13 Oktober 1996

Joebaar Ajoeb: "Penindasan Ini akan Berjangka Panjang"

Iustrasi MOZAIK Joebaar Ajoeb. tirto.id/Sabit
Oleh: Zulkifli Songyanan - 13 Oktober 2020
Dibaca Normal 6 menit
Kisah Sekjen Lekra terakhir yang ditahan di penjara Salemba dan setelah bebas kerap dikunjungi anak-anak muda.
“Situasi pandemi ini mirip-mirip dengan situasi pasca Peristiwa 1965. Saya takut ketemu orang, tapi bedanya kalau dulu sumber ketakutannya kelihatan, intelnya jelas, sekarang tidak,” kata Putu diiringi tawa, setelah kami tersambung via telepon.

Putu Oka Sukanta, 81 tahun, tinggal di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Sudah delapan bulan ia tidak keluar rumah. Bahkan praktik pengobatan akupuntur yang ia kelola sejak 1978 terpaksa tutup akibat Covid-19.

Saya menghubunginya untuk bertanya soal Joebaar Ajoeb, salah seorang pendiri sekaligus sekretaris jenderal Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang terakhir.

“Saya gak tahu,” kata Putu, mengulang jawaban yang ia lontarkan kepada aparat militer 54 tahun lalu.

Bersama Nurlan (Martin Aleida), ia dijebloskan ke penjara pada Jumat malam 21 Oktober 1966. Saat diangkut tentara, keduanya beserta Arifin (pelukis yang bekerja di Sekretariat Negara urusan dekorasi), Mujio (pembantu rumah tangga), dan Zaini (pelajar sekolah menengah atas, adik pelukis Marah Djibal) baru selesai makan besar dengan menghabiskan 50 tusuk sate. Hidangan mewah itu dibeli Nurlan dari gaji pertamanya selama sepekan bekerja sebagai kuli bangunan.

Peristiwa itu ditulis Martin Aleida dalam memoarnya yang bertajuk Romantisme Tahun Kekerasan (2020). Martin juga menceritakan bahwa rumah yang ditempati Putu di Jalan Mangga Besar 101 disatroni tentara berkat bantuan Burhan Kumala Sakti, seorang anggota dewan nasional Pemuda Rakyat yang kemudian menjadi tukang tunjuk dan interogator pihak militer.

“Gak tahu. Saat ditangkap, saya memang gak tahu Bung Joeb ada di mana,” sambung Putu. Namun, saat ia dipindahkan dari kamp tahanan Operasi Kalong di Jalan Budi Kemuliaan ke penjara Salemba, barulah ia bertemu Joebaar Ajoeb.

“Saya sering dinasehati Bung Joeb kalau salah nyimpan barang. Dia juga sering mengingatkan saya agar tidak pecicilan. ‘Sebagian besar tahanan ini kan punya keluarga, punya anak, lihat orang sedih kok kamu malah kayak apa, keliaran begitu kayak kampungan saja’,” beber Putu, lagi-lagi diiringi tawa, mengingat masa-masa ia gemar membantah apa saja di dalam penjara.

Meski dalam urusan demikian ia kerap dinasihati Joebaar, tetapi dalam urusan lain Putu memandang Joebaar sebagai sahabat yang egaliter. Menurutnya, Joebaar yang kelahiran Bukittinggi, 16 Februari 1926 itu tak pernah menunjukkan posisi dirinya sebagai orang penting di Lekra saat bersua siapa pun. Di penjara, Putu kerap mendebat Joebaar yang usianya lebih tua 13 tahun. “Meski saya anggota Lekra dan dia sekjennya, gak ada hierarki di antara kami. Kalau harus debat ya debat saja,” ujarnya.

Pertemuan pertama Putu dengan Joebaar Ajoeb berlangsung sekira tahun 1963 dalam gelaran Konferensi Nasional Lembaga Sastra Indonesia di Belawan, Sumatera Utara. Kala itu, bersama Kusni Sulang dan lain-lain, Putu yang tinggal di Yogyakarta berangkat dari seketariat Lekra di Jalan Cidurian 19, Jakarta Pusat, ke Tanjung Priok untuk naik kapal laut. Selain Joebaar, sosok-sosok penting yang ditemui Putu di sana antara lain Pramoedya Ananta Toer dan Utuy Tatang Sontani.


“Dengan si Pram saya langsung akrab. Tapi dengan Bung Joeb saya tidak sempat berdekat-dekat. Dia sibuk sekali waktu itu,” ujarnya.

Meski demikian, jauh setelah acara di Belawan selesai dan Putu tinggal Bali, pentolan Lekra Oey Hay Djoen dan Basuki Effendi datang ke Pulau Dewata mengantar tamu kebudayaan dari Tiongkok. Keduanya bilang bahwa Putu yang pengangguran diminta Joebaar Ajoeb agar pindah ke Jakarta. “Benar atau tidak Bung Joeb yang pesan, saya tidak tahu. Yang jelas saya dikasih uang transport, dan beberapa minggu kemudian barulah ke Jakarta, nimbrung di sekretariat Lekra—rumah Djoen—kemudian pindah ke Mangga Besar 101.”

Di Jakarta, Putu bertemu Joebaar sesekali saja, terutama ketika ada acara. Hubungan keduanya kian akrab justru selepas keluar dari penjara, setelah 10 tahun ditahan tanpa proses pengadilan. “Kamu jangan lengah. Penindasan ini akan berjangka panjang,” demikian pesan Joebaar yang terngiang-ngiang di telinga Putu.

Jika Putu membuka jasa akupuntur dan Martin Aleida kemudian menjadi wartawan Tempo—bertahun-tahun setelah keluar penjara—Joebaar Ajoeb membuka kios fotokopi di sekitar Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Selain itu, Joebaar juga mendirikan penerbit In Kultra Foundation. Dua buku puisi Putu Oka Sukanta, Selat Bali (1982) dan antologi bilingual Salam atau Greetings (1985) terbit atas jasa Joebaar Ajoeb.

“Dia begitu luwes menerbitkan buku saya. Selat Bali ditaruh di Gunung Agung, sekali habis, tapi setelah itu mereka gak berani lagi menjualnya. Ya sudah, diedarkan saja dari tangan ke tangan, kayak tukeran. Kami gak perlu duitnya, kami hanya perlu dibaca orang,” ungkap Putu.


Organisator Ulung

Dalam sejumlah tulisan—salah satunya Hidup Tanpa Ijazah (2008)—Ajip Rosidi, sosok yang dikenal anti paham kiri hingga akhir hayatnya, selalu menyebut nama Joebaar Ajoeb, alumni Akademi Jurnalistik Jakarta, sepaket dengan A.S. Dharta, sekjen Lekra yang pertama. Kedua orang ini, menurut Ajip, adalah orang-orang yang selalu mendesakkan pandangannya untuk memengaruhi orang lain.

“Aku merasa bahwa keduanya mendekati kita hanya karena ada kepentingannya saja, sedangkan Boejoeng [Saleh] tidak memperlihatkan hal itu. Hubungan dengan Boejoeng adalah hubungan akrab sesama manusia, sedangkan Dharta dan Joebaar seperti hendak merekrut kita supaya menjadi anggota pasukannya. Aku sendiri tidak tertarik pada paham kiri,” tulis Ajip.

Berbeda dengan Ajip, Andi Achdian--doktor bidang sejarah dan editor pelaksana Jurnal Sejarah terbitan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI)--menganggap tak ada yang keliru dengan laku agitatif Joebaar.

“Tugas utama Joebaar sebagai organizer adalah membangun organisasi. Dia pasti akan banyak mendekati para seniman dan lain sebagainya untuk bergabung dengan Lekra di bawah pimpinannya. Itu pekerjaan yang memang harus dilakukan, jadi gak apa-apa, apalagi ada persaingan dalam konteks politik saat itu,” kata Andi, Minggu (11/10/2020).

Menurutnya, selama mengenal Joebaar ia tak menemukan sifat-sifat gemar memaksakan dalam diri penulis naskah drama Siti Jamilah (1956) itu. “Bung Joebaar hanya memberikan gambaran kepada lawan bicara, dan pendapatnya tentang pentingnya berorganisasi sangat masuk akal. Saya pribadi agak sulit mematahkan argumen-argumennya.”

Kepiawaian Joebaar dalam berorganisasi, sambung Andi, membuat Sukarno kesengsem. Bahkan di akhir periode kekuasannya, Bung Besar sempat menawari Joebaar posisi sekjen dalam partai yang hendak ia dirikan bersama Oe Tjoe Tat.


“Memang belum ada jawaban langsung dari Bung Joebaar, keburu terjadi Peristiwa 1965. Namun itu cukup menunjukkan bahwa kemampuannya dalam berorganisasi merupakan salah satu kelebihan yang diakui banyak pihak, dari dalam maupun luar negeri,” ujar Andi.

Pergaulan Joebaar terbilang luas. Ia tercatat beberapa kali menyambangi negeri orang dalam kapasitasnya sebagai budayawan sekaligus sekjen Lekra. Bersama Sitor Situmorang, misalnya, Joebaar memimpin Delegasi Pengarang Indonesia dalam Sidang Komite Eksekutif Himpungan Pengarang Asia-Afrika di Tokyo (1961). Dua tahun kemudian, ia menjadi Wakil Ketua Delegasi Pengarang Indonesia untuk Konferensi Pengarang Asia-Afrika II di Kairo. Sebelumnya, pada 1959, Joebaar bersama S. Anantaguna mewakili Lekra dalam Kongres Pengarang Uni Soviet di Moskow.

Ditanya kenapa bisa berkenalan dengan Joebaar, Andi mengatakan bahwa bagi mahasiswa aktivis tahun 1980-1990-an—dari kalangan kiri hingga kanan—hal demikian menjadi semacam keniscayaan.

“Joebaar Ajoeb adalah sosok yang sangat menarik bagi aktivis zaman itu. Meski secara politik dia tak bisa bergerak, orang-orang selalu mendatanginya untuk diskusi maupun minta saran atau pandangan atas persoalan-persoalan yang mereka hadapi,” beber Andi.

Dalam "Mengenang Oey Hay Djoen 1929-2008", Hilmar Farid menyebut kediaman Joebaar Ajoeb di Jalan Pemuda, Rawamangun, sebagai “tempat rawan”, yang justru seturut kesaksian Andi Achdian, menarik minat banyak orang. Tamunya dari luar negeri berasal dari Jepang, Australia, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, dan lain-lain.

“Bayangkan di usia sekitar 60-an, Bung Joeb didatangi terus oleh tamu. Dari sore dia sudah ngobrol, ngopi, dan ngerokok—rokoknya Gudang Garam merah, kretek. Sampai subuh pun dia tahan ngejabanin pembicaraan orang-orang,” kata Andi.

Setelah keluar dari penjara, Joebaar tetap terbuka kepada siapa saja, terutama kepada anak-anak muda pro demokrasi. Selain Hilmar Farid dan Andi Achdian, nama lain yang kerap datang ke situ adalah Agus Edy Santoso alias Agus Lennon. Aktivis yang wafat pada 10 Januari lalu ini merupakan sosok di balik penerbitan buku Joebaar, Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia, salah satu sumber penting untuk membaca Lekra “dari dalam”.

“Mocopat Kebudayaan yang ditulis oleh Joebaar Ajoeb tahun 1990 ini adalah sebuah pertanggungjawaban pribadi. Ia berusaha menerangkan berbagai peristiwa budaya, terutama di era 1960-an, dari sudut pandang pribadinya sebagai Sekretaris Umum Lekra sejak 1957,” tulis Alex Supratono dalam skripsinya, Lekra vs Manikebu.

Di buku itu pula Joebaar menegaskan sikapnya tentang hubungan Lekra dengan PKI, wilayah kerjanya, keterkaitannya dengan angkatan ’45 dan Taman Siswa, hingga memaparkan bagaimana orang di luar Lekra, yakni Soedjatmoko dan Achdiat Kartamihardja, melihat Realisme Sosialis.

“Lewat paparan ini, Joebaar ingin menjelaskan berbagai kesalahpahaman tentang Lekra, dan ingin kembali menegaskan apa yang sebenarnya ingin diraih Lekra dalam rangka pembangunan kebudayaan nasional,” tulis Alex.




Menolak Seruan PKI

Joebaar berpandangan, Lekra dan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dua lembaga yang berlainan. Ketika muncul gagasan agar Lekra menjadi organisasi underbouw PKI jelang akhir tahun 1964, Joebaar, seperti halnya Njoto, menolaknya.

“Anda mungkin tahu atau ingat, PKI di tahun itu sedang bugar-bugarnya. Dan Lekra berhasil menentang penguasaan PKI secara organik atas dirinya, sampai, katakanlah 1 Oktober 1965,” terang Joebaar dalam "Lekra dan PKI: Politik adalah Panglima".

Selama proses penolakan itu pula pertentangan antara Lekra dan PKI mengemuka, salah satunya tampak pada digelarnya kegiatan Konferensi Sastra dan Seni PKI, agenda yang disebut Joebaar telah terang-terangan memperbedakan Lekra dengan PKI di bidang kebudayaan.

“Ironisnya malah terjadi di tahun-tahun sesudah 65. Banyak sajalah orang mem-PKI-kan Lekra sehingga yang terjadi adalah, jika D.N. Aidit tidak berhasil, orang lain yang padahal atau tampak seperti anti PKI malah 'berhasil' mem-PKI-kan Lekra,” sambungnya.

Mengenai jargon politik adalah panglima yang kerap diasosiasikan orang terhadap sikap tunduk Lekra di hadapan PKI, Joebaar menegaskan bahwa pengertian politik dalam jargon itu tidak berarti partai. Konotasi politik di situ, terang Joebaar, “adalah wawasan, bukan lembaga atau orang, apa pun ia.”

Terkait buku Joebaar, budayawan Umar Kayyam melempar komentar ringan, “Itu cuma dalih saja untuk membersihkan diri.”

Putu menyebut tidak ada keterangan final apakah Lekra bagian dari PKI atau bukan. Pendapat Joebaar dan Njoto di satu sisi berseberangan dengan pendirian Basuki Resobowo dan D.N. Aidit di sisi lainnya. Di mata Putu, demikianlah salah satu kultur di Lekra saat membicarakan persoalan. “Semua pihak setara. Tidak ada orang yang merasa punya hak otoriter untuk memutuskan sesuatu.”

Lepas dari pendiriannya soal Lekra bukan bagian dari PKI, ada hal nyeleneh dalam diri Joebaar yang diingat Putu saat dirinya mengutuki salah satu aturan Orde Baru, yakni keharusan adanya cap Eks Tapol (ET) dalam KTP.

“Dia malah bilang lebih bagus begitu, biar jelas. Daripada tidak diketahui,” ujarnya. Putu menduga, ungkapan itu boleh jadi terlontar dari mulut Joebaar demi menenangkan hatinya semata.


Sebagai sastrawan, Joebaar produktif menulis kritik dan esai. Beberapa tulisannya antara lain “Idrus dan Surabaya”, “Seni Untuk Rakyat” (polemik dengan penyair Haryadi S. Hartowardoyo dan Putu Shanti di rubrik Gelanggang majalah Siasat), “Belenggu Armijn Pane”, “Realisme Kita Dewasa ini”, “Kritik Atas Kumpulan Sajak Nasi dan Melati” terbitan Lekra Surabaya, dan lain-lain.

Pada 1980-an, Joebaar lebih giat menerjemahkan. “Kalau anda baca Keluarga Jawa karya Hildred Geertz, versi bahasa Indonesianya sangat menarik,” kata Andi Achdian, menyebut salah satu hasil terjemahan Joebaar Ajoeb.

Selain itu, karya terjemahannya yang lain adalah “Annal Haq Mansur Al Hallaj” (dikerjakan bersama panyair HR Bandaharo), “Sufi Martir”, “Filsafat Parsi Moh. Iqbal”, “Tentang Yerusalem” (tinjauan hukum internasional dan politik), “Industri dan Perdagangan di Indonesia”, “Aceh di Jaman Jepang”, dan lain sebagainya.

Minggu, 13 Oktober 1996, tepat hari ini 24 tahun lalu, Joebaar Ajoeb meninggal dunia di Bandung. Dua pekan sebelum Joebaar wafat, Putu Oka masih sempat menengoknya di rumah sakit, bahkan beberapa kali pernah menusuk (akupuntur) Joebaar saat ia berada dalam perawatan keluarganya.

“Saya tahu Bung Joeb meninggal beberapa hari setelahnya, sehingga tidak sempat ikut mengantar ke liang lahad. Teman yang datang ke sana bilang, pemakaman hanya dihadiri pihak keluarga.”

Joebaar meninggal tanpa sempat menyaksikan Soeharto tumbang. Itulah kenapa pesan kepada Putu agar tidak lengah sebab penindasan Orde Baru akan berjangka panjang, bagi Joebaar sendiri, menjadi sangat relevan.

Baca juga artikel terkait LEKRA atau tulisan menarik lainnya Zulkifli Songyanan
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zulkifli Songyanan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight