokal besar, investasi platform untuk menciptakan konten lokal semakin besar. Pada 2022, investasi berbagai platform video-on-demand dalam mencipta konten lokal, menurut AlphaBeta, diprediksi berada di angka $10,1 miliar.

Sejak 2016, iFlix bekerjasama dengan rumah produksi lokal Screenplay Films yang telah menghasilkan setidaknya 12 film Indonesia yang tayang di platform tersebut, misalnya Magic Hours dan Headshot. Viu, yang bekerjasama dengan institusi pendidikan, dalam hal ini Institut Kesenian Jakarta (IKJ), mengadakan Viu Pitching Forum dan Viu Shorts, suatu “kawah candradimuka” yang diselenggarakan untuk mengembangkan kreator lokal di Indonesia. Dengan strategi ini, Viu telah menghasilkan Halustik dan Knock Out Girl sebagai konten lokal Indonesia yang mereka jual di 16 negara.

Baru-baru ini Netflic menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pimpinan Nadiem Makarim untuk berinvestasi senilai Rp14 miliar. Selain itu, untuk menambah koleksi film yang dapat ditonton pelanggannya, secara umum Netflix menempuh dua cara, yakni membuat konten mandiri dan membeli lisensi dari rumah produksi.

“Netflix Original itu yang kita bangun ceritanya bersama (sineas) untuk diproduksi,” papar Kooswardini. “Biasanya kami memiliki tim di masing-masing negara atau wilayah. Nah, tim kami ini kenal dengan orang-orang di industri perfilman. Mereka kenal agen, perwakilan (sineas untuk diajak bekerjasama)," ujarnya ketika diwawancarai Tirto, Kamis (16/1/2019) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Melalui Netflix Original sineas di berbagai negara punya kans menghasilkan karya yang bercitarasa lokal.

Sutradara Malaysia Quek Shio Chuan memiliki serial bertitel “Netflix Original”. Ia mengaku serial The Ghost Bride yang digarapnya diangkat dari novel berjudul serupa yang ditulis Yangsze Chou, tayang di Netflix, dan bersumber dari Netflix sendiri. “Netflix menghubungi kami,” ujarnya.

Dalam prosesnya, Chuan dan Netflix mencari rekan bisnis lain untuk memproduksi serial tersebut.

The Ghost Bride sendiri punya citra rasa lokal yang kuat. Serial ini dibikin dengan sudut pandang orang Malaysia. Sutradara dan penulisnya orang Malaysia. Demikian pula dengan lokasi syutingnya. Namun, dari banyaknya pemain yang berasal dari Taiwan, The Ghost Bride bisa juga diaku sebagai konten lokal oleh publik Taiwan. Ho Yuhang, sutradara lainnya The Ghost Bride, menyatakan, "Netflix membuat serial berlatar budaya Asia untuk juga ditonton penonton non-Asia, karena Netflix beroperasi tanpa batas negara, adalah menghadirkan sesuatu yang tidak familiar dengan mereka dan ini tidak mudah.”



Konten lokal artinya konten yang hidup erat dengan masyarakat setempat. The Ghost Bride, aku Yuhang, akan mudah dicerna penonton lokal karena faktor kedekatan. Bagi tim produksi The Ghost Bride kedekatan itu bisa berarti kisah-kisah tentang pengantin hantu atau budaya menikahkan laki-laki dan perempuan yang meninggal sebelum sempat menikah--satu hal yang cukup akrab bagi penonton Asia Selatan dan Tenggara.

Sebagaimana dilaporkan Forbes, hingga akhir 2018 Netflix menghabiskan uang senilai $13 miliar untuk menghadirkan konten di platformnya. Mayoritas, 85 persen dari uang itu dihabiskan untuk “Netflix Original”. Sisanya dipakai untuk membeli lisensi berbagai film dari berbagai rumah produksi, termasuk dari Indonesia.

Joko Anwar, sutradara film Pengabdi Setan yang akhirnya tayang di Netflix selepas melanglang buana di bioskop di Tanah Air, menyatakan bahwa Netflix dan platform video-on-demand lain adalah exhibitor yang pada prinsipnya sama dengan bioskop. Menurutnya, “OTT (Over-the-top seperti Netflix) itu merupakan tambahan platform marketing. Ada yang nggak bisa nonton ke bioskop karena suatu hal, bisa nonton di OTT. Yang sudah nonton di bioskop juga bisa nonton lagi. Jadi selalu berguna.”

Joko menyebut bahwa tidak ada yang spesial untuk memasukkan suatu film ke Netflix atau platform lainnya. “Yang punya film nawarin filmnya ke exhibitor, kalau harga cocok, ya tayang. Enggak ada yang spesial.” Di sisi lain, Kooswardini menegaskan bahwa masuknya suatu film ke Netflix “sangat tergantung pada si pemilik film.” Ia menambahkan, “Banyak pemilik film yang ingin mendapatkan banyak penonton dulu di bioskop, baru ke OTT platform. Enaknya platform kan film akan stay terus. Enggak akan terbatas dengan ‘wah, ngga ada layar bioskop lagi’.”

"Netflix terus ngobrol dengan berbagai production house di Indonesia untuk cari film yang cocok,” tambah Kooswardini.

Jika Anda mencari film Indonesia di Netflix, akan muncul sekitar 40-an judul. “Untuk lisensi (film Indonesia) bertambah terus angkanya,” ujar Kooswardini. Di sisi lain, karena memasukkan film ke Netflix murni perkara bisnis, soal harga yang cocok atau tidak, Joko Anwar menilai bahwa dengan jumlah judul seperti itu “mungkin OTT lain kasih harganya lebih tinggi ketimbang Netflix.”

Johnny G. Plate seharusnya tidak perlu khawatir soal konten lokal. Sebagai entitas bisnis yang hadir secara global Netflix memandang penting keberadaan konten lokal di katalognya. Jika tidak, seperti yang diutarakan Kooswardini, “Setiap saat, pelanggan Netflix mudah kok untuk berhenti berlangganan.”

Baca juga artikel terkait NETFLIX atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight